: Pengabdian kepada masyarakat (PKM) merupakan kolaborasi antara Farmasi
UNIGA dengan Politeknik Kesehatan Bandung yang diselenggarakan di SDN 3. Anak-anak
usia sekolah sering mengonsumsi jajanan yang tidak sehat di sekolah maupun di lingkungan
tempat tinggalnya. Makanan dengan kandungan gula yang tinggi, termasuk ke dalam
makanan yang tidak sehat, karena anak-anak dapat berisiko menderita penyakit mulut
seperti karies gigi, obesitas, diabetes mellitus bahkan mengalami kerusakan ginjal. Metode
PKM yang dilakukan yaitu melalui penyuluhan secara langsung dengan menggunakan power
point dan pembagian flyer dengan tujuan mengedukasi siswa SDN 3 yang berjumlah 61 orang
mengenai bahaya makanan dan minuman tinggi gula dalam kemasan terhadap kesehatan
gigi dan mulut. Pelaksanaan kegiatan PKM dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap persiapan,
tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Hasil evaluasi menunjukkan terjadi peningkatan
pengetahuan siswa sebelum penyuluhan 63,3% menjadi 81,2% setelah penyuluhan mengenai
definisi karies gigi, penyebab karies dan cara pencegahannya. berdasar hasil kegiatan
PKM dapat disimpulkan bahwa secara keselurahan penyuluhan telah berhasil menigkatkan
pemahaman siswa secara signifikan sebesar 90%. Melalui penyuluhan juga memberikan
informasi mengenai batas konsumsi gula harian serta mendorong perubahan pola pikir siswa
terhadap konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, sehingga dapat menanamkan
kebiasaan hidup sehat dengan menjaga kesehatan mulut dan gigi.
Masa pertumbuhan anak akan dipengaruhi oleh pola makan. Makanan
ringan sangat disukai oleh anak-anak untuk dikonsumsi setiap hari
berdasar data nutrisi rata-rata mengandung 36% energi, 29% protein
dan 45% nutrisi lainnya. Terlalu banyak mengonsumsi makanan ringan
dapat meningkatkan kemungkinan menjadi gemuk. Anak-anak di sekolah
dasar yang mengonsumsi lebih dari 300 kkal makanan ringan setiap hari
memiliki kemungkinan 3,2 kali lebih besar untuk mengalami obesitas. Anak-
anak usia sekolah 1,6 kali lebih mungkin mengalami kelebihan berat badan
atau obesitas
Kebiasaan jajan pada anak-anak usia sekolah adalah sering
mengonsumsi jajanan yang tidak sehat di sekolah maupun di lingkungan
tempat tinggalnya. Bahan tambahan makanan biasanya ditambahkan ke
dalam pangan dengan tujuan untuk memperbaiki kualitasnya , Makanan dengan kandungan gula, garam, lemak yang tinggi, daging
olahan yang mengandung pengawet, bumbu penyedap, minuman
berkarbonasi dan mie instan termasuk ke dalam makanan yang tidak sehat.
Jajanan yang termasuk ke dalam makanan paling berbahaya yaitu makanan
dengan kandungan gula yang tinggi, karena anak-anak yang mengonsumsi
makanan tinggi gula dapat berisiko menderita batuk, sesak napas, obesitas,
diabetes mellitus bahkan mengalami kerusakan ginjal
Permasalahan ini memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan
tubuh secara umum, maka kesehatan gigi dan mulut juga harus
diperhatikan. Kebiasaan anak yang tidak rajin merawat kesehatan pribadi
khususnya gigi dan mulut menambah permasalah selanjutnya dimana
kedepannya akan mempengaruhi performa belajar dari para siswa. Menurut
Word Health Organization, salah satu upaya meningkatkan kesehatan
adalah dengan melakukan pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut sehingga
dapat mencegah timbulnya berbagai penyakit di dalam rongga mulut
berdasar penelitian sebelumnya, beberapa faktor penyebab karies
gigi diantaranya adalah gula, permen, produk cokelat dan minuman manis.
Menurut rekomendasi WHO dari tahun 2015, asupan energi harian yang
ideal tidak boleh mengandung lebih dari 5% gula tambahan. Anak-anak
sangat rentan terhadap konsumsi makanan manis karena biasanya produk-
produk makanan manis sering dipasarkan dengan tampilan kemasan yang
menarik secara visual, seperti dengan kemasan yang menampilkan karakter
kartun yang sangat disukai anak-anak. Selain itu, anak-anak biasanya
cenderung tidak membersihkan gigi dan mulut secara rutin karena kelalaian
orang tua yang mungkin meremehkan pentingnya perawatan gigi untuk gigi
susu
Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji berisi
peraturan yang mengatur tentang pembatasan gula dalam makanan dan
minuman di Indonesia, Dimana menurut Pasal 2, tujuan pencantuman pesan
dan informasi kesehatan tentang kandungan gula, garam, dan lemak pada
pangan olahan dan pangan siap saji adalah untuk meningkatkan kesadaran
konsumen terhadap konsumsi gula, garam, dan/atau lemak pada pangan
tersebut, sehingga dapat menurunkan risiko penyakit tidak menular (PTM),
khususnya hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung (Nugroho,
2024).
Penyuluhan kesehatan merupakan kegiatan edukasi yang bertujuan
untuk menyebarkan pengetahuan dan membangun kepercayaan diri
masyarakat, berpengetahuan luas, dan memahami masalah kesehatan juga
termotivasi dan memiliki kemampuan untuk mendukung anjuran terkait
dengan kesehatan. Cara penyuluhan dapat dilakukan dengan berbagai cara,
dapat melalui penyuluhan secara langsung, melalui brosur maupun melalui
media video edukasi.
berdasar uraian di atas, maka edukasi mengenai bahaya makanan
dan minuman tinggi gula bagi kesehatan tubuh pada anak usia sekolah dasar
sangatlah perlu dilakukan sehingga mereka dapat memahami pentingnya
menjaga kesehatan tubuh terutama kesehatan gigi dan mulut serta
pentingnya ketelitian dalam membeli jajanan. Kurangnya pengetahuan pada
anak-anak tentang pencegahan dan pengendalian penyebab risiko jangka
panjang penyakit serta bahaya asupan gula berlebihan, menjadikan siswa
sekolah dasar sebagai target edukasi.
Kegiatan PKM ini kolaborasi antara Farmasi Universitas Garut dengan
Politeknik Kesehatan Bandung jurusan terapi Gigi dan Mulut. Subjek PKM
ini adalah siswa-siswi yang bersekolah di SDN 3, dengan berbasis kuisioner
(Prasetiawati et al., 2022). Kegiatan PKM ini diadakan di SDN 3 dengan
target siswa dan siswi kelas 4, 5, dan 6. Adapun jarak yang ditempuh dari
kampus farmasi Uniga menuju lokasi yaitu sekitar 4,3 km,
Pelaksanaan kegiatan PKM dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap
persiapan dan tahap pelaksanaan dan evaluasi kegiatan:
1. Tahap Persiapan Tim Pengabdian
a. Melakukan diskusi dan koordinasi dengan pihak sekolah dan tim PKM dari
Fakultas MIPA Universitas Garut untuk merencanakan tanggal
pelaksanaan PKM serta jumlah peserta yang akan diundang.
b. Tim pengabdian melakukan rapat koordinasi kembali dengan pihak lainnya
untuk persiapan lebih lanjut mengenai tema yang akan disampaikan.
c. Menentukan jumlah narasumber yang akan menyampaikan edukasi kepada
para siswa yang berasal dari mahaiswa dan dosen Farmasi Universitas
Garut (Junaedi et al., 2024b).
2. Tahap Pelaksanaan
a. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan melakukan registrasi disertai tanda
tangan untuk memastikan kembali jumlah siswa yang hadir.
b. Kegiatan selanjutnya dilakukan pretest dengan menggunakan google form
dimana pertanyaan meliputi biodata dari siswa, riwayat kesehatan, dan
pertanyaan
c. Pemberian materi oleh narasumber dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dari
siswa.
d. Kegiatan diakhiri dengan pembagian hadiah bagi siswa yang aktif, kegiatan
ini dilakukan oleh mahasiswa Farmasi Universitas Garut
3. Tahap Evaluasi
Melaukan mengolan data hasil dari pre dan post test untuk mengetahui
peningkatan pengetahuan siswa sebelum dan sesudah penyuluhan.
Hasil evaluasi menunjukkan kehadiran siswa-siswi yang tepat waktu,
hal tersebut membuktikan bahwa kegiatan penyuluhan berlangsung dengan
cukup baik Dimana perhatian dan ketertarikan peserta terhadap materi
penyuluhan yang disajikan sangat tinggi. Sambutan dari kepala sekolah
SDN 3 serta sambutan dari perwakilan tim penyuluhan mengawali kegiatan
penyuluhan. Dalam penyuluhan, metode pembelajaran dilakukan melalui
presentasi menggunakan slide PowerPoint yang berlangsung selama sekitar
30 menit kemudian disambung dengan sesi tanya-jawab oleh tim penyuluhan
kesehatan. Ketika menggunakan pendekatan ceramah seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2, PowerPoint digunakan untuk meningkatkan
konten dan membantu pemahaman siswa. Selain itu, slide PowerPoint
memungkinkan presenter untuk menjaga kontak mata dengan audiens
sambil menampilkan konten yang menarik dengan menggunakan berbagai
warna, grafik, dan pola. Dibandingkan dengan flip chart dan media leaflet,
media slide power point lebih efektif dalam meningkatkan nilai pengetahuan . Salah satu kekurangan menggunakan
presentasi PowerPoint dalam kegiatan mengajar adalah bahwa animasi,
grafik, fitur pendengaran, dan fitur lainnya yang berlebihan dapat
mengalihkan perhatian siswa dari topik utama yang disajikan.
Poster juga digunakan sebagai alat bantu pengajaran selain presentasi
PowerPoint. Media poster seperti yang terlihat pada adalah pesan tertulis
yang berusaha menarik perhatian banyak orang dengan tulisan dan visual
sehingga seseorang dapat dengan mudah memahami pesan tersebut dan
dapat membacanya secara berulang-ulang . Pengisian
kuisioner bertujuan untuk mengevaluasi siswa-siswi mengenai pengetahuan
terhadap bahaya mengonsumsi gula berlebih bagi tubuh dan pencegahannya.
Responden secara keseluruhan pada PKM ini ditujukan untuk siswa-siswi
kelas 4,5 dan 6 dengan usia sekitar 9-12 tahun. Adapun aspek yang diselidiki
dalam penyuluhan ini adalah kebiasaan mengonsumsi makanan dan
minuman tinggi gula. Metode PKM yang dilakukan yaitu melalui
penyuluhan dan pembagian flyer dengan tujuan mengedukasi anak sekolah
dasar mengenai bahaya makanan dan minuman tinggi gula dalam kemasan
dan cara merawat kesehatan gigi dan mulut,
berdasar hasil survei pada siswa-siswi SDN 3 sebelum dilakukan
penyuluhan, hanya 37% dari total keseluruhan panelis yang memiliki
pemahaman tentang fungsi gula bagi tubuh. Hal ini menggambarkan
kurangnya pengetahuan mengenai peran gula dalam tubuh. Setelah
dilakukan penyuluhan terjadi peningkatan pemahaman yang signifikan,
dimana 95% dari total keseluruhan panelis menjadi paham terkait fungsi
gula (Gambar 3). Adanya peningkatan pemahaman terhadap fungsi gula
menunjukkan bahwa penyuluhan yang dilakukan sangat efektif dalam
meningkatkan pemahaman siswa.
Gula adalah jenis karbohidrat tertentu yang ditemukan dalam berbagai
jenis makanan dan minuman. Ini terdiri dari glukosa monosakarida dan
fruktosa, yang ada secara alami dalam buah-buahan dan sayuran serta
dalam produk buatan seperti permen, minuman berkarbonasi, dan makanan
penutup manis. Konsumsi gula berlebihan dapat menyebabkan diabetes
mellitus, gagal ginjal, dan penyakit kardiovaskular (Sinaga et al., 2024).
Karena peran utamanya sebagai substrat metabolisme tubuh, glukosa
dianggap sebagai karbohidrat terpenting dalam tubuh manusia (Wulandari
& Kurnianingsih, 2018). Zat pemanis dapat dikategorikan ke dalam dua
kelompok, yaitu pemanis alami dan pemanis sintetis. Zat pemanis ini
digunakan untuk meningkatkan rasa dan aroma, menambah karakteristik
fisik, bertindak sebagai agen, meningkatkan sifat kimia dan sumber kalori
tubuh ini
Hasil evaluasi Gambar 4, menunjukkan adanya perubahan yang
signifikan pada tingkat pemahaman siswa mengenai batas konsumsi gula.
Sebelum dilakukan penyuluhan, hanya 10% siswa yang memahami batas
konsumsi gula. Hal ini mencerminkan rendahnya kesadaran dan
pengetahuan siswa mengenai pentingnya menjaga asupan pola makan
sehari-hari. Beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab rendahnya
pemahaman ini adalah kurangnya edukasi terkait kesehatan gizi di
lingkungan sekolah maupun keluarga, serta minimnya akses informasi yang
mudah dipahami. Namun setelah dilakukan penyuluhan, persenase siswa
yang memahami batas konsumsi gula meningkat drastis menjadi 87%.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa penyuluhan yang dilakukan berjalan
secara efektif dan mudah dipahami.
Menurut PERMENKES RI No.30 Tahun 2013, asupan gula yang
direkomendasikan per hari adalah 50 gram atau empat sendok makan per
orang (Nugroho Agung et al., 2021). Adapun ciri-ciri pangan yang
mengandung tinggi gula diantaranya: (1) terdapat kandungan gula yang
tinggi pada label komposisi dan informasi gizi; (2) rasa manis yang sangat
kuat; (3) indeks glikemik yang tinggi (Widiastuti et al., 2024); dan (4)
teksturnya kental dan lengket (Mandei, 2014). Meskipun pemerintah
menetapkan batas maksimum untuk pemanis buatan, namun penggunaan
zat aditif ini sering melebihi batas konsumsi manusia sehingga
menimbulkan banyak permasalahan. Dua gangguan mulut yang paling
umum terjadi adalah radang gusi dan karies gigi, yang keduanya disebabkan
oleh pola makan dan kebersihan mulut yang tidak memadai (
berdasar Tabel 1 secara umum, terjadi peningkatan pengetahua
siswa sebelum dan sesedah penyuluhan yaitu sebesar 17.9%. Karies gigi
menyumbang sekitar 45,3% dari semua masalah kesehatan mulut pada
tahun 2018, menurut Data Kesehatan Dasar Indonesia, sedangkan radang
gusi atau abses menyumbang sekitar 14% dari semua masalah kesehatan
mulut (Handayani et al., 2023). Jika karies gigi tidak dirawat dengan baik,
pada akhirnya menyebabkan penghancuran gigi secara keseluruhan.
Akibatnya, jika seorang anak mengonsumsi makanan manis secara
berlebihan dan mengabaikan kebersihan mulut, kemungkinan terjadi karies
gigi meningkat secara signifikan (Efrianty, 2020).
Selama penyuluhan didapat data 53% siswa menyukai makanan dan
minuman tinggi gula, sementara 48% siswa tidak menyukainya.
Mengonsumsi makanan manis tidak dilarang, hanya saja harus dibatasi dan
memperhatikan dosis hariannya (Lubis, Rosalia, et al., 2022). Secara umum,
anak-anak cenderung menyukai makanan yang manis, seperti cokelat,
permen, es krim, permen kapas, dan biskuit. Hal ini disebabkan oleh warna
makanan yang menarik, kemasan yang memikat, serta tekstur yang lembut,
lengket, dan mudah larut di mulut, sehingga membuat anak-anak ingin
untuk menikmatinya . Siswa yang tidak menyukai
makanan dan minuman tinggi gula dapat disebabkan karena beberapa
faktor, seperti adanya kesadaran terhadap bahayanya bagi kesehatan,
keterlibatan orang tua dalam memilih makanan yang lebih sehat, rasa yang
terlalu manis sehingga tidak sesuai dengan selera mereka, pernah
mengalami efek yang tidak menyenangkan setelah mengonsumsi makanan
dan minuman tinggi gula dan faktor-faktor lainnya. Dalam hal memilih
jajanan, terdapat beberapa langkah yang dapat diambil untuk memastikan
pilihan jajanan yang sehat:
1. Hindari jajanan yang dijual di tempat kotor, terpapar polusi, atau
tidak memiliki perlindungan maupun kemasan yang layak.
2. Pilihlah jajanan yang dijual di lokasi bersih dan tertata, serta
terlindung dari paparan sinar matahari, debu, hujan, angin, dan polusi
kendaraan.
3. Pastikan memilih tempat yang terbebas dari keberadaan serangga dan
sampah.
4. Jauhi jajanan yang dibungkus menggunakan koran atau kertas bekas.
5. Pilihlah jajanan yang dibungkus dengan kertas, plastik, atau kemasan
lain yang memiliki lapisan pelindung yang aman.
6. Jauhi membeli jajanan yang mengandung banyak bahan sintetis atau
zat tambahan yang berbahaya dan dilarang.
berdasar hasil penelitian dalam kegiatan penyuluhan mengenai
bahaya makanan dan minuman tinggi gula di SDN 3 dapat disimpulkan
bahwa penyuluhan menggunakan poster dan power point sebagai media
penyuluhan ini telah berhasil menigkatkan pemahaman siswa secara
signifikan sebesar 90%. Penyuluhan juga memberikan informasi mengenai
batas konsumsi gula harian serta mendorong perubahan pola pikir siswa
terhadap konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, sehingga dapat
menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak usia dini.
Untuk menjaga kesehatan anak, disarankan agar orang tua membatasi
konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, serta menggantinya dengan
opsi yang lebih sehat seperti buah-buahan segar, air putih, atau camilan
rendah gula. Sekolah dan orang tua perlu bekerja sama dalam mengedukasi
anak tentang pentingnya pola makan seimbang dan bahaya konsumsi gula
berlebih serta cara memilih makanan yang sehat dengan melihat pada label
informasi gizi, agar mereka dapat membuat pilihan yang lebih bijak dalam
setiap konsumsi makanan dan minuman. Selain itu, orang tua dan sekolah
diharapkan untuk dapat mendorong anak untuk terbiasa dengan kebiasaan
makan yang sehat sejak dini akan sangat membantu dalam mencegah
dampak buruk dari konsumsi gula berlebih, termasuk risiko obesitas,
diabetes, dan kerusakan gigi
Studi pendahuluan menunjukan bahwa warga banyak yang mengkonsumsi makanan dan
minuman manis ≥1 kali per hari. Perilaku ini juga sudah menjadi kebiasaan bagi warga di RT
02 baik bagi orang dewasa juga bagi anak-anak. Hal ini dapat memicu timbulnya penyakit tidak
menular. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan warga berkaitan kebiasaan
mengkonsumsi makanan dan minuman manis. Pre-test dan post-test diberikan untuk mengukur
perubahan tingkat pengetahuan dari warga sehingga dapat diketahui penyuluhan efektif atau
tidak. Kegiatan ini diikuti oleh 15 orang warga yang berusia >20 tahun. Hasil menunjukan bahwa
adanya peningkatan pengetahuan. Hasil post-test menunjukkan sebanyak 93,3% menjawab benar
tentang informasi kandungan gula dalam kemasan, 96,7% menjawab benar tentang batas konsumsi
gula, 86,7% menjawab makanan secara alami sudah mengandung gula, 86,7% menjawab benat
tentang dampak mengkonsumsi makanan manis berlebih dan 80,0% me njawab benar tentang cara
mengurangi konsumsi makanan manis. Kegiatan ini juga menemukan sebanyak 60% dan 66,%
peserta kegiatan ini mengkonsumi makanan dan minuman manis berupa kue dan teh, sebanyak
33,3% mengkonsumsi 2 hingga 4 kali sehari. Selain itu sebanyak 33,3% memakai 3 sendok
takar gula dalam sehari.
Penyakit tidak menular (PTM) memicu kematian sebesar 41 juta orang setiap
tahunnya atau setara dengan dengan 71% dari semua kematian secara global. Penyakit
kardiovaskular menyumbang 17,9 juta kematian terbanyak untuk PTM setiap tahun, diikuti
dengan kanker sebesar 9,3 juta, penyakit pernapasan sebesar 4,1 juta dan diabetes sebesar
1,5 juta.1 Penyakit seperti kardiovaskular, kanker dan diabetes ini dapat disebabkan oleh diet
yang tidak sehat (unhealthy diet).2 Salah satu bentuk diet yang tidak sehat yaitu konsumsi
gula berlebih.3 Studi literature review yang dilakukan ditemukan bahwa resistensi insulin
ditingkatkan oleh gula dan berdampak meningkatnya level bioaktif IGF-I yang
mempertinggi risiko kanker.4
Data tahun 2018 oleh Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan kebiasaan
konsumsi makanan dan minuman manis di Indonesia pada penduduk umur ≥3 tahun yaitu
konsumsi ≥1 kali per hari sebanyak 40,1% vs 61.27%, konsumsi 1-6 kali per minggu
sebanyak 47,8% vs 30.22%, konsumsi ≤3 kali perbulan sebanyak 12.0% vs 8.51%. Data
tersebut menunjukkan pada penduduk umur ≥3 tahun kebiasaan konsumsi minuman manis
memiliki proporsi yang lebih tinggi dibandingkan konsumsi makanan manis.5 Data yang ada
menunjukkan sebanyak 66,1% dan 51,7% warga di Rukun Tetangga (RT) 02
mengkonsumsi makanan dan minumas manis 1 kali sehari.
Makanan dan minuman manis merupakan makanan atau minuman yang mengandung
gula. Gula banyak ada dalam bentuk olahan sehingga bentuk aslinya sudah tidak terlihat
lagi. Khususnya pada makanan manis olahan berbahan dasar tepung.6 Gula juga biasanya
ditambahkan dalam proses pengolahan makanan yang berguna sebagai pemanis, bahan
pengawet, agen bulking dan membuat rasa makanan lebih enak.7 Kementerian Kesehatan
menganjurkan konsumsi gula per 10% dari total energi (200kkal) atau sebanyak 4 sendok
makan gula per orang per hari atau 50 gram per orang per hari).8
Hasil survei dan wawancara yang dilakukan pada warga di RT 02 Keluarahan
Bantargebang diperoleh kebiasaan mengkonsumsi makanan manis. Mereka mengkonsumsi
makanan manis pada saat sarapan, saat berkumpul keluarga ataupun saat adanya perayaan-
perayaan kecil. Hasil kuesioner yang dibagikan kepada 56 warga menunjukkan bahwa
66,1% warga mengkonsumsi makanan manis 1 kali per hari serta 12,5% mengkonsumsi
>1 kali/ hari. Selain itu, hasil ini juga menunjukkan sebanyak 51,7% warga
mengkonsumsi minuman manis 1 kali per hari dan 16,1% >1 kali/ hari.
Hasil observasi yang dilakukan berkaitan konsumsi makan manis ditemukan bahwa
yaitu orang dewasa suka memakan kue seperti kue jajanan pasar yang biasanya dimakan saat
sarapan yang mana hampir setiap hari dikonsumsi. warga di RT ini juga sering
mengkonsumsi kue disertai minum kopi/ the. Pada anak-anak juga ditemukan bahwa mereka
mengonsumsi makanan manis dari saat mereka jajan sendiri atau dibelikan oleh orang tua
mereka seperti donat, cookies/biskuit, jelly kemasan, dan lain sebagainya. Alasan
warga RT 02 Kelurahan Bantargebang Kota Bekasi mengkonsumsi makanan manis
karena mereka merasa dengan mengkonsumsi makanan manis akan lebih cepat
mengembalikan energi mereka akibat bekerja. Selain itu, hal ini sudah menjadi kebiasaan
sehari-hari. Anak-anak di warga juga menyukai makanan manis sehingga orang tua
pasti akan menyediakan makanan manis setiap hari.
Faktor risiko dari makanan manis ini akan berbahaya jika dikonsumsi berlebihan dari
standar yang seharusnya. Hal ini dapat memicu timbulnya penyakit tidak menular. Selain
itu, faktor risiko ini juga dapat dicegah. Oleh karena itu perlu dilakukan berkaitan konsumsi
makanan atau minuman manis agar penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, kanker
dan diabetes dimana makanan atau minuman manis sebagai salah satu faktor risiko dapat
dicegah dan warga juga tidak mengkonsumsi makanan dan minuman manis melebihi
standar yang ditentukan.
Edukasi ini dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2022, tepatnya pukul 10.00 WIB sampai
dengan pukul 12.00 WIB. Kegiatan diselenggarakan di RT. 02, Kecamatan Bantar Gebang.
Kegiatan ini dihadiri oleh 15 orang peserta, panitia dan ketua RT. Adapun partisipasi mitra
dalam pelaksanaan yaitu sebagai peserta dan menyediakan waktu dan tempat dalam
pelaksanaan kegiatan. Sebelum melakukan kegiatan maka tim abdimas berkoordinasi
dengan ketua RT 02 untuk menentukan waktu penyelengaraan kegiatan. Kemudian panitia
mempersiapkan logistik yang dibutuhkan seperti materi, kuesioner untuk pre dan post-test,
pulpen, LCD, konsumsi kegiatan, hadiah serta souvenir untuk ucapan terima kasih.
Pelaksanaan edukasi dilakukan dengan penyampaian materi berkaitan pengertian
tentang makanan manis, sumber makanan dan minuman manis, contoh makanan manis,
dampak kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis, dan materi yang terakhir
adalah pencegahan atau cara mengurangi kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman
manis. Adapun media yang digunakan memakai media power point dengan waktu
penyampaian materi ± 30 menit. Selain itu dalam kegiatan ini juga ada sesi games dan tanya
jawab. sesudah kegiatan edukasi juga dilakukan pembagian 10 buah poster kepada
warga yang tidak mengikuti kegiatan ini. Untuk mengevaluasi kegiatan edukasi maka
dilakukan pengukuran pengetahuan dengan memberikan pertanyaan dalam bentuk kuesioner
sebelum (pre) dan sesudah (post) edukasi. Bentuk pertanyaan dalam kuesioner yaitu pilihan
berganda yang dapat dikerjakan dalam waktu ±15 menit. Pre-test dan post-test diberikan
untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan dari warga sehingga dapat diketahui
edukasi yang dilakukan efektif atau tidak. Sebelum penyampaian materi maka diberikan pre-
test kemudian sesudah penyampaian materi juga diberikan post-test.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut gambaran pengetahuan warga berdasarkan kuesioner di Kelurahan
Bantargebang yang menjadi responden dalam kegiatan ini.
1. Jenis makanan yang termasuk kedalam
makanan manis
100 0 100 0
2. Contoh makanan manis 100 0 100 0
3. Kandungan gula pada makanan dan minuman
kemasan dapat dilihat dibagian
33,3 66,7 93,3 6,7
4. Batas mengkonsumsi gula menurut
Kementerian Kesehatan RI yaitu
26,7 73,3 96,7 13,3
5. Contoh minuman manis 100 0 100 0
6. Makanan yang secara alami sudah memiliki
kandungan gula adalah
13,3 86,7 86,7 13,3
7. Kebiasaan mengonsumsi makanan manis
secara berlebihan dapat menimbulkan
penyakit tidak menular
66,7 33,3 86,7 13,3
8. Cara mengurangi kebiasaan mengkonsumsi
makanan manis
53,3 46,7 80,0 20
9. Makanan yang sehat 100 0 100 0
10. Fungsi makanan 100 0 100 0
Pada tabel 1 terlihat kategori pengetahuan seluruh responden dari setiap pertanyaan
pre-test dan post-test kuesioner. Dari kesepuluh pertanyaan pre-test, responden yang paling
banyak menjawab salah pada pertanyaan 6 terkait “makanan yang secara alami sudah
memiliki kandungan gula”, sebesar 86,7%. Responden yang paling banyak menjawab benar
pada pertanyaan 1, 2, 5, 9, dan 10 terkait “jenis makanan yang termasuk kedalam makanan
manis, contoh makanan manis, contoh minuman manis, makanan yang sehat, dan fungsi
makanan”, sebesar 100%.
Hasil post-test menunjukan ada perubahan persentasi jawaban pertanyaan yaitu
pertanyaan 3 (dari 33,3% menjadi 93,3%), pertanyaan 4 (dari 26,7% menjadi 96,7%),
pertanyaan 6 (dari 13,3% menjadi 86,7%), pertanyan 7 (dari 66,7% menjadi 86,7%), dan
pertanyaan 8 ( dari 53,3% menjadi 80,0%). Hasil edukasi ini menunjukkan adanya
peningkatan pengetahuan ditunjukkan dari hasil pre-test dan post-test seperti pada
pertanyaan no 3, 4, 6, 7 dan 8.
Pertanyaan no 3 yaitu kandungan gula pada makanan dan minuman kemasan dapat
dilihat di bagian informasi nilai gizi pada kemasan minuman manis. Pada saat pre-test
kebanyakan warga menjawab benar hanya (33,3%). sesudah penyampaian materi dan
dilakukannya post-test, terjadi perubahan proporsi jawaban warga meningkat menjadi
(93,3%). Informasi mengenai kandungan gula pada pangan olahan dan pangan siap saji
seperti makanan dan minuman dalam kemasan wajib. Hal ini bertujuan untuk menurunkan
risiko terhadap penyakit tidak menular.9 Kondisinya informasi yang ada pada label
pangan ini terkadang tidak dibaca oleh konsumen. Penelitian menemukan bahwa konsumen
sebagian besar (52,00%) kadang-kadang membaca informasi berkaitan kadar gula yang ada
di label pangan pada pada minuman teh kemasan.10
Pertanyaan no 4 yaitu tentang batas mengkonsumsi gula. Pada saat pre-test hanya
26,7% peserta menjawab benar. sesudah penyampaian materi dan dilakukannya post-test
terjadi perubahan proporsi jawaban benar menjadi 96,7%. Kemenkes menganjurkan tentang
batasan asupan konsumsi gula per hari yang dapat dikonsumsi oleh tiap individu. Konsumsi
gula yang terlalu banyak atau bahkan kurang dapat mengganggu kesehatan. Anjuran
konsumsi gula per orang per hari menurut Kemenkes RI adalah 10% dari total energi (200
kkal) atau setara dengan 4 sendok makan gula per orang per hari (50 gram/orang/hari).11
Pertanyaan no 6 yaitu mengenai kandungan gula yang ditemukan pada makanan
manis alami. Pada saat pre-test hanya 13,3% peserta menjawab benar. sesudah penyampaian
materi dan dilakukannya post-test terjadi perubahan proporsi jawaban benar menjadi 86,7%.
Gula merupakan karbohidrat terkecil yang dapat ditemukan secara alami dalam makanan
seperti produk susu, buah-buahan dan sayuran. Makanan atau minuman yang mengandung
gula akan memberikan rasa manis.12 Jika makanan yang alami saja mengandung gula dan
ditambah mengkonsumsi pangan olahan atau pangan siap saji seperti makanan/ minuman
dalam kemasan maka konsumsi gula tentunya akan melebihi batas standar per hari nya.
Pertanyaan no 7 yaitu mengenai dampak kebiasaan mengkonsumsi makanan manis
secara berlebihan. Pada saat pre-test hanya 66,7% peserta menjawab benar. sesudah
penyampaian materi dan dilakukannya post-test terjadi perubahan proporsi jawaban benar
menjadi 86,7%. sesudah penyampaian materi dan dilakukannya post-test, terjadi perubahan
proporsi jawaban warga meningkat menjadi 86,7%. Konsumsi gula yang berlebih
seperti pada makanan manis dapat berisiko tinggi memicu masalah kesehatan seperrti
gula darah tinggi, obesitas, dan diabetes mellitus.13,14 Hasil penelitian juga menunjukkan
bahwa ada hubungan konsumsi makanan manis dengan penyakit tidak menular.15
Pertanyaan lain yang juga menunjukkan peningkatan pengetahuan bagi peserta yaitu
pada pertanyaan no 8 mengenai cara mengurangi kebiasaan mengkonsumsi makanan manis.
Pada saat pre-test kebanyakan warga sudah menjawab dengan benar 53,3%. sesudah
penyampaian materi dan post-test, terjadi perubahan proporsi jawaban benar meningkat
menjadi 80,0%. Makanan manis yang dikonsumsi melebihi standar harus dikurangi. Adapun
beberapa cara untuk membatasi konsumsi gula yaitu membatasi konsumsi makanan dan
minuman manis, mengurangi penggunaan gula pada makanan maupun minuman, jajanan
atau saat memasak, mengganti makanan penutup dengan buah yang kurang manis dan/ atau
sayur-sayuran segar, serta memanfaatkan informasi pada label kemasan dalam memilih
makanan yang kurang manis atau rendah kalori.16 Komponen psikologis seperti emosi akan
mempengaruhi dalam keputusan pemilihan makanan.17 Faktor emosi seperti stress berkaitan
dengan konsumsi makanan manis. Stres merupakan salah satu pemicu meningkatnya
konsumsi gula. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian bahwa ada hubungan antara tingkat stres
dengan konsumsi gula tambahan dimana semakin tinggi tingkat stres maka semakin tinggi
konsumsi gula tambahan.18 Penelitian lain juga menunjukkan remaja laki-laki dan
perempuan berusia 16 tahun lebih sering mengkonsumsi coklat, permen dikarenakan dipicu
oleh stress.19 Oleh karena itu, untuk mengurangi konsumsi makanan atau minuman manis
maka perlu mengendalikan stress.
Pertanyaan no 1 yaitu tentang jenis makanan yang termasuk kedalam makanan
manis, pertanyaan 2 tentang contoh makanan manis, pertanyaan 5 tentang contoh minuman
manis, pertanyaan 9 tentang makanan yang sehat dan pertanyaan 10 tentang fungsi makanan
terlihat bahwa hasil pre-test dan post-test tidak ada perubahan yaitu semuanya menjawab
benar. Hal ini berarti peserta yang ikut kegiatan edukasi sudah memahami topik-topik
tersebut.
Kegiatan abdimas ini juga menanyakan perilaku konsumsi makanan dan minuman
manis pada peserta abdimas. Berikut gambaran perilaku warga berdasarkan kuesioner
di Kelurahan Bantargebang yang menjadi responden dalam kegiatan ini.
Tabel 2 Hasil Kuesioner Gambaran Perilaku Mengkonsumsi Makanan dan Minuman manis
di Kelurahan Bantargebang Tahun 2022
Variabel Frekuensi (n) Persentase (%)
Makanan manis apa yang sering dikonsumsi
Kue 9 60
Donat 1 6,66
Roti 2 13,3
Nasi 1 6,66
Martabak 2 13,3
Dalam sehari berapa kali mengkonsumsi makanan manis
4 kali 5 33,3
3 kali 4 26,6
2 kali 5 33,3
Variabel Frekuensi (n) Persentase (%)
1 kali 1 6,66
Minuman manis apa yang sering dikonsumsi
Teh 10 66,6
Kopi 2 13,3
Marimas 1 6,66
Boba 2 13,3
Berapa takaran gula yang biasa dipakai sehari
a. banyak 1 6,66
b. 4 sendok 3 20
c. 3 sendok 5 33,3
d. 2 sendok 2 13,3
e. 1 sendok 3 20
f. ½ sendok 1 6,66
Hasil kuesioner yang dibagikan menunjukkan bahwa peserta banyak mengkonsumsi
kue yang merupakan makanan manis, frekuensi mengkonsumsi makanan manis 4 kali sehari,
banyak mengkonsumsi teh yang merupakan minuman manis dan banyak peserta
mengkonsumsi gula dengan takarannya 3 sendok dan 4 sendok. Hasil ini menunjukkan
bahwa warga yang mengikuti kegiatan ini terbiasa untuk mengkonsumsi makanan dan
minuman manis. Hasil penelitian yang sejalan ditemukan bahwa sebesar 54,5% responden
≥18 tahun di Kabupaten Semarang mempunyai kebiasaan makan minum yang manis.
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan pengetahuan dan
perilaku pada warga RT. 02 Bantargebang Kota Bekasi yang berkaitan dengan
konsumsi makanan manis berlebih. Kegiatan edukasi perlu dilakukan karena makanan manis
sangat berbahaya bagi kesehatan dan merugikan individu yang tidak mengetahui dampak
dari makanan manis tersebut. Kami merancang kegiatan ini untuk meningkatkan
pengetahuan dan harapannya dengan dilakukannya edukasi maka warga yang ikut
dapat merubah perilaku sebagai langkah pencegahan penyakit.
Ada beberapa kendala yang dialami saat melakukan kegiatan ini, seperti akses ke
tempat diadakannya kegiatan yang terhitung jauh, fasilitas kurang memadai (proyektor tidak
terlihat dengan jelas akibat memakai ruangan yang terlalu terbuka, dan mikrofon yang
tidak stabil). Kemudian, kendala yang ditemukan yaitu pada media yang digunakan. Media
yang digunakan pada kegiatan ini yaitu media berbasis visual dengan memakai power
point. Saat dilakukan edukasi ditemukan ada kendala pada fasilitas seperti dilaksanakan pada
ruangan terbuka sehingga tampilan materi yang memakai power point tidak begitu
terlihat. Selain karena ruangan yang terbuka, proyektor yang digunakan sudah usang
sehingga berpengaruh pada tampilan layar yang kurang terlihat. Sekalipun ada kendala,
tetapi media yang digunakan masih mendukung untuk meningkatkan pengetahuan para
peserta. Hasil pengabdian warga yang juga memakai media power point
menunjukkan peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi dilakukan.
Kegiatan abdimas ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan warga
berkaitan konsumsi makanan dan minuman manis. Hasil edukasi ini menunjukkan adanya
peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukannya edukasi kesehatan. Peningkatan
pengetahuan ditunjukkan dari hasil pre-test dan post-test seperti pada pertanyaan no 3 (cara
membaca kandungan gula dalam kemasan), 4 (batas aman mengonsumsi gula), 6 (jenis
makanan yang memiliki kandungan gula alami), 7 (dampak mengonsumsi makanan manis)
dan 8 (Cara mengurangi kebiasaan mengkonsumsi makanan manis). Selain itu diketahui
perilaku responden cenderung suka mengkonsumsi makanan manis berupa kue, dalam sehari
responden cenderung mengkonsumsi makanan manis sebanyak 2 hingga 4 kali.
MINUMAN BERPEMANIS
Karies gigi masih menjadi masalah kesehatan gigi yang utama pada remaja,
dengan konsumsi minuman berpemanis (sugar-sweetened beverages/SSB)
sebagai salah satu faktor penyebab penting. Penelitian ini bertujuan untuk
meninjau bukti ilmiah mengenai hubungan konsumsi minuman berpemanis
dengan kejadian karies gigi pada remaja. Tinjauan pustaka dilakukan dengan
menggunakan kerangka PRISMA. Penelusuran artikel dilakukan melalui PubMed,
ScienceDirect, dan Scopus dengan kata kunci “Sugar-Sweetened Beverage,” “Soft
Drink,” “Sugary Drink,” “Dental Caries,” dan “Adolescent.” Kriteria inklusi
meliputi artikel penelitian primer yang terbit sejak tahun 2020 dengan subjek
remaja usia 10–19 tahun. Sebanyak lima artikel dari Latvia, Rumania, Jerman,
Cina, dan Amerika Serikat memenuhi kriteria. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa konsumsi minuman berpemanis berhubungan signifikan dengan
peningkatan prevalensi dan keparahan karies gigi pada remaja. Faktor yang turut
memengaruhi antara lain perilaku kebersihan mulut, asupan gula harian, serta
paparan dini terhadap SSB. Konsumsi minuman berpemanis merupakan faktor
risiko penting bagi terjadinya karies gigi pada remaja. Upaya pencegahan perlu
difokuskan pada pembatasan konsumsi SSB, edukasi kebersihan mulut, serta
kebijakan kesehatan warga untuk mengurangi paparan gula pada remaja.
Persoalan karies gigi yang
tinggi pada remaja masih menjadi
masalah global. Pada tahun 2022
Beban global untuk karies gigi untuk
semua cakupan usia menurut laporan
WHO sebanyak 2.5 milyar orang
menderita karies gigi Sebanyak 48% remaja di
Inggris Raya diketahui mengalami
karies gigi
Temuan lain pada remaja di China
yang memiliki karies gigi didapatkan
sebanyak 53.65%
Penderita karies di negara kita sendiri
menurut Survei Kesehatan negara kita
tahun 2023 bisa dibilang cukup
tinggi, yakni mencapai 37.4% untuk
kelompok usia remaja 10-14 tahun
dan 34.2% untuk kelompok usia 15
tahun.
Masalah karies gigi ini tidak
hanya memicu kerusakan pada
jaringan gigi saja, tetapi juga
memicu dampak yang luas
terhadap kualitas hidup
penderitanya. Penderita karies gigi
sering mengalami nyeri, kesulitan
makan, gangguan tidur, rasa malu
karena giginya yang rusak, hingga
mengalami hambatan dalam
pertumbuhan dan perkembangan
kognitif. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa semakin parah
tingkat karies gigi yang diderita
semakin buruk kualitas hidup terkait
kesehatan mulut
Banyak faktor yang
menyebabkan terjadinya karies gigi.
Faktor risiko penyebabnya dapat
dimulai dari banyak mengonsumsi
makanan manis yang diikuti dengan
kurangnya kesadaran merawat gigi.
Merawat gigi dalam hal ini bukan
hanya sekadar frekuensi menyikat
gigi saja, tetapi juga termasuk dalam
menggunakan dental floss dan
mouthwash serta rutin berkunjung
ke dokter gigi. Risiko ini secara
signifikan lebih tinggi pada individu
yang jarang melakukan flossing
maupun hanya mengunjungi dokter
gigi bila ada keluhan , dibandingkan
dengan mereka yang menjalani
pemeriksaan gigi secara rutin. Pola
konsumsi seseorang juga turut
berpengaruh terhadap kemungkinan
terjadinya karies, mengonsumsi
makanan dan minuman manis secara
berlebihan seperti minuman
berenergi, permen, soft drink¸dan
minuman dengan gula tambahan
Konsumsi
minuman yang mengandung gula
berlebih diketahui dapat
meningkatkan faktor risiko karies.
berdasar Permenkes No. 30
Tahun 2013, asupan gula harian
sebaiknya tidak melebihi 10% dari
total kebutuhan energi atau setara
dengan ±50 gram per orang.
Kandungan gula dalam minuman
berpemanis kemasan di negara kita
relatif tinggi, yaitu rata-rata 22,8
gram per 250 ml, yang telah
menyumbang sekitar 45% dari batas
konsumsi harian. Tingginya
kontribusi ini menegaskan peran
MBDK sebagai sumber utama asupan
gula berlebih yang berhubungan
dengan meningkatnya risiko
obesitas, diabetes, dan masalah
kesehatan lain. Hasil laporan dari
Riskesdas 2018 dan Survei Kesehatan
negara kita (SKI) 2023 remaja
merupakan kelompok yang
mengonsumsi MBDK paling tinggi.
Hal ini menjadikan
adanya urgensi untuk memahami
lebih jauh pengaruh minuman
berpemanis terhadap karies gigi.
Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk
merangkum bukti ilmiah mengenai
hubungan konsumsi MBDK dengan
karies gigi pada remaja.
Minuman berpemanis dalam
kemasan atau yang dalam Bahasa
Inggris disebut sugar-sweetened
beverage merupakan semua jenis
cairan minuman yang ada
tambahan gula didalamnya saat
proses produksi. Jenis-jenis
produknya, seperti minuman
berenergi, minuman buah
berpemanis, kopi dan teh kemasan
dengan tambahan gula, dan
minuman soda. Mengonsumsi
minuman berpemanis dalam jangka
panjang terbukti dapat
mengakibatkan berbagai masalah
kesehatan, seperti obesitas,
dislipidemia, dan hati berlemak,
serta dapat pula mengakibatkan
karies gigi. Paparan minuman
berpemanis yang terlalu dini dapat
membentuk preferensi rasa manis
yang sulit diubah, sehingga dapat
meningkatkan risiko konsumsi gula
berlebih ketika remaja
Banyak faktor yang mendukung
mengapa remaja gemar meminum
minuman berpemanis. Lingkungan
sosial memiliki peran penting dalam
mendorong konsumsi minuman
berpemanis pada remaja. Penelitian
di Texas, Amerika Serikat
menemukan bahwa sekolah-sekolah
yang berada di wilayah dengan
status sosial ekonomi yang rendah
memiliki tingkat keterpaparan iklan
minuman berpemanis yang tinggi
jika dibandingkan dengan sekolah-
sekolah di wilayah yang status sosial
ekonomi tinggi. Tingginya paparan
iklan ini dapat berpotensi untuk
meningkatkan kebiasaan
mengonsumsi minuman berpemanis
yang akhirnya dapat menyebabkan
berbagai macam risiko kesehatan
Studi penelitian di negara kita
juga ditemukan bahwa faktor remaja
mengonsumsi minuma berpemanis
dipengaruhi oleh faktor social dan
ligkungan. Orang tua yang memiliki
kebiasaan mengonsumsi minuman
berpemanis dapat memberi
pengaruh kepada remaja untuk
meniru kebiasaan ini . Selain
orang tua, teman sebaya turut
memiliki pengaruh yang besar,
karena remaja menjadi mudah untuk
mengonsumsi minuman berpemanis
jika berada dikelompok pertemanan
yang juga mengonsumsi minuman
berpemanis
Selain faktor eksternal
ada juga faktor intrapersonal
yang mempengaruhi kebiasaan
konsumsi minuman berpemanis.
Sebuah studi kualitatif menyoroti
bahwa remaja seringkali mengaku
mengalami craving dan dorongan
kuat untuk terus mengonsumsi
minuman berpemanis meskipun
sudah merasakan dampak
negatifnya. Kondisi ini
mencerminkan adanya
ketidakmampuan dalam
mengendalikan diri pada remaja dan
munculnya pola konsumsi yang
menyerupai adiksi, di mana
kepuasan sesaat lebih dominan
dibandingkan dengan kesehatan
jangka panjang
Faktor-faktor di atas
menekankan tingginya konsumsi
minuman berpemanis dipengaruhi
oleh beberapa hal. Namun, dari sisi
intrapersonal remaja yang belum
bisa menahan atau mengendalikan
keinginan berlebih untuk
mengonsumsi minuman berpemanis
ini dapat memicu bahaya untuk
kesehatan, misal risiko obesitas dan
penyakit metabolik seperti diabetes
tipe 2. Selain itu dampak yang timbul
dari konsumsi minuman berpemanis
yang berlebihan yakni meningkatnya
kemungkinan terjadinya karies gigi
Karies gigi merupakan
merupakan suatu penyakit kronis
yang disebabkan oleh banyak faktor
yang ditandai oleh proses infeksi dan
kerusakan progresif pada jaringan
keras gigi. Karies gigi sudah sejak
lama menjadi salah satu masalah
kesehatan gigi yang paling sering
dijumpai dan berkaitan erat dengan
adanya pola konsumsi. Seiiring
berjalannya masa, angka kejadian
karies gigi meningkat signifikan
akibat adanya peningkatan asupan
gula di warga
Meningkatnya angka kejadian
karies gigi memiliki dampak
terhadap kualitas hidup para
penderitanya, baik secara fisik,
psikologi, maupun sosial. Spesifiknya
terhadap kualitas hidup akan
mengalami nyeri dan
ketidaknyamanan, serta gangguan
sosial seperti menurunnya rasa
percaya diri dan rasa malu akibat
kondisi gigi yang rusak. Gangguan
lain akibat karies dapat meyebabkan
kesulitan makan dan berbicara.
Semakin parah kondisi karies yang
dialami maka akan semakin parah
pula dampak terhadap kualitas hidup
yang akan dialami
Adanya keterkaitan antara
konsumsi minuman berpemanis,
karies gigi, penurunan kualitas hidup
memperlihatkan bahwa isu ini
penting dalam kesehatan
warga . Remaja menjadi
kelompok yang rentan karena belum
memiliki kesadaran akan kebersihan
mulut dan belum dapat
mengendalikan diri jumlah konsumsi
minuman berpemanis. Dampaknya
dapat menurunkan rasa percaya diri,
nyeri di gigi, dan penurunan kualitas
hidup lainnya. Banyak penelitian
yang telah dilakukan untuk melihat
hubungan antara konsumsi minuman
berpemanis dan karies gigi dengan
hasil yang beragam karena adanya
variasi perilaku kebersihan mulut,
pola konsumsi antar populasi, dan
konteks kosial. Melihat hal ini ,
maka penting untuk ditinjau secara
sistematis bukti ilmiah keterkaitan
antara konsumsi minuman berpeanis
dan karies gigi pada remaja untuk
mengintegrasikan bukti-bukti ilmiah
terkini.
Tinjauan sistematis ini
diharapkan dapat memberi
kontribusi dalam memperkuat dasar
ilmiah sebagai upaya pencegahan
karies gigi pada kelompok remaja
yang dapat dilakukan melalui
intervensi edukasi gizi, promosi
kesehatan gigi dan mulut, serta
kebijakan konsumsi gula. Hasil dari
tinjauan sistematis ini juga dapat
menjadi acuan dalam merancang
strategi komunikasi kesehatan yang
lebih efektif untuk menekan
konsumsi minuamn berpemanis di
kalangan remaja melalui adanya
kebijakan kesehatan warga .
Dari uraian di atas maka
disimpulkan bahwa konsumsi
minuman berpemanis memiliki
potensi besar dalam memengaruhi
kesehatan gigi dan mulut pada
remaja, khususnya pada peningkatan
risiko karies gigi. Namun, jika dilihat
dari penelitian sebelumnya yang
menunjukkan adanya variasi temuan
terkait hubungan ini yang
dipengaruhi oleh adanya faktor
perilaku, lingkungan, serta
kebiasaan kebersihan mulut. Oleh
itu, rumusan masalah dalam tinjauan
pustaka ini adalah bagaimana
hubungan antara konsumsi minuman
berpemanis dengan kejadian karies
gigi pada remaja berdasar hasil
penelitian yang telah dipublikasikan?
Tinjauan pustaka ini dilakukan
dengan cara melakukan penelusuran
artikel-artikel ilmiah yang ada di
PubMed, ScienceDirect, dan Scopus
menggunakan kerangka panduan
Preferred Reporting Items for
Systematic Reviews and Meta-
analyses (PRISMA). Kata kunci yang
digunakan adalah “Sugar
Sweetened-Beverage” or “Soft
Drink” or “Sugary Drink”, “Dental
Caries” or “Tooth Decay”,
“Adoloscent” or “Teenager”.
Penulusuran artikel dimulai dari
artikel terbitan tahun 2020.
ada kriteria inklusi yang
ditetapkan dalam melakukan
penelusuran, yaitu artikel penelitian
primer yang meneliti tentang
hubungan mengonsumsi MBDK
(sugar-sweetened beverage) dengan
karies gigi dan tersedia dalam
bentuk teks penuh (full text) dan
dapat diakses oleh peneliti, baik
melalui akses terbuka (open access)
maupun melalui repositori
institusi/perpustakaan dengan
subjek penelitian golongan usia
remaja 10-19 tahun berdasar
kategori WHO.
Kesehatan manusia seputar
mulut dan gigi menjadi hal yang
patut diperhatikan. Ketika kondisi
mulut dan gigi mengalami perubahan
kondisi seperti karies gigi, hal
ini akan memengaruhi kualitas
hidup penderitanya. Penderita
karies gigi akan mengalami kesulitan
untuk menggigit ataupun mengunyah
makanan, gangguan dalam
berinteraksi karena rendahnya rasa
percaya diri serta mengalami
ketidaknyamanan karena gigi yang
sakit akibat karies gigi (Singh &
Talmale, 2023). Rendahnya kualitas
hidup yang dialami penderita karies
gigi ini perlu dipahami aspek atau
faktor risiko yang menjadi alasan
dari timbulnya karies gigi.
Menurut Maldupa et al., (2021)
dijelaskan bahwa aspek yang
mendukung terjadinya karies gigi
pada remaja adalah kebiasaan
jarang menyikat gigi yang disertai
dengan keterbatasan mengakses
layanan kesehatan gigi. Perilaku
ini diiringi dengan tingginya
konsumsi minuman manis. Pada
penelitian yang dilakukan di Latvia
ini menunjukkan bahwa karies tidak
hanya memiliki prevalensi tinggi
pada anak usia 12 tahun, yakni
sebesar 71,9%, tetapi juga disertai
tingkat keparahan yang cukup besar,
dengan rata-rata lebih dari tiga gigi
permanen per anak sudah
mengalami kerusakan, hilang, atau
ditambal akibat karies
(D5MFT=3,28).
Penelitian lain di Rumania juga
membuktikan prevalensi karies gigi
yang terjadi pada remaja usia 10-19
tahun berada pada kategori relatif
tinggi 95.5% dengan disertai indeks
DMFT 3.13. Tingginya prevalensi
ini dipengaruhi oleh mayoritas
remaja yang memiliki kebiasaan
kurang baik terkait kesehatan mulut
dan gigi. Dari penelitian ini
turut menjelaskan bahwa ada
kaitan antara terjadinya karies gigi
dengan mengonsumsi minuman
berpemanis. Faktor-faktor ini
berkontribusi terhadap tingginya
beban karies pada remaja di
Rumania (Tudoroniu et al., 2020).
Minuman berpemanis yang
didalamnya mengandung asasm,
seperti soda dan sari buah dapat
menurunkan pH hingga di bawah
batas kritis demineralisasi enamel.
Paparan dari minuman yang
dikonsumsi secara langsung
melarutkan mineral hidroksiapatit
yang merupakan komponen utama
pembentuk enamel gigi. Akibat
melarutnya mineral hidroksiapatit,
enamel gigi menjadi rapuh,
elastisitasnya berkurang, dan
permukaan gigi menjadi lebih kasar.
Adanya perubahan secara fisik
ini semakin mempermudah
terjadinya kolonisasi bakteri plak
dan mempercepat proses awal
terbentuknya karies. Selain itu, gula
yang terkandung dalam minuman
berpemanis difermentasi oleh
bakteri kariogenik yang
menghasilkan asam organik seperti
asam laktat yang juga menurunkan
pH lebih lanjut. Kombinasi antara
erosi asam asam dari minuman dan
produksi bakteri asam akibat dari
metabolisme gula mempercepat
terjadinya demineralisasi enamel
hingga dentin. Hal ini dapat
terjadi akibat adanya perubahan
gaya hidup yang mengganti
kebiasaan minum air dengan
minuman soda, diikuti frekuansi
konsumsinya yang tinggi, serta
memiliki kebiasaan buruk terkait
kebersihan mulut yang juga
menambah daftar panjang risiko
karies gigi ,
Temuan pada remaja Amerika
Serikat usia 12-17 tahun diketahui
bahwa perilaku kebersihan mulut
khususnya pada frekuensi menyikat
gigi berperan penting terhadap
memperkuat dampak mengonsumsi
minuman berpemanis terhadap
kejadian karies gigi pada remaja.
Remaja di Amerika Serikat yang
mempunyai kebiasaan tinggi
konsumsi minuman berpemanis
memiliki beban untuk mengalami
karies sebesar 59% lebih tinggi
dengan peluang yang jauh lebih
rendah untuk bebas karies yang
rendah konsumsi minuman
berpemanis. Perilaku tinggi
konsumsi minuman berpemanis ini
diiringi dengan kebiasaan menyikat
gigi hanya satu kali sehari. Ketika
remaja memiliki perilaku menyikat
gigi dua kali atau lebih dalam sehari
terbukti dapat mengurangi efek
merugikan dari mengonsumsi
minuman berpemanis terhadap
kesehatan gigi. Adanya temuan
ini menekankan bahwa
perilaku kebersihan mulut pada
remaja dapat memperkuat ataupun
melemahkan dampak dari
mengonsumsi minuman berpemanis
terhadap kejadian karies
Selain perilaku kebersihan
mulut pada temuan di Amerika
Serikat yang menekankan bahwa
perilaku kebersihan mulut,
khususnya frekuensi menyikat gigi,
dapat memperkuat atau
melemahkan dampak konsumsi
minuman berpemanis terhadap
kejadian karies hal lain yang perlu
diperhatikan ialah jumlah gula yang
dikonsumsi dalam sehari. Jumlah
total asupan gula harian yang
melebihi 50 gram per hari
dihubungkan sebagai faktor risiko
utama terhadap kejadian karies gigi
pada remaja usia 12-14 tahun.
Diketahui pemerintah Cina sudah
menetapkan batasan maksimal
jumlah konsumsi gula harian, yakni
50 gram sehari sesuai dengan
anjuran WHO. Hal ini menegaskan
adanya kesenjangan antara
rekomendasi kesehatan warga
dan perilaku konsumsi aktual pada
remaja. Semakin tinggi jumlah
konsumsi gula hariannya semakin
tinggi pula risiko kemungkinan
terjadinya karies gigi. Minuman
berpemanis menyumbang sebanyak
54.2% dari jumlah gula harian yang
dikonsumsi oleh remaja, hal ini
menjadikan minuman berpemanis
menjadi faktor risiko utama
terjadinya karies gigi pada remaja di
Cina. Temuan ini menunjukkan
bahwa jumlah konsumsi gula harian
pada remaja perlu dibatasi
mengingat lewat minuman
berpemanis risiko karies dapat
terjadi. Kejadian di Cina ini
menunjukkan bahwa membatasi
jumlah konsumsi gula harian sama
pentingnya dengan perilaku
merawat kesehatan mulut
Jika temuan di Cina
menekankan besarnya pengaruh
jumlah gula harian yang dikonsumsi
pada remaja terhadap kejadian
karies, lain halnya yang terjadi di
Jerman. Penelitian di Jerman
mengungkapkan bahwa semakin dini
seorang remaja terpapar minuman
berpemanis maka kemungkinan
untuk terjadinya karies semakin
tinggi. Pada remaja usia 10 tahun
yang tinggi konsumsi minuman
berpemanis memiliki tinggi
kemungkinan kejadian karies gigi.
Namun, pada remaja usia 15 tahun
efek ini melemah. Hal ini dapat
dipicu oleh semakin baiknya
kesadaran akan kebersihan mulut
seiring bertambahnya usia
Secara keseluruhan setiap
negara menunjukkan bahwa
minuman berpemanis memiliki
hubungan yang signifikan terhadap
kejadian karies pada remaja usia 10-
19 tahun. Namun, ada
perbedaan pada beberapa kondisi
seperti perilaku kesehatan mulut
individu, pola konsumsi, lingkungan
sosial, dan kebijakan kesehatan.
Kesamaan hasil dari 5 negara
yang menunjukkan hasil
berhubungan signifikan ini
mengartikan bahwa intervensi
kebijakan kesehatan untuk publik
sangat diperlukan sebagai upaya
menekan angka konsumsi minuman
berpemanis. Beberapa negara telah
menerapkan pajak untuk minuman
berpemanis.
sebanyak 16 negara telah
menerapkan pajak gula terhadap
harga jual minuman berpemanis
sebagi bagian dari rekomendasi WHO
untuk mengurangi konsumsi gula.
Kebijakan ini terbukti efektif
dalam menurunkan angka konsumsi.
Penerapan kebijakan ini dimulai atas
dasar melihat keberhasilan di
beberapa negara yang kemudian
menginspirasi negara lain untuk
menerapkan kebijakan serupa.
Meskipun demikian, efektivitas
kebijakan ini sangat bergantung
pada beberapa faktor, seperti faktor
sosial ekonomi, struktur industri
minuman, tingkat kepatuha, hingga
perilaku konsumen yang memiliki
peran besar dalam menentukan
efektivitas kebijakan ini .
ada pula risiko lain, yakni
adanya substitusi ke produk lain yang
tidak terdampak oleh pajak, seperti
jus kemasan atau minuman
berpemanis buatan yang pada
akhirnya dapat mengurangi efek
positif kebijakan ini
Kebijakan fiskal berupa pajak
minuman berpemanis di negara kita
dapat menjadi langkah efektif untuk
menekan angka konsumsi gula
tambahan.
menunjukkan bahwa dengan
peningkatan harga sebesar 20%
melalui pajak dapat menurunkan
permintaan minuman berpemanis
hingga 17.5% serta menambah
penerimaan negara sekitar Rp 3,6
triliun per tahun. Temuan ini sejalan
dengan tinjauan
yang menegaskan adanya dukungan
dari berbagai lembaga pemerintah
dan warga sipil terhadap
penerapan cukai minuman
berpemanis sebagai upaya
pencegahan obesitas dan penyakit
tidak menular. Namun, tantangan
utamanya terletak pada resistensi
industri dan kesiapan sistem
administrasi pajak yang masih perlu
diperkuat sebelum
diimplementasikan secara nasional.
Penerapan kebijakan pajak
gula di berbagai negara
menunjukkan langkah nyata dalam
menurunkan angka konsumsi
minuman berpemanis pada tingkat
populasi. Namun, upaya
pengendalian konsumsi ini tidak
hanya bergantung kepada kebijakan
fiskal saja, tetapi juga pada
perubahan perilaku warga ,
terutama di kelompok usia remaja.
Di negara kita , remaja yang
mengonsumsi minuman berpemanis
menjadi sebuah tantangan.
berdasar hasil Survei Kesehatan
negara kita (SKI) tahun 2023, sebanyak
50.7% remaja usia 10-14 tahun dan
45.8% remaja usia 15-19 tahun
setidaknya mengonsumsi 1 minuman
manis setiap harinya. Hanya 4.3%
remaja usia 10-14 tahun dan 5.6%
remaja usia 15-19 tahun yang jarang
mengonsumsi minuman manis (≤3
kali per bulan). Kemudian, penderita
karies gigi di negara kita sendiri
sebanyak 37,4% remaja usia 10–14
tahun dan 34,2% remaja usia 15
tahun dilaporkan memiliki gigi rusak,
berlubang, atau sakit dalam satu
tahun terakhir. Angka ini
menunjukkan bahwa lebih dari
sepertiga remaja mengalami
gangguan kesehatan gigi yang
berpotensi berkaitan dengan
kebiasaan konsumsi makanan dan
minuman tinggi gula Adanya temuan
ini mengindikasikan bahwa
separuh remaja negara kita
mempunyai kebiasaan mengonsumsi
gula dalam jumlah yang tinggi. Perlu
ada intervensi secara komprehensif
melalui edukasi gizi, promosi
kesehatan gigi dan mulut, dan
penguatan regulasi konsumsi gula.
Hal lain yang dapat dilakukan
untuk mengendalikan konsumsi gula
adalah melalui kebijakan pelabelan
peringatan pada kemasan.
Pendekatan ini menekankan
pentingnya memberi informasi
yang jelas kepada konsumen
mengenai risiko kesehatan akibat
konsumsi gula berlebih.
bahwa penerapan front-of-package
warning labels (FOP) secara
signifikan meningkatkan kesadaran
konsumen terhadap kandungan gula
pada produk makanan dan minuman.
Label peringatan dengan pesan
secara eksplisit, yakni ”Tinggi Gula”
atau “Rendah Gula” atau
menggunakan traffic light label yang
menampilkan warna merah, kuning,
dan hijau untuk menandai kadar
gula. Digunakannya sistem ini
terbukti paling efektif dalam
menurunkan niat beli dan
meningkatkan kesadaran akan risiko
kesehatan akibat konsumsi gula
berlebih.
Konsumsi minuman
berpemanis tidak hanya berdampak
pada peningkatan risiko karies gigi,
tetapi juga memberi beban
jangka panjang terhadap sistem
kesehatan masyarkat. Peningkatan
prevalensi karies gigi, obesitas, dan
penyakit metabolik terakit dengan
konsumsi gula berlebih menuntut
biaya kesehatan yang tinggi, baik
dari sisi pengobatan maupun
pencegahan. Pada kelompok usia
remaja, kebiasaan mengonsumsi
minuman berpemanis dapat
membentuk preferensi rasa manis
yang cenderung bertahan hingga
dewasa, terlebih jika terpapar pada
usia yang cukup dini. Kondisi ini
berpotensi untuk meningkatkan
risiko penyakit tidak menular di
kemudian hari dan menambah beban
ekonomi nasional. Oleh itu,
pengendalian konsumsi minuman
berpemanis perlu dilakukan secara
komprehensif melalui kebijakan
kesehatan publik, reformulasi
produk, serta membatasi iklan yang
menargetkan kelompok usia remaja
Sektor pendidikan juga
mempunyai peranan penting dalam
membangun literasi gizi dan perilaku
konsumsi sehat sejak dini. Sekolah
dapat menjadi tempat yang tepat
untuk memberi edukasi gizi,
menyediakan alternatif minuman
sehat, dan memmbatasi akses
terhadap produk minuman
berpemanis di lingkungan sekolah. Di
Australia membuktikan bahwa
program dengan pendeketan
berbasis sekolah melalui program
“Thirsty? Choose Water!” dapat
menurunkan konsumsi minuman
berpemanis secara signifikan.
Intervensi ini menggabungkan
strategi perilaku dan lingkungan,
seperti kampanye promosi air
minum, penyediaan fasilitas isi ulang
air minum di sekolah, serta kegiatan
edukasi melalui kurikulum
pembelajaran di sekolah , Melalui temuan ini
menegaskan bahwa edukasi gizi di
sekolah akan lebih efektif bila
diiringi dengan perubahan
lingkungan yang mendukung pilihan
sehat, bukan sekadar penyampaian
informasi.
Dalam konteks penerapan di
negara kita , pendekatan serupa dapat
diterapkan melalui penguatan
pendidikan gizi di sekolah
menengah, pembatasan akses
terhadap produk minuman
berpemanis di kantin, serta
penyediaan fasilitas isi ulang air
minum gratis bagi siswa. Integrasi
intervensi edukatif dan struktural di
lingkungan sekolah diharapkan
mampu mengubah kebiasaan
konsumsi remaja menuju pola
konsumsi yang lebih sehat serta
menurunkan angka risiko penyakit
tidak menular, terutama karies gigi
di kemudian hari.
Selain pendekatan intervensi
berbasis sekolah yang memiliki peran
dalam membentuk perilaku konsumsi
sehat pada remaja, hasil kajian ini
juga memiliki sejumlah keterbatasan
yang perlu diperhatikan untuk
interpretasi dan pengenbangan
penelitian selanjutnya.
Meskipun hasil kajian ini
menunjukkan hubungan yang
konsisten antara minuman
berpemanis dan peningkatan risiko
karies gigi pada remaja, ada
beberapa keterbatasan yang perlu
diperhatikan. Sebagian besar
penelitian yang di-review
menggunakan desan penelitian
potong lintang (cross-sectional),
sehingga tidak dapat dipastk=ikan
hubungan sebab-akibat secara
langsung antara konsumsi minuman
berpemanis dan kejadian karies.
Selain itu, perbedaan dalam metode
pengukuran asupan gula, frekuensi
konsumsi, serta variasi dalam teknik
pemeriksaan karies antarnegara
dapat memengaruhi interpretasi
hasil dan membatasi generalisasi
temuan penelitian. Faktor lain
seperti status social ekonomi,
kebiasaan menjaga kebersihan mulut
dan pola diet secara keseluruhan
juga berpotensi menjadi variabel
pengganggu yang belum sepenuhnya
dikendalikan dalam Sebagian besar
studi yang di-review.
Arah penelitian selanjutnya
yang dapat dilakukan adalah
menggunakan desain longitudinal
atau kohort untuk mengevaluasi
dampak jangka panjang konsumsi
minuman berpemanis terhadap
perkembangan karies gigi pada
remaja. Selain itu, pendekatan
multidisipilin yang menggabungkan
aspek perilaku, sosial ekonomi, dan
kebijakan publik dapat
memeberikan pemahaman yang
lebih komprehensif mengenai faktor-
faktor yang memengaruhi konsumsi
minuman berpemanis. Penelitian di
masa mendatang juga diaharapkan
dapat menilai efektivitas
pendekataan yang melibatkan
kolaborasi lintas sektor antara
kesehatan, pendidikan, dan industri
pangan dalam upaya menurunkan
konsumsi minuman berpemanis pada
remaja secara berkelanjutan.
Penelitian berbasis populasi di
negara kita menjadi sangat diperlukan
untuk menilai efektivitas intervensi
edukasi gizi, pembatasan akses
terhadap produk minuman
berpemanis di kantin sekolah, serta
penerapan kebijakan fiskal seperti
pajak gula dalam menekan konsumsi
gula tambahan di kalangan remaja.
Hasil dari penelitian ini
diharapkan dapat menjadi dasar
ilmiah dalam perumusan kebijakan
gizi nasional serta strategi
pencegahan karies gigi yang lebih
efektif dan berkelanjutan.
Review artikel ini
menunjukkan bahwa konsumsi
minuman berpemanis secara
konsisten berhubungan dengan
peningkatan risiko karies gigi pada
remaja. Faktor perilaku seperti
frekuensi menyikat gigi dan
kunjungan ke dokter gigi, serta total
asupan gula harian memengaruhi
kekuatan hubungan ini .
Paparan konsumsi gula sejak usia
muda diketahui berdampak lebih
kuat terhadap pembentukan karies
gigi permanen dan dapat
memperburuk kesehatan mulut di
masa dewasa. Selain itu, konsumsi
minuman berpemanis juga dikaitkan
dengan gangguan metabolic seperti
obesitas dan diabetes melitus yang
menunjukkan bahwa dampak
minuman berpemanis tidak hanya
bersifat lokal pada rongga mulut,
tetapi juga sistemik terhadap
kesehatan tubuh secara
keseluruhan.
Temuan ini menegaskan
pentingnya upaya pencegahan karies
gigi yang menekankan pembatasan
konsumsi minuman berpemansi,
peningkatan edukasi perilaku
kebersihan mulut, serta promosi
konsumsi air putih melalui intervensi
berbasis sekolah. Lingkungan
sekolah dapat menjadi ruang yang
strategi dalam membentuk perilaku
konsumsi sehat melalui penyediaan
fasilitas isi ulang air minum gratis,
pembatasan penjualan produk
minuman berpemanis di kantin
sekolah, dan integrasi edukasi gizi
dalam kurikulum pembelajaaran di
sekolah. Upaya ini perlu diperkuat
oleh kebijakan lintas sektor,
termasuk penerapan kebijakan pajak
minuman berpemanis, pembatasan
promosi produk tinggi gula kepada
remaja, serta kampanye sosial yang
berkelanjutan untuk meningkatkan
kesadaran remaja terhadap bahaya
konsumsi gula berlebih.
Dengan mengintegrasikan
pendeketan edukatif, lingkungan
sosial, dan kebijakan publik,
pencegahan karies gigi dapat
dilakukan secara lebih efektif dan
berkelanjutan. Tinjauan ini juga
memberi dasar ilmiah bagi
pemerintah negara kita untuk
memperkuat kebijakan
pengendalian konsumsi gula,
khususnya dalam konteks remaja
sebagai kelompok usia kritis yang
menentukan pola konsumsi di masa
depan.
Hasil kajian ini diharapkan
menjadi dasar ilmiah bagi
pengembangan strategi kesehatan
warga dan kebijakan gizi
nasional yang berorientasi pada
pencegahan penyakit tidak menular
melalui pengendalian konsumsi gula
pada remaja. Selain, itu penelitian
lanjutan dengan desai longitudinal
diperlukan untuk memperkuat bukti
kausal antara konsumsi minuman
berpemanis dan dampaknya
terhadap kesehatan gigi serta
metabolik pada populasi kelompok
usia remaja di negara kita . Dengan
demikian, temuan dari tinjauan
sistematik ini diharapkan dapat
berkontribusi terhadap Upaya
nasional dalam menciptakan
generasi muda yang lebih sehat,
produktif, dan memiliki kesadaran
gizi yang lebih baik terhadap risiko
konsumsi gula berlebih.







