herbal medicine
Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi masalah kesehatan
yang sangat serius salah satunya yaitu hipertensi yang dapat
menyerang siapa saja, baik muda maupun tua, disebut juga sebagai
the silent killer . Di Amerika, diperkirakan 1 dari
4 orang dewasa menderita hipertensi. Dari beberapa penelitian
dilaporkan bahwa penyakit hipertensi yang tidak terkontrol dapat
memicu peluang 7 kali lebih besar terkena stroke, 6 kali lebih
besar terkena congestiveheart failure dan 3 kali lebih besar terkena
serangan jantung Hipertensi juga merupakan
salah satu penyakit degeneratif, umumnya tekanan darah bertambah
secara perlahan seiring dengan bertambahnya umur Tekanan darah tinggi (hipertensi) merupakan suatu
keadaan dimana tekanan darah seseorang ≥140 mmHg (sistolik) dan/
atau ≥ 90 mmHg
Peningkatan tekanan darah pada penderita hipertensi terjadi
di pembuluh arteri yang merupakan bagian perpanjangan dari
pembuluh darah jantung. Apabila jantung bekerja secara berlebihan
dengan kekuatan memompa yang lebih kuat dari biasanya, darah
yang dialirkan akan lebih banyak. Hal ini memicu terjadinya
tekanan darah yang berlebih di arteri. Dengan demikian, arteri akan
menjadi tidak lentur dan berubah menjadi kaku. Pada kondisi ini,
pembuluh darah arteri tidak dapat mengembang secara sempurna
pada saat jantung memompa darah melalui arteri ini sehingga
darah yang dipompakan terpaksa melewati saluran pembuluh yang
sempit sehingga memicu terjadinya kenaikan tekanan darah
Hipertensi merupakan penyakit yang tidak ditularkan dari
individu ke individu lain dan bersifat kronis, penyakit ini pada
umumnya berkembang secara lambat dan memiliki durasi yang
panjang. Faktor risiko hipertensi diklasifikasikan menjadi faktor
risiko yang dapat diubah dan faktor risiko yang tidak dapat diubah.
Faktor risiko yang dapat diubah antara lain stress, obesitas atau
kegemukan, kebiasaan merokok, kebiasaan minum alkohol, aktifitas
fisik, konsumsi lemak dan garam yang berlebih. sedang riwayat
keluarga, usia, jenis kelamin, dan ras yaitu faktor risiko yang tidak
dapat di ubah
Proporsi kematian di dunia hampir 70% pemicu nya yaitu
PTM. berdasar Global Noncommunicable Desease (NCD)
dilaporkan bahwa pada tahun 2012 sebesar 68% pemicu kematian
di semua kelompok umur yaitu sebab penyakit tidak menular.
Data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan
sekitar 1,13 miliar orang di dunia menderita hipertensi. Artinya1 dari
3 orang di dunia terdiagnosis menderita hipertensi. Jumlah penderita
hipertensi di dunia diperkirakan pada 2025 akan menjadi 1,5 miliar
orang terkena hipertensi. Diperkirakan juga setiap tahun ada 9,4%
juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasi (World
Health Organization, 2015). Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) tahun
2018 menyatakan bahwa prevalensi hipertensi berdasar hasi
pengukuran pada penduduk usia 18 tahun sebesar 34,1% tertinggi
di Kalimantan Selatan 44.1%, dan terendah di Papua sebesar 22,2%,
sedang Sulawesi Selatan 32%
(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi)
Berkembangnya hipertensi sangat dipengaruhi oleh banyak
faktor, antara lain kurangnya aktifitas fisik, kebiasaan merokok, stress,
riwayat keluarga, dan kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi
lemak hewani, kurangnya serat, tinggi natrium dan rendah kalium.
Faktor risiko ini pada umumnya disebabkan pola hidup (life
style) yang tidak sehat. Faktor sosial budaya warga negara kita
berbeda dengan sosial budaya warga di negara maju. Tekanan
darah dapat di kontrol dengan menghindari makanan yang terlalu
asing atau terlalu banyak mengandung natrium seperti makanan
diolah dengan monosodium glutame (MSG) (Muliyati dkk., 2010).
Upaya pengobatan hipertensi dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu pengobatan farmakolgi dan non farmakologi. Pengobatan
farmakologi dilakukan dengan pemberian obat yang bersifat diuretik,
simpatetik, betablocker, dan vasodilator dengan memperhatikan
tempat, mekanisme kerja dan tingkat kepatuhan. Pengobatan
hipertensi dengan menggunakan obat-obatan sintetik dalam jangka
panjang dapat memicu efek yang kurang baik bagi kesehatan
diantaranya seperti kelelahan, pusing, batuk, sering buang air kecil,
retensi cairan, disfungsi seksual, detak jantung tidak normal, dan
alergi (Dafriani, 2019). Biaya pengobatan hipertensi juga terbilang
mahal. Selain itu terapi farmakologis menggunakan obat sintetik
memerlukan kepatuhan dalam mengkonsumsi obat agar obat
ini dapat berkerja maksimal. sedang pengobatan secara non
farmakologi meliputi penurunan berat badan, olahraga teratur, diet,
dan terapi komplementer. Terapi komplementer merupakan terapi
yang yang mengacu pada pengobatan alamiah, salah satunya terapi
herbal
berdasar data Riskesdas 2018 terkait proporsi riwayat
minum obat dan alasan tidak minum obat pada penduduk hipertensi
berdasar diagnosis dokter atau minum obat dari 8,8% penderita
hipertensi 32,3% tidak rutin, 13,3% tidak minum obat, dan 54,4%
3BAB I
rutin. Minum obat tradisional, tidak mampu beli obat rutin, obat
tidak tersedia di fasilitas kesehatan dan tidak tahan efek samping obat
yaitu beberapa alasan penderita tidak rutin dan tidak minum obat
(Riskesdas, 2018). Ketersediaan dan tingkat kepercayaan warga
terhadap pengobatan farmakologi yang rendah, diperlukan alternatif
dalam mengatasi hipertensi sehingga pengobatan komplementer
seperti pemanfaatan terhadap tanaman lokal memiliki peran yang
penting. Pengobatan tradisional diterapkan sebab alasan mudah,
murah dan manjur serta sesuai dengan kerangka berpikir individu
dalam rumah tangga. Fakta yang menarik yaitu sekitar 80% dari
tanaman obat yang ada di dunia tumbuh di negara kita , sehingga
bahan yang dibutuhkan untuk pengobatan yang berasal dari alam ini
dapat dengan mudah ditemukan
Belimbing wuluh sering disebut belimbing sayur atau belimbing
asam sebab memiliki rasa yang cukup asam dan biasanya digunakan
sebagai bumbu masakan atau ramuan jamu . Nama ilmiah belimbing
wuluh yaitu Averrhoa Bilimbi L , Belimbing
wuluh telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk
pengobatan berbagai penyakit yaitu digunakan sebagai antibakteri.
Terdapat senyawa fitokimia yang terkandung dalam ekstrak etanol
daun belimbing wuluh telah berhasil diidentifikasi yang meliputi
saponin, tanin, steroid, flavonoid dan alkoloid. Kadar total fenol
dan flavonoid ekstrak daun belimbing wuluh dapat ditentukan dan
berpotensi menjadi salah satu sumber antioksidan dan antiinflamasi
alami, sebab memiliki aktivitas antioksidan yang tergolong sangat
kuat serta menunjukkan adanya aktivitas antiinflamasi
Penggunaan tanaman lokal sebagai bahan pengobatan ditengah-
tengah warga yaitu hal yang perlu dipromosikan dan
digunakan sebagai upaya pencegahan dan pengobatan warga
penderita hipertensi yang murah. Daun belimbing wuluh merupakan
(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi)
alternatif yang baik mengingat daun belimbing mudah didapatkan
oleh warga dan masih banyak warga yang belum
mengetahui manfaat dari tanaman belimbing wuluh. berdasar
telaah jurnal penelitian terdahulu menemukan bahwa pemanfaatan
daun belimbing wuluh dengan cara di seduh atau di buat menjadi
rebusan air daun belimbing.
Bagian tanaman belimbing wuluh yang dapat digunakan
sebagai anti hipertensi diantaranya yaitu daun dan buahnya . Daun belimbing wuluh merupakan salah satu
obat asli negara kita yang sudah digunakan sejak dulu, jauh sebelum
pelayanan kesehatan formal dengan obat-obat modern yang sekarang
telah digunakan oleh warga secara luas. Ekstrak daun belimbing
wuluh mengandung senyawa golongan tannin, flavonoid dan triterpen
yang memiliki aktivitas farmakologi bagi manusia (Aryantini dkk,
2017). warga menggunakan daun belimbing wuluh ini antara
lain untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri, menurunkan kadar gula
darah, bunganya juga dapat digunakan sebagai obat batuk dan perasan
air buah sangat baik untuk asupan vitamin C (Afifi dkk, 2018).
Pada penelitian sebelumnya percobaan pada manusia masih
sangat minim sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian
dengan membuat daun belimbing wuluh yang akan dijadikan dalam
bentuk teh sebab lebih praktis, mudah, dan suatu cara modern baru
untuk minum teh dibandingkan dengan seduhan langsung dalam
bentuk daun belimbing.
Teh yaitu minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia
sejak zaman dulu. Data komite teh international menunjukkan tren
mengkonsumsi teh global selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada
tahun 2018 konsumsi teh global meningkat 13,9% dari tahun 2014.
negara kita berada di urutan ke 10 dalam konsumsi teh terbesar di
dunia (Prasetia dkk, 2020). Terdapat dua jenis teh secara umum yaitu
teh yang terbuat dari daun camelia sinensis dan teh herbal yang terbuat
5BAB I
selain dari daun camelia sinensis yang biasanya digunakan sebagai
pengobatan. Dalam pembuatan produk baru teh daun belimbing
wuluh perlu melewati beberapa uji terlebih dahulu sebelum dilakukan
uji efektivitas untuk melihat bagaimana pengaruhnya di lapangan
seperti uji daya terima, uji umur simpan, dan uji laboratorium untuk
kandungan zat gizi.
Teh dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu teh herbal
dan non herbal. Teh non herbal dikelompokkan lagi menjadi tiga
golongan yaitu teh hitam, teh hijau dan teh oolong. Minuman
teh yaitu minuman yang paling banyak dikonsumsi warga
negara kita sebab rasanya yang segar sehingga dalam penelitian
ini pemanfaatan daunnya dijadikan produk teh yang dinilai lebih
modern dan praktis.
Melihat dari tingginya tingkat kesukaan warga terhadap
teh dan potensi pemanfaat dari tanaman lokal daun belimbing wuluh
terhadap kejadian hipertensi, maka dari itu perlu dibuat produk the
dari tanaman belimbing wuluh untuk lebih memudahkan konsumsi
tanaman herbal sebagai upaya untuk mengobati ataupun mencegah
terjadinya hipertensi.
(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi)
KONSEP DASAR HERBAL MEDICINE
Obat herbal atau herbal medicine didefinisikan sebagai bahan
baku atau sediaan yang berasal dari tumbuhan yang memiliki
efek terapi atau efek lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia;
komposisinya dapat berupa bahan mentah atau bahan yang telah
mengalami proses lebih lanjut yang berasal dari satu jenis tumbuhan
atau lebih. Sediaan herbal diproduksi melalui proses ekstraksi,
fraksinasi, purifikasi, pemekatan atau proses fisika lainnya; atau
diproduksi melalui proses biologi. Sediaan herbal dapat dikonsumsi
secara langsung atau digunakan sebagai bahan baku produk herbal.
Produk herbal dapat berisi eksipien atau bahan inert sebagai tambahan
bahan aktif.
Obat herbal telah diterima secara luas di negara berkembang dan
di negara maju. Menurut WHO, hingga 65 % dari penduduk negara
maju dan 80 % penduduk negara berkembang telah menggunakan
obat herbal. Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan
obat herbal di negara maju yaitu : i) meningkatnya usia harapan
hidup pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat, ii) adanya
kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu seperti
kanker, serta iii) semakin meluasnya akses informasi obat herbal di
seluruh dunia.
7
Obat herbal atau herbal medicine didefinisikan sebagai bahan
baku atau sediaan yang berasal dari tumbuhan yang memiliki efek
terapi atau efek lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia;
komposisinya dapat berupa bahan mentah atau bahan yang telah
mengalami proses lebih lanjut yang berasal dari satu jenis tumbuhan
atau lebih.
Sediaan herbal diproduksi melalui proses ekstraksi, fraksinasi,
purifikasi, pemekatan atau proses fisika lainnya; atau diproduksi
melalui proses biologi. Sediaan herbal dapat dikonsumsi secara
langsung atau digunakan sebagai bahan baku produk herbal. Produk
herbal dapat berisi eksipien atau bahan inert sebagai tambahan bahan
aktif. Obat herbal telah diterima secara luas di negara berkembang dan
di negara maju. Menurut WHO, hingga 65 % dari penduduk negara
maju dan 80 % penduduk negara berkembang telah menggunakan
obat herbal. Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan
obat herbal di negara maju yaitu : i) meningkatnya usia harapan
hidup pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat, ii) adanya
kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu seperti
kanker, serta iii) semakin meluasnya akses informasi obat herbal di
seluruh dunia (Sukandar, 2004).
Tumbuhan herbal yaitu tumbuhan atau tanaman obat yang dapat
dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional terhadap penyakit. Sejak
zaman dahulu, tumbuhan herbal berkhasiat obat sudah dimanfaatkan
oleh warga Jawa. Pengobatan tradisional terhadap penyakit
ini menggunakan ramuanramuan dengan bahan dasar dari
tumbuhtumbuhan dan segala sesuatu yang berada di alam. Sampai
sekarang, hal itu banyak diminati oleh warga sebab biasanya
bahan-bahannya dapat ditemukan dengan mudah di lingkungan
sekitar. Pengobatan tradisional terhadap penyaktit dengan tumbuhan
herbal atau sering disebut itoterapi atau pengobatan dengan jamu
(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi)
merupakan pengobatan tradisional khas Jawa yang berasal dari nenek
moyang.
negara kita merupakan negara tropis dengan jumlah tanaman
yang sangat banyak. Keanekaragaman hayati negara kita merupakan
nomor dua sesudah Brasilia. Sekitar 80% tanaman yang ada didunia
berada di negara kita . Diperkirakan terdapat 25.000-30.000 spesies
tanaman di negara kita . Penggunaan obat tradisional oleh nenek
moyang bangsa negara kita telah berlangsung lama. Beberapa relief
yang ada di candi Borobudur menjadi bukti hal ini. Dugaan ini juga
diperkuat dengan ditemukan resep tanaman obat yang ditulis tahun
991-1016 pada daun lontar di Bali (Sutrisna, 2016).
Semakin berkembanganya penyakit degeneratif dan semakin
banyaknya laporan efek samping obat modern membuat trend
kembali ke alam untuk pengobatan meningkat. Sudah maklum
bahwa penyakit degeneratif merupakan penyakit yang bersifat
kronis, reversible dan diperlukan pengobatan yang terus menerus.
Terdapat kesadaran juga usaha-usaha mencegah munculnya penyakit
degeneratif ini . Dalam kaedah farmakologi, suatu obat pasti
memiliki efek samping. Yang membedakan antara obat sintetis
dengan obat tradisonal yaitu besarnya frekuensi dan beratnya
efek sampaing yang timbul akibat pemberian obat ini . Telah
dimaklumi bahwa obat sintetis beresiko memicu efek samping
lebih besar dari pada obat tradisional, walaupun juga memiliki efek
utama lebih kuat dari obat tradisional. Hal ini dapat dimengerti
sebab obat sintetis merupakan senyawa aktif murni, sedang
obat tradisonal merupakan ekstrak yang terdiri dari banyak senyawa
dengan kadar kandungan kimia tertentu. Berdasar inilah kemudian
warga banyak mulai menggunakan obat tradisional untuk
mengobati penyakit atau mencegah penyakit terutama penyakit
degeneratif.
9BAB II
negara kita merupakan negara dengan biodeversitas terbesar kedua
sesudah Brazilia. Jumlah jenis tanaman di negara kita diperkirakan
lebih dari 30.000. Sekitar 7500 merupakan tanaman obat. Baru sekitar
kurang dari 2000 tanaman obat telah diidentifi kasi. warga
baru menggunakan 1200 jenis tanaman obat, sedang industri baru
memanfaatkan sekitar 300 jenis. Data ini menunjukkan betapa masih
terbuka sangat luas pemanfaatan tanaman obat untuk dikembangkan
sebagai obat tradisional. Obat herbal ternyata bukan hanya digunakan
dinegara berkembang tetapi juga mulai digunakan di negara maju.
Data WHO menyatakan bahwa obat herbal digunakan sekitar 60%
penduduk di negara maju, dan sekiatar 80% penduduk negara
berkembang.
Obat bahan alam (herbal) yaitu obat yang mengandung bahan
aktif yang berasal dari tanaman dan atau sediaan obat dari tanaman.
Tanaman obat atau sediaannya secara keseluruhan dipandang sebagai
bahan aktif. Sediaan tanaman obat yaitu bahan tanaman yang sudah
dihaluskan atau berbentuk serbuk, ekstrak, tinktura, minyak lemak
atau minyak atsiri. Hasil perasan yang dibuat dari tanaman obat,
dimana pembuatannya melibatkan proses fraksinasi, pemurnian, dan
pemekatan.
Dalam tanaman ada dua macam metabolisma yaitu primer
dan sekunder. Proses metabolisma primer menghasilkan senyawa-
senyawa yang dibutuhkan untuk proses biosintesis sehari-hari,
seperti karbohidrat, protein, lemak, dan asam nukleat. sedang
proses metabolisma sekunder menghasilkan senyawa-senyawa
seperti alkaloid, terpenoid, flavonoid, tanin, dan steroid. Senyawa
hasil metabolisma sekunder (metabolit sekunder) diproduksi sebagai
benteng pertahanan tumbuhan dari pengaruh lingkungan atau hama
penyakit. Fungsi metabolit sekunder ialah melindungi tanaman dari
serangan mikroba dengan membentuk fitoaleksin yaitu senyawa yang
disintesis di sekitar sel yang terinfeksi, untuk pertahanan terhadap
(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi)
herbivora atau predator lainnya, dan melindungi tanaman dari
terpaan sinar matahari.
Berdasar efikasinya, maka kelas obat herbal fitofarmaka
menempati posisi paling atas dibanding kelas lainnya. Pemerintah
mendorong pengembangan obat tradisional menjadi kelas fitofarmaka.
PERMENKES no 760 tahun 1992 menyatakan bahwa fitofarmaka
merupakan sediaan obat tradisional yang telah dibuktikan khasiat
dan keamanannya yang bahan bakunya berasal dari simplisia atau
sediaan galenik yang memenuhi persyaratan tertentu. Fitofarmaka
mensyaratkan adanya uji klinik pada manusia. Bahan baku
fitofarmaka bisa berasal dari 1 atau lebih simplisia yang masing-masing
simplisia telah diuji keamanan dan khasiatnya berdasar uji klinis.
Meningkatnya trend back to nature disebabkan beberapa hal, antara
lain: ketersediaan bahan obat tradisional yang melimpah, banyaknya
laporan efek samping penggunaan obat modern, beberapa penyakit
kronis atau ganas yang gagal pengobatan dengan obat modern dan
arena meluasnya akses informasi tentang obat tradisional. Badan
kesehatan dunia WHO juga telah merekomendasikan penggunaan
obat-obat herbal untuk pemeliharaan kesehatan warga ,
pencegahan penyakit maupun pengobatan penyakit. Jenis penyakit
yang direkomendasikan penggunaan obat tradisional antara lain
penyakit degeneratif, penyakit kronis maupun komplenter untuk
kanker
Tidak mudah memobilisasi warga untuk menggunakan
obat tradisional jika kepercayaan warga ini belum tumbuh.
Beberapa hal yang harus dilakukan para pengembang obat tradisional
yaitu meyakinkan para pengguna atau stake holder (dokter) bahwa
ada bukti nyata (evidence base) tentang manfaat obat tradisional
dan bukti keamanaannya. Beberapa langkah ini antara lain:
meningkatkan kelas obat tradisional dari hanya sekedar jamu
menjadi kelas fitofarmaka. Hal ini bisa dilakukan dengan serangkaian
penelitian yang melibatkan uji praklinis maupun uji klinis.
Keunggulan obat tradisional/obat bahan alam dibanding obat
modern atara lain:
1. Adanya banyak senyawa aktif dalam obat bahan alam sehingga
memicu efek komplementer/saling melengkapi
2. sebab banyak senywa aktif, maka memungkinkan obat bahan
alam memiliki banyak efek farmakologis
3. sebab sebagain besar obat tardisonal dalam bentuk crude
extract/ ekstrak kasar maka kandungan senyawa juga relatif
sedikit tetapi banyak macamnya. Hal ini memicu jika
muncul efek samping relatif ringan
Kelemahan obat tradisional:
1. Masih sedikit obat tradisional yang sudah dibuktikan dengan
penelitian ilmiah dalam bentuk uji klinis
2. Kurangnya standarisasi bahan obat tradisional
3. Resistensi dari para pelaku kesehatan /dokter sebab belum
adanya uji klinis tadi
(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi)
KONSEP DASAR HIPERTENSI
PENGERTIAN HIPERTENSI
Hipertensi merupakan penyakit yang dapat menyerang siapa saja,
tanpa memandang usia atau jenis kelamin. Hipertensi juga sering
disebut sebagai silent killer sebab merupakan penyakit yang
mematikan. Faktanya, tekanan darah tinggi tidak secara langsung
membunuh pasien, tetapi tekanan darah tinggi dapat memicu
penyakit fatal lainnya dan meningkatkan risiko serangan jantung,
gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal
Menurut American Society of Hypertension (ASH) hipertensi
yaitu suatu sindrom atau kumpulan gejala kardiovaskuler yang
progresif sebagai akibat dari kondisi lain yang kompleks dan
saling berhubungan, WHO menyatakan hipertensi merupakan
peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160
mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebih besar 95 mmHg,
(JNC VII) berpendapat hipertensi yaitu peningkatan tekanan darah
diatas 140/90 mmHg, sedang menurut Brunner dan Suddarth
hipertensi juga diartikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan darahnya diatas 140/90 mmHg. Dari uraian ini dapat
disimpulkan bahwa hipertensi merupakan peningkatan tekanan
darah sistolik yang persisten diatas 140 mmHg sebagai akibat dari
kondisi lain yang kompleks dan saling berhubungan
KLASIFIKASI HIPERTENSI
Tabel 1 Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC (Joint National Committe on
Prevention, Detection, Evaluatin, and Treatment of High Blood
Pressure).
Kategori Tekanan Darah
menurut JNC 7
Tekanan Darah Sistol
(mmHg)
Tekanan Darah Diastol
(mmHg)
Normal < 120 < 80
Pra-Hipertensi 120 – 139 80-89
Hipertensi:
Tahap 1 140 – 159 90-99
Tahap 2 ≥ 160 ≥ 100
Sumber: (JNC 2003 ,7)
Tabel diatas menyediakan klasifikasi Tekanan Darah untuk orang
dewasa berusia 18 tahun ke atas. Klasifikasi didasarkan pada rata-rata
dua atau lebih pembacaan Tekanan Darah yang diukur dengan benar
pada masing-masing dari dua kali kunjungan atau lebih. Berbeda
dengan klasifikasi yang disediakan dalam laporan JNC 6, prehipertensi
kategori baru yang ditunjuk telah ditambahkan, dan hipertensi tahap
2 dan 3 telah digabungkan. Pasien dengan prehipertensi berisiko
meningkat untuk perkembangan hipertensi. Mereka yang berada
dalam rentang Tekanan Darah 130–139/80–89 mmHg berisiko dua
kali lipat untuk mengembangkan hipertensi seperti mereka yang
memiliki nilai lebih rendah
PATOFISIOLOGI HIPERTENSI
Mekanisme terjadinya hipertensi yaitu melalui terbentuknya
angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin converting enzyme
(ACE). ACE memegang peran fisiologis yang sangat penting terutama
dalam mengatur tekanan darah dalam tubuh. Darah mengandung
(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi)
angiotensinogen yang diproduksi oleh hati. Selanjutnya oleh adanya
hormon, renin (yang diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi
angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I
diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki
peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aktivitas
utama
Aksi pertama yaitu meningkatkan sekresi hormon antidiuretik
(ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar
pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan
volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin
yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi
pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume
cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan
dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat
yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Untuk
mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan
dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler
Aktivitas kedua yaitu menstimulasi sekresi aldosteron dari
korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang
memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan
ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam)
dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi
NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume
cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume
dan tekanan darah
GEJALA KLINIS HIPERTENSI
Sebagian besar tanpa disertai gejala yang mencolok dan manifestasi
klinis timbul sesudah mengetahui hipertensi bertahun-tahun berupa:
1. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan
muntah, akibat tekanan darah intrakranium.
2. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina sebab hipertensi.
3. Ayunan langkah tidak mantap sebab kerusakan susunan syaraf.
4. Nokturia sebab peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi
glomerolus.
5. Edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler.
6. Peninggian tekanan darah kadang merupakan satu-satunya gejala,
terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung. Gejala
lain yaitu sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdengung,
rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunangkunang dan
pusing.
DIAGNOSIS HIPERTENSI
Evaluasi terhadap diagnose pasien hipertensi perlu dilakukan untuk
beberapa tujuan:
1. Mengidentifikasi pemicu hipertensi.
2. Menilai adanya kerusakan organ target dan penyakit
kardiovaskuler, beratnya penyakit, serta respon terhadap
pengobatan.
3. Mengidentifikasi adanya faktor risiko kardiovaskuler yang lain
atau penyakit penyerta, yang ikut menentukan prognosis dan
ikut menentukan panduan pengobatan.
4. Data pasien hipertensi dapat diperoleh dengan cara anamnesis,
pemeriksaan fisis, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan
penunjang. Peningkatan tekanan darah sering merupakan satu-
(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi)
satunya tanda klinis hipertensi primer, sehingga diperlukan
pengukuran tekanan darah yang akurat.
5. Anamnesis yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama
menderitanya, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang berkaitan
seperti penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskuler dan
lainnya. Apakah terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, gejala
yang berkaitan dengan penyakit hipertensi, perubahan aktifitas
atau kebiasaan (seperti merokok, konsumsi makanan, riwayat
dan faktor psikososial lingkungan keluarga, pekerjaan, dan lain-
lain). Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan
darah dua kali atau lebih dengan jarak dua menit, kemudian
diperiksa ulang dengan kontrolatera.
PENGUKURAN TEKANAN DARAH
Digital sphygmomanometer saat ini merupakan alat yang sering
digunakan di berbagai sentra kesehatan sebab dianggap lebih
mudah digunakan dan tidak membutuhkan keahlian khusus dalam
aplikasinya. Digital sphygmomanometer memiliki pompa udara yang
digerakkan oleh microprocessor. Microprocessor akan memompa
udara secara otomatis ke dalam manset sekitar 20 mmHg di atas
tekanan sistolik rata-rata (sekitar 120 mmHg), sesudah microprocessor
menangkap tekanan telah cukup, secara otomatis knob pada tensimeter
akan mengendur dan tekanan udara didalam manset akan turun
secara perlahan. Saat proses pengempesan ini berlangsung,
akan muncul gelombang osilometrik yang akan direkam oleh alat.
Gelombang osilometrik inilah yang dikonversi secara otomatis oleh
alat sebagai tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, tekanan
nadi, serta mean arterial pressure (MAP). Titik dimana gelombang
osilometrik muncul pertama kali akan terbaca sebagai tekanan
darah sistolik, sedang titik di mana gelombang osilometrik mulai
menghilang akan terbaca sebagai tekanan darah diastolic
FAKTOR RISIKO HIPERTENSI
Faktor pemicu hipertensi dibedakan atas:
1. Faktor yang tidak dapat diubah/dikontrol
a. Umur
Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua
seseorang semakin besar risiko terserang hipertensi. Umur
lebih dari 40 tahun mempunyai risiko terkena hipertensi.
Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi lebih
besar sehingga prevalensi hipertensi dikalangan usia lanjut
cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50
% diatas umur 60 tahun. Arteri kehilangan elastisitasnya atau
kelenturannya dan tekanan darah seiring bertambahnya usia,
kebanyakan orang hipertensinya meningkat ketika berumur
lima puluhan dan enam puluhan
Hipertensi dialami oleh kelompok umur 31-55 tahun
dan umumnya berisiko lebih tinggi pada usia lebih dari
40 tahun. Bahkan kejadian hipertensi lebih tinggi pada
usia lebih dari 60 tahun. Secara fisiologis, keterkaitan
usia dengan peningkatan tekanan darah sebab adanya
perubahan elastisitas dinding pembuluh darah dari waktu
ke waktu, proliferasi kolagen, dan deposit kalsium yang
berhubungan dengan arterosklerosis. Jika hal ini
diikuti dengan tingginya tekanan darah yang persisten maka
akan memicu kekakuan pada arterial sentral
Dengan bertambahnya umur, risiko terjadinya hipertensi
meningkat. Peningkatan umur akan memicu beberapa
perubahan fisiologis, pada usia lanjut terjadi peningkatan
resistensi perifer dan aktivitas simpatik. Pengaturan
tekanan darah yaitu reflex baroreseptor pada usia lanjut
sensitivitasnya sudah berkurang, sedang peran ginjal
juga sudah berkurang dimana aliran darah ginjal dan laju
filtrasi glomerulus menurun Meskipun
hipertensi bisa terjadi pada segala usia, namun paling sering
dijumpai pada orang berusia 35 tahun atau lebih. Sebenarnya
wajar bila tekanan darah sedikit meningkat dengan
bertambahnya umur. Hal ini disebabkan oleh perubahan
alami pada jantung, pembuluh darah dan hormon. Tetapi
bila perubahan ini disertai faktor-faktor lain maka bisa
memicu terjadinya hipertensi
b. Jenis Kelamin
Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh
hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar
High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL
yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah
terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen
dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada
usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai
kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang
selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan.
Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen ini
berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara
alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-
55 tahun
c. Genetik
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan
memicu keluarga ini mempunyai risiko
menderita hipertensi. Individu dengan orang tua hipertensi
19BAB III
mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita
hipertensi daripada individu yang tidak mempunyai keluarga
dengan riwayat hipertensi. Ada baiknya mulai sekarang
kita memeriksa riwayat kesehatan keluarga sehingga kita
dapat melakukan antisipasi dan pencegahan. Ini tidak
hanya berlaku untuk penyakit hipertensi tetapi juga untuk
penyakitpenyakit berat lainnya. Bagaimanapun melakukan
pencegahan dan antisipasi terhadap penyakit jauh lebih
baik daripada melakukan pengobatan
2. Faktor yang dapat diubah/dikontrol
a. Kebiasaan Merokok
Nikotin dalam tembakau merupakan pemicu
meningkatnya tekanan darah segara sesudah isapan pertama.
Seperti zat-zat kimia lain dalam asap rokok, nikotin diserap
oleh pembuluh-pembuluh darah amat kecil didalam paru-
paru dan diedarkan ke aliran darah. Hanya dalam beberapa
detik nikotin sudah mencapai otak. Otak bereaksi terhadap
nikotin dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk
melepas epinefrin (adrenalin). Hormon yang kuat ini akan
menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung
untuk bekerja lebih berat sebab tekanan yang lebih tinggi.
sesudah merokok dua batang saja maka baik tekanan sistolik
maupun diastolik akan meningkat 10 mmHg. Tekanan
darah akan tetap pada ketinggian ini sampai 30 menit sesudah
berhenti mengisap rokok. Sementara efek nikotin perlahan-
lahan menghilang, tekanan darah juga akan menurun
dengan perlahan. Namun pada perokok berat tekanan darah
akan berada pada level tinggi sepanjang hari
b. Konsumsi Asin/Garam
Garam memicu penumpukan cairan dalam tubuh,
sebab menarik cairan diluar sel agar tidak keluar, sehingga
akan meningkatkan volume dan tekanan darah. Pada
manusia yang mengkonsumsi garam 3 gram atau kurang
ditemukan tekanan darah rata-rata rendah, sedang
asupan garam sekitar 7-8 gram tekanan darahnya rata-rata
lebih tinggi. Konsumsi garam yang dianjurkan tidak lebih
dari 6 gram/hari setara dengan 110 mmol natrium atau 2400
mg/hari.
Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization
(WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam yang
dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar
sodium yang direkomendasikan yaitu tidak lebih dari 100
mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari.
Konsumsi natrium yang berlebih memicu konsentrasi
natrium didalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk
menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga
volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya
volume cairan ekstraseluler ini memicu
meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada
timbulnya hipertensi
c. Konsumsi Lemak Jenuh
Kebiasaan konsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan
peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya
hipertensi. Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan
risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan
tekanan darah. Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama
lemak dalam makanan yang bersumber dari hewan dan
peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh secukupnya yang
berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan makanan lain
yang bersumber dari tanaman dapat menurunkan tekanan
darah.
d. Kebiasaan Konsumsi Minum Minuman Beralkohol
Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi. Peminum
alkohol berat cenderung hipertensi meskipun mekanisme
timbulnya hipertensi belum diketahui secara pasti.
Orangorang yang minum alkohol terlalu sering atau yang
terlalu banyak memiliki tekanan yang lebih tinggi dari pada
individu yang tidak minum atau minum sedikit. Diperkirakan
konsumsi alkohol berlebihan menjadi pemicu sekitar
5-20% dari semua kasus hipertensi. Mengkonsumsi tiga
gelas atau lebih minuman berakohol per hari meningkatkan
risiko mendapat hipertensi sebesar dua kali. Bagaimana
dan mengapa alkohol meningkatkan tekanan darah belum
diketahui dengan jelas. Namun sudah menjadi kenyataan
bahwa dalam jangka panjang, minumminuman beralkohol
berlebihan akan merusak jantung dan organ-organ lain
e. Obesitas
Obesitas erat kaitannya dengan kegemaran mengkonsumsi
makanan yang mengandung tinggi lemak. Obesitas
meningkatkan risiko terjadinya hipertensi sebab beberapa
sebab. Makin besar massa tubuh, makin banyak darah
yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan
ke jaringan tubuh. Ini berarti volume darah yang beredar
melalui pembuluh darah menjadi meningkat sehingga
memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri. Kelebihan
berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut jantung
dan kadar insulin dalam darah. Peningkatan insulin
memicu tubuh menahan natrium dan air
f. Olahraga
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan
penyakit tidak menular, sebab olahraga isotonik dan teratur
dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan
tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung
sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan
pekerjaan yang lebih berat sebab adanya kondisi tertentu.
Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah
tinggi sebab bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk.
Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak
jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja
lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering
jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan yang
mendesak arteri
Aktivitas fisik yang tinggi dapat mencegah atau
memperlambat onset tekanan darah tinggi dan menurunkan
tekanan darah pada pasien Hipertensi. Orang yang rajin
melakukan olahraga seperti bersepeda, jogging dan aerobik
secara teratur dapat memperlancar peredaran darah sehingga
dapat menurunkan tekanan darah. Orang yang kurang aktif
olahraga pada umumnya cenderung mengalami kegemukan.
Olahraga juga dapat mengurangi atau mencegah obesitas
serta mengurangi asupan garamke dalam tubuh. Garam
akan keluar dri dalam tubuh bersama keringat. Melalui
olahraga raga yang teratur (aktivitas fisik aerobik selama
30-45 menit/hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang
akan mencegah terjadinya hipertensi
g. Stres
Stres yaitu tanggapan atau reaksi terhadap berbagai
tuntutan atau beban atasnya yang bersifat non spesifik
namun, disamping itu stres dapat juga merupakan faktor
pencetus, pemicu sekaligus akibat dari suatu gangguan
atau penyakit. Faktorfaktor psikososisal cukup mempunyai
arti bagi terjadinya stres pada diri seseorang. Stres dalam
kehidupan yaitu suatu hal yang tidak dapat dihindari
Stres dapat meningkatkan
tekanah darah sewaktu. Hormon adrenalin akan meningkat
sewaktu kita stres, dan itu bisa mengakibatkan jantung
memompa darah lebih cepat sehingga tekanan darah pun
meningkat
PENCEGAHAN HIPERTENSI
Terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah
hipertensi, yaitu:
1. Mengonsumsi makanan sehat.
2. Batasi asupan garam.
3. Mengurangi konsumsi kafein yang berlebihan.
4. Berhenti merokok
5. Berolahraga secara teratur.
6. Menjaga berat badan.
7. Tidak mengkonsumsi minuman beralkohol
PENGOBATAN DAN HIPERTENSI
Sebagian pengidap hipertensi harus mengonsumsi obat seumur
hidup guna mengatur tekanan darah. Namun, jika tekanan darah
sudah terkendali melalui perubahan gaya hidup, penurunan dosis
obat atau konsumsinya dapat dihentikan. Perhatikan selalu dosis obat
yang diberikan dan efek samping yang mungkin terjadi.
Obat-obatan yang umumnya diberikan kepada para pengidap
hipertensi, antara lain:
1. Obat untuk membuang kelebihan garam dan cairan di tubuh
melalui urine. Pasalnya, hipertensi membuat pengidapnya rentan
terhadap kadar garam tinggi dalam tubuh.
2. Obat untuk melebarkan pembuluh darah sehingga tekanan
darah bisa menurun. Perlu diketahui bahwa hipertensi membuat
pengidapnya rentan mengalami sumbatan pada pembuluh darah.
3. Obat yang bekerja untuk memperlambat detak jantung dan
melebarkan pembuluh darah.
4. Obat penurun tekanan darah yang berfungsi untuk membuat
dinding pembuluh darah lebih rileks.
5. Obat penghambat renin untuk menghambat kerja enzim
yang berfungsi menaikkan tekanan darah. Jika renin bekerja
berlebihan, tekanan darah akan naik tidak terkendali.
Selain konsumsi obat-obatan, pengobatan hipertensi juga bisa
dilakukan melalui terapi relaksasi, misalnya terapi meditasi atau terapi
yoga. Namun, pengobatan hipertensi tidak akan berjalan lancar jika
tidak disertai dengan perubahan gaya hidup, seperti menjalani pola
makan dan hidup sehat, serta olahraga teratur.
Hasil Riset Kesehatan dasar 2018 (Gambar 3.1) menunjukkan
bahwa hampir 50% penderita hipertensi tidak mengonsumsi obat
secara rutin dan bahkan tidak mengonsumsi obatnya sama sekali.
Alasan utama tidak rutin/tidak mengonsumsi obat yaitu sebab
merasa sudah sehat 59.8%
Gambar 3.1. Proporsi Riwayat minum obat dan alasan tidak minum obat
pada penduduk hipertensi berdasar diagnosis dokter atau
minum obat, 2018
EFEK PEMBERIAN HERBAL TERHADAP
HIPERTENSI
Pada saat ini warga mencoba menggunakan bahan alami sebagai
pengobatan alternatif yang dianggap lebih aman jika dibandingkan
dengan obat-obatan kimia. Pengobatan tradisional menjadi alternatif
sebab tidak memicu efek samping yang berbahaya sebab
menggunakan bahan alami dari tumbuh.
Hasil penelitian yang telah dilakukan pada penderita hipertensi
di wilayah kerja Puskesmas Kenten Laut dengan judul pengaruh
pemberian air rebusan seledri terhadap penurunan tekanan darah
diambil kesimpulan sebagai berikut : Rata-rata penurunan tekanan
darah sistolik sesudah diberikan air rebusan seledri yaitu 20,32 mmHg
dan rata-rata penurunan tekanan darah diastolik sesudah diberikan air
rebusan seledri yaitu 7,09 mmHg. Disamping seledri, daun salam
(Syzygium polyanthum) juga dimungkinkan dapat digunakan untuk
pengobatan alternatif yang berkhasiat sebagai obat untuk menurunkan
tekanan darah. Tanaman ini terbukti efektif dalam menyembuhkan
penyakit, efek samping minimal, serta mudah diperoleh. Daun salam
memiliki kandungan minyak atsiri, sitrat, eugenol, tannin, flavonoid.
Kandungan senyawa aktif daun salam yang bermanfaat untuk
kesehatan yaitu senyawa antioksidan dalam hubungannya dengan
tekanan darah yang terdiri dari tannin dan flavonoid
KONSEP DASAR DAUN BELIMBING
WULUH
KLASIFIKASI TANAMAN BELIMBING WULUH
Averrhoa bilimbi L. yaitu tumbuhan obat yang termasuk dalam
famili Oxalidaceae. Genus Averrhoa dinamai seorang Filsuf Arab,
dokter dan Ahli Hukum Islam Ibn Rusyd sering dikenal sebagai
Averroes (1126-98). Averrhoa bilimbi L. berkerabat dekat dengan
Averrhoa carambola (carambola, starfruit). Averrhoa bilimbi L pada
dasarnya dibudidayakan untuk tujuan pengobatan di banyak negara
tropis dan subtropis di dunia.
29
Gambar 1 Daun Belimbing Wuluh
sumber: (Google.com)
Berikut klasifikasi dari belimbing wuluh (Averrhoa Bilimbi L)
sebagai berikut :
1. Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
2. Sub Kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
3. Super Divisi : Spermatophyta ( Menghasilkan Biji)
4. Divisi : Magnoliphyta (Tumbuhan Berbunga)
5. Kelas : Magnoliopsida (Berkeping Dua/dikotil)
6. Sub Kelas : Roidae
7. Ordo : Geraiales
8. Famili : Oxalidaceae (Suku Belimbing-belimbingan)
9. Genus : Averhoa
10. Spesies : Averrhoa Bilimbi L.
Blimbing wuluh yaitu sejenis pohon kecil yang diperkirakan
berasal dari kepulauan Maluku (negara kita ), tetapi dari sumber
lain juga mengatakan buah ini dari Amerika tropis. Buahnya khas
dan kandungan kimia berupa glukosida, vitamin B, dan vitamin C,
bunganya berkhasiat untuk antipiretik dan ekspektoran.
Pohon Belimbing Wuluh bisa tumbuh dengan ketinggian
mencapai 5-10 m dengan batang yang tidak begitu besar dan
diameternya hanya sekitar 30 cm. Ditanam sebagai pohon buah,
kadang tumbuh liar dan di temukan dari dataran rendah sampai 500
m diatas permukaan laut. Batangnya bergelombang kasar, pendek
dan cabangnya sedikit. Daunya membentuk kelompok menyirip
bergantian, panjangnya 30-60 cm dan berkelompok pada akhir
cabang. Pada setiap daun terdapat 11- 45 pasang daun oval. Bunganya
kecil, muncul langsung dari batang dengan tangkai bunga berbulu.
Mahkota bunganya berjumlah lima, warna putih, kuning atau ungu.
Buah berbentuk elips seperti torpedo dengan panjang 4-10 cm.
Warnanya hijau ketika muda dengan kelopak yang tersisa menempel
di ujung. Buah masak berwarna kuning atau pucat. Daging buah
berair dengan rasa sangat masam hingga manis. Kulit buahnya
mengkilap dan tipis. Bijinya kecil, datar, coklat, dan di tutupi dengan
lender.
KANDUNGAN DAUN BELIMBING WULUH
Kandungan yang terdapat pada daun belimbing wuluh yaitu
alkaloid, glikosida, senyawa fenolik, flavonoid, steroid, terpenoid,
tanin, saponin, asam-amino, protein, gula reduksi, pati dan
karbohidrat ditemukan di awal tes fitokimia (Hlaing, 2020). Daun
belimbing wuluh mengandung zat kalium sitrat yang berfungsi untuk
melancarkan keluarnya air seni, sehingga dapat menurunkan tekanan
darah tinggi
Zat aktif yang bisa di dapat pada daun belimbing wuluh antara
lain yaitu saponin dan flavonoid. Saponin berfungsi sebagai
anti hiperglikemik dengan cara mencegah pengambilan glukosa
pada brush borderdi usus halus. sedang flavonoid merupakan
alfaglukosidase yang berfungsi untuk menunda absorbsi karbohidrat
sehingga kadar glukosa darah akan menurun
Pada analisis khasiat gizi, kadar protein (12,28%), kelembaban
(9,53%), abu (5,93%), lemak (3,34%), serat (21,95%) dan karbohidrat
(46,97%) diperoleh dari serbuk daun. Data ini menunjukkan bahwa
daun kaya akan sumber karbohidrat, serat, protein dan rendah lemak.
Menurut literatur, karbohidrat bisa berfungsi sebagai suplemen
untuk energi, sebab berpotensi meningkatkan status kesehatan
penggunanya. Kandungan seratnya bisa membantu meningkatkan
fungsi gastrointestinal, mencegah sembelit dan dapat menurunkan
kandungan kolesterol. Oleh sebab itu averrhoa bilimbi L. memiliki
komponen nutrisi yang berharga dan dapat menjadi nutrisi pelengkap
Skrining fitokimia awal ekstrak daun Averrhoa bilimbi l.
mengungkapkan adanya alkaloid, tanin, saponin, flavonoid, glikosida
jantung, glikosida, triterpen, fenol, dan karbohidrat Ekstrak etanol yang telah dimurnikan dari daun belimbing
wuluh mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi obat
antihipertensi, sebab memberikan efek penurunan tekanan darah
secara signifikan terhadap hewan uji kucing
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kumar dkk pada tahun
2011 diketahui kandungan gizi dalam 60 gr bubuk daun belimbing
wuluh yaitu sebagai berikut :
Tabel 4.1 Kandungan Gizi Dalam Daun Belimbing Wuluh
Zat Gizi Jumlah Satuan
Kadar Kelembaban 94.2-94.7 gram
Kadar Abu 0.31 gram
Protein 0.61 gram
Serat 0.6 gram
Besi (Fe) 11.1 mg
Fosfor 3.4 gram
Kalsium (Ca) 0.40 gram
Kalium (K) 148 mg
Vitamin C 0.30 mg/100g
KANDUNGAN DAUN BELIMBING WULUH
TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH
1. Kalium
Kalium berfungsi sebagai diuretik sehingga pengeluaran natrium
cairan meningkat, jumlah natrium rendah tekanan darah
menurun
Kalium merupakan elektrolit intraseluler yang utama,
sebanyak 98% kalium tubuh berada dalam sel dan 2% sisanya
untuk fungsi neuromuskuler. Kalium mempengaruhi aktivitas
baik otot skeletal maupun otot jantung. Kalium berfungsi
sebagai pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta
keseimbangan asam basa. Bersama kalsium, kalium berperan
dalam transmisi saraf dan relaksasi otot. Di dalam sel, kalium
berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologik,
terutama dalam metabolisme energi dan sintesis glikogen dan
protein
Kandungan kalium sendiri diketahui dapat menurunkan
tekanan darah dengan mengurangi kandungan natrium dalam
urine dan air dengan cara yang sama seperti diuretik. Penelitian
epidemiologi menunjukkan bahwa asupan rendah Kalium akan
mengakibatkan peningkatan tekanan darah
Beberapa mekanisme bagaimana kalium dapat menurunkan
tekanan darah sebagai berikut : Kalium dapat menurunkan
tekanan darah dengan vasodilatasi sehingga memicu
penurunan retensi perifer total dan meningkatkan output
jantung. Penurunan tekanan darah terjadi sebab kandungan
kalium yang memicu penghambatan pada Sistem Renin
Angiotensin juga memicu terjadinya penurunan sekresi
aldosteron, sehingga terjadi penurunan reabsorpsi natrium dan
air di tubulus ginjal. Akibat dari mekanisme ini , maka
terjadi peningkatan diuresis yang memicu berkurangnya
volume darah, sehingga tekanan darah pun menjadi turun
2. Kalsium
Kalsium yaitu unsur terbanyak penyusun di dalam tubuh
manusia pada urutan kelima, yakni sebesar 1,5 - 2 % per berat
tubuh (Sitanggang et al., 2021). Keperluan kalsium dalam
tubuh biasanya dihitung dengan keseimbangan nitrogen. Orang
dewasa memerlukan 700 mg (0,7 g) kalsium/hari (Elfariyanti and
Syahpitri, 2021). Peranan kalsium dalam tubuh manusia pada
umumnya dapat dibagi 2, yaitu membantu membentuk tulang
dan gigi dan mengukur proses biologis dalam tubuh. Selain itu
kalsium juga memegang peranan penting pada berbagai proses
fisiologik dan biokemik dalam tubuh, seperti pada pembekuan
darah, eksitabilitas syaraf otot, kerekatan seluler, transmisi
impuls syaraf, memelihara dan meningkatkan fungsi membran
sel, mengaktifkan reaksi enzim dan sekresi hormon
Kalsium juga mempunyai peran terhadap regulasi tekanan
darah, diantaranya yaitu menurunkan aktivitas sistem renin-
angiotensin, meningkatkan keseimbangan natrium dan kalium,
serta menghambat konstriksi pembuluh darah. Jika asupan
kalsium kurang dari kebutuhan tubuh maka untuk menjaga
keseimbangan kalsium dalam darah, hormon paratiroid
menstimulasi pengeluaran kalsium dari tulang dan masuk ke
darah
Kalsium menurunkan tekanan darah dengan mekanisme
seperti kalsium antagonis. Antagonis kalsium yang bekerja
menurunkan tekanan darah dengan memblokade masukknya
kalsium ke dalam darah. Sehingga dengan menghambat
kontraksi otot yang melingkari pembuluh darah, pembuluh
darah akan melebar sehingga darah mengalir dengan lancar dan
tekanan darah akan menurun (Misnawati et al., 2021). Kalsium
yang rendah pemicu tekanan darah tinggi yang dipicu oleh
pelepasan hormon paratiroid atau renin yang memicu
peningkatan kalsium intraseluler pada vascular smooth muscle
dan memicu vasokontriksi
3. Vitamin C
Vitamin C merupakan zat yang sangat dibutuhkan tubuh dalam
proses metabolisme dan pertumbuhan. Kebutuhan vitamin C
bagi orang dewasa yaitu sekitar 60 mg, untuk wanita hamil
95 mg, anak-anak 45 mg, dan bayi 35 mg, namun sebab
banyaknya populasi di lingkungan antara lain oleh adanya asap
kendaraan bermotor dan asap rokok maka penggunaan vitamin
C perlu ditingkatkan hingga dua kali lipatnya yaitu 120 mg
Vitamin C merupakan salah satu vitamin yang dapat
memicu proses remodelling pada pembuluh darah sehingga
dapat memicu vasodilatasi pada pembuluh darah yang
mengalami vasokontriksi. Vitamin C merupakan water-soluble
scavenger dari radikal bebas yang kuat, dapat menurunkan
adhesi monosit terhadap sel endotel, mengurangi inaktivasi
NO dan merangsang aktivasi eNOS. Penelitian yang dilakukan
oleh Ardalan di tahun 2014 menunjukkan peningkatan asupan
buah dan sayur pada subjek yang mengalami hipertensi selama
6 bulan mengakibatkan peningkatan blood antioxidant capacity
dan penurunan tekanan darah sistolik maupun diastolik
Vitamin C merupakan antioksidan memiliki peran pada
neurotransmiter yang dapat berkontribusi pada aktivitas anti-
hipertensi. Vitamin C yaitu scavenger radikal bebas yang
dapat membantu menetralkan beban oksidan. Fungsi vitamin
C sebagai antioksidan yaitu dengan mencegah substansi
mengalami oksidasi dengan cara melakukan donor elektron.
Mekanisme reduksi kadar vitamin C pada perokok yaitu akibat
adanya oksidasi yang berlangsung secara cepat sebab adanya
radikal bebas. Vitamin C merupakan salah satu antioksidan
yang dapat memicu proses remodelling pada pembuluh
darah sehingga dapat memicu vasodilatasi pada pembuluh
darah yang mengalami vasokontriksi. Vitamin C merupakan
water-soluble scavenger dari radikal bebas yang kuat, dapat
menurunkan adhesi monosit terhadap sel endotel, mengurangi
inaktivasi NO dan merangsang aktivasi eNOS
4. Saponin
Saponin memiliki khasiat diuretik yang menurunkan volume
plasma dengan cara mengeluarkan air dan elektrolit terutama
natrium, sehingga dapat memicu penurunan cardiac
output (Asprilia dan Candra,2016).
5. Flavonoid
Flavanoid akan mempengaruhi kerja angiostensin converting
enzym (ACE). Penghambatan ACE akan menghambat
perubahan angiostensin I dan angiostensin II, yang memicu
vasodilatasi sehingga tahanan resistensi periver turun dan dapat
menurunkan tekanan darah
Daun belimbing wuluh mengandung kalium yang dapat
mempengaruhi pengeluaran urin. Kalium berfungsi sebagai diuretik
sehingga pengeluara natrium cairan meningkat, jumlah natrium
rendah sehingga tekanan darah menurun
Kalium menghambat kerja sistem renin angiotensin, yaitu dengan
menghambat pengeluaran renin sebab sekresi renin berbanding
terbalik dengan peningkatan kadar ion kalium di dalam plasma. Renin
yang seharusnya mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin
I kemudian angiotensin II yang merupakan vasokonstriktor yang
sangat kuat. Namun, sebab adanya blok pada sistem ini, maka
pembuluh darah akan mengalami vasodilatasi sehingga tekanan
darah akan menurun. Kalium juga menurukan sekresi aldosteron
yang dapat memicu penurunan retensi natrium dan air oleh
ginjal .
Saponin memiliki khasiat diuretik dengan menurunkan volume
plasma dengan cara mengeluarkan air dan elektrolit terutama natrium
sehingga dapat memicu penurunan cardiac output. Saponin
menurunkan tekanan darah dengan menghambat poduksi renin di
dalam ginjal sehingga dapat mencegah terbentuknya angiotensin I
dari angiotensinogen
Flavonoid akan mempengaruhi kerja dari Angiotensin Converting
Enzyme (ACE). Penghambatan ACE akan menginhibisi perubahan
angiotensin I menjadi angiotensin II yang memicu vasodilatasi
sehingga tahanan resistensi perifer turun dan dapat menurunkan
tekanan darah. Efek lainnya dapat memicu penurunan sekresi
aldosterone dan sekresi Anti Diruetic Hormon (ADH) yang dapat
menurunkan tekanan darah dengan mengurangi retesi air dan garam
serta absopsi air
Penelitian yang dilakukan oleh Pontoh (2014) menemukan ada
pengaruh yang bermakna pemberian rebusan air daun belimbing
wuluh terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi di Wilayah
Kerja Puskesmas Bolongsari Surabaya Penelitian oleh
Anggrreni, Mail dan Adiesty (2018) menemukan jika ada penurunan
tekanan darah yang signifikan terhadap pemberian rebusan air
daun belimbing wuluh pada ibu hamil di kelompok eksperimen
dibandingkan kelompok kontrol Penelitian
Simalandahi dan Yentisukma (2019) menemukan air rebusan daun
belimbing wuluh memiliki pengaruh terhadap tekanan darah lansia
yang menderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskemas Andalas
Padang
MANFAAT DAUN BELIMBING WULUH
Daun belimbing wuluh dapat digunakan sebagai obat tradisional
dalam hal ini menandakan bahwa tanaman ini berpotensi sifat
antimikroba (Hlaing, 2020). Daun belimbing wuluh digunakan untuk
pengobatan demam, gondongan, jerawat, radang rektum dan kencing
manis, gatal-gatal, bisul, reumatik, sifilis, kolik bilious, batuk rejan,
hipertensi, dan sakit perut dan maag
Daun belimbing wuluh (Averrhoa Bilimbi L.) berkhasiat dalam
menurunkan tekanan darah, hasil penelitian menyebutkan bahwa
kandungan dari daun belimbing wuluh yang dapat menurunkan
tekanan darah yaitu kalium sitrat, saponin dan flavonoid. Air
rebusan daun belimbing wuluh memiliki pengaruh terhadap tekanan
darah lansia yang menderita hipertensi. Ekstrak methanol daun
belimbing wuluh mengandung flavanoid yang memiliki potensi
sebagai antioksidan yang dapat mengeluarkan zat nitric oxide
sehingga dapat menurunkan tekanan darah serta menyeimbangkan
beberapa hormon di dalam tubuh.
Pada penelitian Wijayanti & Safitri, (2018) menemukan bahwa
daun belimbing wuluh mengandung senyawa aktif di dalam daunnya
yaitu flavonoid, saponin, tanin, sulfur, asam format, sulfur, kalsium
oksalat, kalium sitrat dan mampun menurunkan tekanan darah.
Juga didukung oleh penelitian Simandalahi & Yentisukma, (2019)
menemukan bahwa air rebusan daun belimbing wuluh memiliki
pengaruh terhadap tekanan darah lansia yang menderita hipertensi,
dalam intervensinya memberikan air rebusan daun belimbing wuluh
dengan intensitas dua kali sehari (150 ml untuk satu kali minum)
sesudah makan selama 7 hari berturut-turut. Kemudian pada penalitian
Insan (2019) memberikan rebusan daun belimbing wuluh selama 7
hari berturut-turut sebanyak 5g daun segar dengan air 200cc.
Tanaman belimbing wuluh kerap diteliti sebab memiliki potensi
dalam menurunkan tekanan darah penderita hipertensi. Beberapa
penelitian telah dilakukan oleh Arimina Hartati Pontoh pada tahun
2014 diketahui air rebusan daun belimbing wuluh dapat menurunkan
tekanan darah lansia berusia 60-69 tahun sebesar 20 mmHg selama
7 hari dengan dosis yang diberikan yaitu 250 cc air rebusan daun
belimbing wuluh (dari 7 lembar daun belimbing wuluh) diberikan 2x
sehari selama 7 hari berturut-turut. Selain itu ada juga penelitian yang
dilakukan oleh Simandalahi dan Yenti Sukma pada tahun 2019 yang
diketahui menurunkan tekanan darah lansia usia 60-74 tahun sebesar
11 mmHg selama 7 hari yang diberikan rebusan daun belimbing
wuluh dengan dosis 50 gr daun direbus dalam 300 ml air kemudian
direduksi hingga 150 ml dan diminum setiap 2x per hari setiap pagi
dan sore sesudah makan selama 7 hari berturut-turut.
Antioksidan sangat diperlukan dalam mengatasi dan mencegah
stress oksidatif. Antioksidan merupakan senyawa yang memiliki
kemampuan untuk mendonorkan elektron dan bermanfaat dalam
menghambat proses oksidasi. Antioksidan dapat mencegah dan
menurunkan tingkat stress oksidatif terutama pada endotel sebab
antioksidan dapat merangsang produksi nitrit okside yang berperan
dalam vasolidatasi.
Terdapat berbagai macam herbal yang biasa digunakan
warga dalam mengatasi hipertensi seperti daun salam, daun
seledri, daun alpukat, dan daun belimbing wuluh.
Tabel 3.1 Aktivitas Antioksidan Daun
Jenis daun IC50 Kategori
Daun belimbing wuluh 16,99 ppm Sangat kuat
Daun salam 19,97 ppm Sangat kuat
Daun alpukat 118,80 ppm Sedang
Daun seledri 189,36 ppm Lemah
Sumber: (Hasim dkk, 2019)
Pada penelitian Edi et al (2013), daun belimbing wuluh (Averrhoa
blimbi L.) memiliki kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid,
diterpen alkohol asiklik, dietilftalat, tanin, sulfur, asam sitrat asam
format serta kalium sitrat. sedang pada buah belimbing wuluh
(Averrhoa blimbi L.) memiliki kandungan kalium sitrat yang
memiliki efek diuretik sehingga menstimulasi keluarnya natrium
dan cairan pada tubuh yang dapat membantu mennurunkan tekanan
darah. Flavonoid pada tanaman belimbing wuluh (Averrhoa blimbi
L.) memiliki potensi sebagai antioksidan yang dapat membantu
menurunkan tekanan darah
Penelitian yang dilakukan di Puskesma Balongsari-Surabaya
menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap
pemberian air rebusan daun belimbing wuluh (Averrhoa blimbi L.)
terhadap tekanan darah (p < 0,005) (Pontoh, 2014). Hal ini didukung
oleh penelitian Fauzi (2014) yang dilakukan di wilayah kerja
Puskesmas Sungai Tarab, hasil penelitian menunjukkan sebanyak 12
subjek penderita hipertensi yang diberikan air rebusan daun belimbing
wuluh (Averrhoa blimbi L.) memiliki perbedaan tekanan darah yang
signifikan (p < 0,005). Pada penelitian Simandalahi dan Yentisukma
(2019) tekanan darah kelompok intervensi sesudah pemberian air
rebusan daun belimbing wuluh yaitu sebesar 146.00/88,75 mmHg
dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu 156.75/93,50 mmHg.
PROSES PEMBUATAN, DAYA TERIMA,
MASA SIMPAN, DAN ANALISIS GIZI TEH
HERBAL DAUN BELIMBING WULUH
TINJAUAN UMUM TENTANG TEH HERBAL
Minum teh sudah menjadi budaya dikalangan warga negara kita ,
tidak melihat status sosial maupun ekonominya. Terlihat dari rata-
rata disetiap rumah tangga selalu menyediakan teh di rumahnya
dan teh menjadi salah satu minuman favorit selain kopi. Hal ini
disebabkan oleh senyawa-senyawa yang terkandung dalam teh dapat
memberikan kepuasan kepada penikmatnya sebab mempunyai
warna, rasa dan aroma yang khas. Seperti senyawa kafein bersama
sama dengan polifenol dapat memberikan rasa menyegarkan.
Selain nikmat untuk diminum, teh juga mempunyai kandungan
yang sangat bermanfaat untuk kesehatan seperti: kafein, polyphenol,
catechin, dan minyak essensial. Komponen utama dalam teh yaitu
catechin yang merupakan senyawa turunan tanin terkondensasi,
dikenal juga sebagai senyawa polifenol sebab memiliki banyak
gugus fungsi hidroksil. Vitamin yang terkadung dalam teh yaitu
vitamin C, vitamin B, dan vitamin A, diduga sebagian rusak pada
saat proses pengolahan namun sebagian masih dapat dimanfaatkan
oleh penikmatnya. Beberapa jenis mineral juga terkandung dalam
teh, terutama fluorida juga dipercaya dapat memperkuat struktur gigi
dan tulang.
Dengan melihat banyaknya peminat teh saat ini di negara kita ,
maka banyak produsen teh baru dengan memproduksi banyak
pilihan varian baik rasa, aroma maupun kemasan. Penambahan
aroma dan rasa pada minuman teh dapat diberikan dengan
penambahan simplisia (bahan Kering) seperti kulit jeruk, buah apel,
cassiavera, sereh, jahe dan lain-lain. Selain penambahan bahan alami
ini , aroma juga bisa didapatkan dari penambahaan essence
food grade yang banyak beredar di pasaran. Untuk varian kemasan,
para produsen teh mengeluarkan banyak pilihan seperti gelas, kotak,
kaleng dan botol. Munculnya varian minuman RTD ini merupakan
strategi pemasaran, sebab warga saat ini sangat menggemari
segala hal yang bersifat instan. Selain sebagai bahan minuman, teh
juga banyak dimanfaatkan untuk campuran makanan (seperti cake),
obat-obatan dan kosmetik.
Teh merupakan minuman yang dibuat dengan cara menyeduh
daun, pucuk daun atau tangkai daun yang dikeringkan dari
tanaman Camelia sinensis. negara kita merupakan salah satu negara
selain sebagai produsen juga merupakan negara eksportir teh pada
urutan kelima di dunia berdasar proses
pengolahannya, jenis teh dapat dibedakan menjadi empat, yaitu teh
tanpa fermentasi (teh putih dan teh hijau), teh semi fermentasi (teh
oolong), serta teh fermentasi (teh hitam)
1. Teh putih
Teh putih atau white tea merupakan teh dengan proses pengolahan
paling sederhana, yaitu pelayuan dengan pengeringan. Bahan
baku bersal dari pucuk dan dua daun di bawahnya
2. Teh hijau
Secara umum, teh hijau dibedakan menjadi teh hijau panning
type dan steaming type. Prinsip dasar proses pengolahannya
yaitu inaktivasi enzim polifenol oksidase untuk mencegah
terjadinya oksimatis yang merubah polifenol menjadi senyawa
oksidasinya berupa teaflavin dan tearubigin. Daun teh yang
sudah dilayukan, kemudian digulung dan dikeringkan sampai
kadar air tertentu
3. Teh oolong
sesudah sampai di pabrik, daun teh sesegera mungkin dilayukan
dengan memanfaatkan panas dari sinar matahari sambil
digulung halus secara manual menggunakan tangan ataupun
menggunakan mesin. Tujuan penggulungan halus ini yaitu
untuk mengoksidasi sebagian polifenol yang terdapat dalam daun
teh. Proses ini dikenal sebagai proses semi oksimatis, kemudian
dikeringkan
4. Teh hitam
Dibandingkan teh lainnya teh hitam yaitu yang paling banyak
diproduksi. Teh hitam juga memiliki proses yang cukup rumit
yaitu teh hitam otrodoks dan crushing-tearing-curling (CTC).
Pada proses pengolahan teh hitam ortodoks, daun teh dilayukan
selama 14-18 jam. sesudah layu, daun teh digulung, digiling dan
dioksimatis selama kurang lebih 1 jam. sedang pada proses
CTC, pelayuan selama 8-11 jam dan diikuti dengan proses
penggilingan yang sangat kuat untuk mengeluarkan cairan sel
semaksimal mungkin. Selanjutnya proses pengeringan kemudian
disortasi dan degrading untuk menghasilkan jenis mutu teh
tertentu
Teh herbal (tisane/herbal tea) yaitu sebutan untuk ramuan
bunga, daun biji, akar atau buah kering untuk membuat minuman
yang juga disebut teh herbal. Walaupun disebut “teh”, teh herbal
tidak mengandung daun dari tanaman teh (Camelia sinensis). Teh
herbal tersedia dalam kemasan kaleng, kantong teh, atau teh herbal
siap minum dalam kemasan kotak, disesuaikan dengan kebutuhan
rumah tangga atau industri. Teh herbal juga sering diiklankan sebagai
minuman kesehatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
Kandungan senyawa kimia yang terpenting dalam pucuk segar
teh yaitu senyawa polifenol. Kandungan polifenol dalam pucuk
segar sangat ditentukan oleh jenis/klon tanaman, sehingga klon
tanaman dapat dipilih dan disesuaikan dengan jenis teh jadi yang
akan dihasilkan. Seperti jenis/klon tanaman yang mempunyai
kandungan EGC (epigalocatechin), EGCG (epigalocatechin galat),
ECG (epicatechin galat) tinggi akan menghasilkan kualitas yang
bagus bila diolah menjadi teh hitam sebab mempunyai theaflavin
dan thearubigin tinggi. Selain polifenol, unsur kimia penting lainnya
mempengaruhi potensi kualitas daun teh, yaitu polipenol oksidase,
kafein dan nitrogen/ protein (Scharbert & Hofmann, 2005).
Herbal tea atau teh herbal merupakan salah satu produk
minuman campuran teh dan tanaman herbal yang memiliki khasiat
dalam membantu membantu pengobatan suatu penyakit atau sebagai
penyegar. sedang Ravikumar, (2018) menyatakan teh herbal
umumnya campuran dari beberapa bahan yang biasa disebut infusi/
tisane. Infusi/tisane terbuat dari kombinasi daun kering, biji, kayu,
buah, bunga dan tanaman lain yang memiliki manfaat.
Teh herbal tidak berasal dari tanamanan daun teh yaitu
Camellia sinenis. Teh herbal dapat dikonsumsi sebagai minuman
sehat yang praktis tanpa mengganggu rutinitas sehari hari dan
tetap menjaga kesehatan tubuh. Teh herbal yang dibuat diharapkan
dapat meningkatkan cita rasa dari tiap bahan yang digunakan tanpa
mengurangi khasiatnya.
PEMBUATAN TEH HERBAL DAUN BELIMBING
WULUH.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan teh herbal daun belimbing
wuluh segar. Bahan daun yang diambil yaitu daun muda yang
berwarna hijau. Daun dipetik dengan tangkainya kemudian dicuci
dengan air yang mengalir. sesudah itu daun dipisahkan dari tangkainya,
dipilih daun yang dalam keadaan baik, berwarna hijau dan bersih
bebas dari hama. sesudah itu daun ditiriskan dan ditimbang. Daun
belimbing wuluh disusun pada talang stainless yang telah dibersihkan
sesudah itu daun dikeringkan di dalam oven pada suhu 55°C selama
2 jam (Rizky Pariawan, 2017). sesudah 2 jam daun dikeluarkan dan
dihancurkan hingga menjadi serbuk. Daun yang telah digiling
disaring agar ukuran seragam dan memisahkan tulang daun. sesudah
itu daun ditimbang sebanyak 7gram menggunakan timbangan digital
dan dikemas.
Adapun cara mengkonsumsi teh herbal daun belimbing wuluh
diseduh dengan menggunakan 150 ml air panas. Air yang telah
dipanaskan sebanyak 150 ml dituang ke dalam gelas berisi teh
herbal daun belimbing wuluh 7 gram. sesudah itu teh dicelupkan
dan diamkan selama 2 menit seduhan teh yang t









