Kematian

 


KEMATIAN JANTUNG

Latar belakang: Kematian Jantung Mendadak yaitu  kejadian mendadak yang

tak terduga, disebabkan oleh jantung, yang terjadi kurang dari 1 jam sesudah  onset

gejala pada seseorang tanpa suatu kondisi fatal sebelumnya atau tidak mengalami

suatu gejala 24 jam sebelum ditemukan meninggal dunia. 

Objektif:  Tujuan  penelitian  yaitu   untuk  mendeskripsikan  karakteristik  dari

kematian  jantung  mendadak  di  Brasov  country,  Romania  (400.000  warga )

berdasar  data-data otopsi departemen forensik lokal. 

Metode:  Penelitian  dilakukan  secara  restrospektif  meninjau  sejumlah  7.200

laporan otopsi antara tahun 2001 dan 2015 untuk mengidentifikasi kasus kematian

jantung mendadak. Data termasuk pemicu  kematian, demografi, lokasi kejadian,

penyakit yang diketahui sebelumnya, serta komorbiditas kejiwaan. 

Hasil:  Dari  7.200  otopsi  yang  dilakukan  selama  periode  15  tahun,  kami

mengeksklusi 276 kasus dengan data yang tidak lengkap. Sisanya ada  6.924

kasus termasuk 3.000 otopsi (43,3%) sebab  kematian akibat tindak kekerasan:

kecelakaan, bunuh diri, dan pembunuhan. Kasus kematian tanpa kekerasan yaitu 

3.924 kasus (56,7%). Dari 3924 kematian tanpa kekerasan ini , berdasar 

data departemen forensik,  kami mengidentifikasi  1.085 kasus kematian jantung

mendadak (749 laki-laki [69%]; usia rata-rata, 56 ± 17,4 tahun).

Kesimpulan:  Kematian  mendadak  dengan  etiologi  jantung  masih  menjadi

pemicu  utama tidak terduganya akhir kehidupan di sebagian besar kasus yang

diotopsi selama masa penelitian.

Kematian jantung mendadak yaitu  kejadian tak terduga dari  pemicu 

jantung yang mempengaruhi  jutaan kasus setiap tahun memiliki  dampak buruk

pada  keluarga  dan  warga .  Hal  ini   merupakan  masalah  kesehatan

warga   utama  di  seluruh  dunia  yang  berdampak  besar  secara  sosial  dan

ekonomi.  Definisi  yang paling banyak digunakan menyatakan bahwa kematian

jantung mendadak merupakan kejadian alami yang terjadi dalam waktu kurang

dari  1  jam  sejak  dimulainya  gejala  pada  individu  tanpa  suatu  kondisi  yang

berpotensi  fatal.  Tingkat  kelangsungan  hidup  rata-rata  yaitu  10,6%,  dan

kelangsungan hidup dengan fungsi  neurologis  yang baik yaitu  8,3%. Hampir

satu dari  tiga korban memiliki  saksi saat kejadian.  Dalam kelompok usia 1-40

tahun,  kematian  jantung  mendadak,  kematian  mendadak  noncardiak,  dan

kematian  mendadak  yang  tidak  dapat  dijelaskan  angka  kejadiannya  berbeda

menurut usia. sebab  kejadian penyakit arteri koroner prematur meningkat secara

bertahap  seiring  bertambahnya  usia,  proporsi  pemicu   jantung  lainnya  pada

kematian  mendadak  mungkin  lebih  tinggi  pada  kelompok  usia  lebih  rendah.

Sindrom  aritmia  primer  terutama  terjadi  pada  anak-anak  sebagai  penyabab

kematian mendadak, sedangkan kardiomiopati biasanya terjadi pada usia dewasa

muda. 

Kematian jantung mendadak diperkirakan terjadi antara 180 dan 400 kasus

per tahun di Amerika Serikat, namun di Romania, masih belum diketahui.

Artiikel-artikel  yang  telah  diterbitkan  sebelumnya  menunjukkan  bahwa

pria  dengan usia  antara  50 dan 69 tahun merupakan yang paling  terpengaruh.

Epidemiologi  kematian  jantung  mendadak  berkorelasi  erat  dengan  penyakit

jantung koroner (PJK), dan 80% korban memiliki PJK. Faktor risiko paling umum

yang sangat meningkatkan risiko kematian jantung mendadak yaitu  hipertensi

arterial  sistemik,  diabetes,  dan  merokok.  Pada  individu  muda,  diagnosis  yang

paling banyak ditemukan pada otopsi yaitu  kardiomiopati hipertrofik, anomali

arteri koroner, dan displasia aritmogeik pada ventrikel kanan. Kami sebelumny

telah  melakukan  penelitian  yang  menggambarkan  insidensi  kematian  jantung

mendadak  dan  pemicu   kematian  pada  penderita  skizofrenia.  Hasil  otopsi

menunjukkan  bahwa  kematian  mendadak  pada  skizofrenia  disebabkan  oleh

kelainan struktural kardiovaskular, pernafasan, dan neurologis, dan sebagian besar

kasus disebabkan oleh infark miokard akut. pemicu  utama kematian mendadak

pada  demensia  yaitu   infark  miokard  (25,5%)  pada  kasus  dengan  kematian

mendadak  yang  takterduga  berdasar   temuan  otopsi.  Otopsi  sangat  penting

untuk  mengidentifikasi  pemicu   kematian  jantung  mendadak  pada  korban.

Mengetahui  pemicu   kematian  jantung  mendadak  sangat  penting  sebab 

penelitian  sebelumnya  menemukan  sindrom  aritmia  herediter  pada  hampir

separuh  kerabat  yang  memiliki  hubungan  darah,  sehingga  diduga  menjadi

pemicu   kematian  dan  mengidentifikasi  keluarga  yang  masih  bertahan  yang

berisiko mengalami hal serupa.

Informasi lebih lanjut diperlukan untuk lebih meningkatkan alat stratifikasi

dan  strategi  pencegahan  di  masa  depan.  Tujuan  penelitian  ini   yaitu   untuk

menggambarkan  karakteristik  kematian  jantung  mendadak  di  Brasov  county,

Rumania, selama periode 15 tahun sesuai dengan hasil otopsi pada 6.424 kasus.


Brasov  yaitu   salah  satu  kota  terpenting  di  Rumania  dengan  populasi

heterogen termasuk etnis Rumania, Jerman, dan Hungaria. Jumlah warga  di

wilayah  ini  sekitar  400.000  jiwa  dengan  tingkat  urbanisasi  yang  tinggi

dibandingkan dengan wilayah lainnya di negara ini. 

Departemen forensik lokal  bertanggung jawab atas  otopsi  korban kematian

kekerasan dan tanpa kekerasan yang dirujuk dari dinas kesehatan kota atau oleh

pihak berwenang saat ada  permintaan otopsi untuk mengklarifikasi pemicu 

kematian.


Dalam penelitian ini, dilakukan penilaian laporan otopsi yang dilakukan oleh

departemen forensik lokal antara 1 Januari 2001, dan 31 Desember 2015. Untuk

kriteria inklusi yaitu menetapkan kematian mendadak yang tak terduga sebagai

kematian tak terduga dalam waktu 1 jam dari onset gejala atau, pada kondisi kasus

yang tidak disaksikan, seperti kematian seseorang yang terakhir terlihat hidup dan

berfungsi  baik  24  jam sebelum kematian.  Data  dikumpulkan  dari  Departemen

Forensik Kabupaten Brasov berdasar  sertifikat pendaftaran dan kematian dan

termasuk  pemicu   kematian,  demografi,  komorbiditas  (kondisi  medis  dan

penyakit kejiwaan jika diketahui), waktu dan tempat kejadian, manuver resusitasi,

dan konsentrasi alkohol darah. Kasus dieksklusi jika pemicu  kematian berasal

dari  etiologi  lain  (cerebrovascular  accidents,  emboli  paru,  atau  asma),

pembunuhan, atau bunuh diri, atau jika data tidak lengkap. Studi ini telah disetujui

oleh komite etik institusi.

 Pelaksanaan Otopsi

Di Brasov County, Rumania, semua otopsi dilakukan di Departemen Forensik

Brasov  country  saat  pemeriksaan  mayat  tidak  menunjukkan  adanya  pemicu 

yang pasti  atau mengungkapkan cara kematian.  Selama otopsi  forensik,  semua

organ diperiksa secara menyeluruh dan pemeriksaan toksikologi dilakukan pada

kasus kematian mendadak yang takterduga yang tidak dapat dijelskan baik pada

remaja maupun dewasa.  Data ditulis dalam registri yang ditunjuk dan kemudian

diarsipkan di tempat-tempat khusus.

 Analisis Statistik

Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan SPSS 20.0. Data kontinyu

disajikan sebagai mean ± standar deviasi, sedangkan variabel kategori dinyatakan

sebagai jumlah dan/atau persentase. Uji t sampel independen dilakukan untuk data

kontinyu. Uji Χ2 untuk tabel 2 x 2 digunakan untuk membandingkan signifikansi

untuk data kategori. Nilai P 2-tailed kurang dari 0,05 dianggap signifikan secara

statistik.


 Kasus-Kasus Otopsi

Kasus yang diotopsi pada tahun 2001 hingga 2015 yaitu sejumlah 7.200 kasus

yang dilakukan di Departemen Forensik Brasov country. Untuk tujuan penelitian

ini, peneliti mengeksklusi 276 kasus dengan data yang tidak lengkap. Dari 6.924

otopsi,  peneliti  menemukan  3.000  kasus  dengan  kematian  kekerasan  (68%

kecelakaan, 23% kasus bunuh diri, dan pembunuhan 9%), 2.340 laki-laki (78%)

dengan  usia  rata-rata  44,1  ±  13,4  tahun.  Sisanya  3.924  kasus  ini   yaitu 

kematian tanpa kekerasan, 2.708 laki-laki (69%) dengan usia rata-rata 58,7 ± 16,4

tahun.  Peneliti  menyadari  bahwa  jumlah  otopsi  yang  dilakukan  untuk  kasus

kekerasan  sekitar  200  kasus  dalam  setahun,  dan  ada  kecenderungan  menurun

sejak tahun 2011 hingga saat ini (Gambar 1).

Gambar 1. Jumlah otopsi pada kasus kekerasan dan tanpa kekerasan antara tahun 2001 dan 2015.

 Kasus-Kasus Kematian Jantung Mendadak

Otopsi  pada  kasus  kematian  tanpa  kekerasan  menunjukkan  ada   1.085

kasus dengan kematian jantung mendadak, 749 laki-laki (69%) dengan usia rata-

rata 56 ± 17,4 tahun dan 336 warga  dengan usia rata-rata 62 ± 13,4 (P <0,01).

Rata-rata  jumlah  kematian  jantung  mendadak  yaitu   72,33  kasus  per  tahun,

dengan 66 kasus pada tahun 2001 (jumlah terendah) dan 80 kasus di tahun 2008

(jumlah  tertinggi).  ada   2  periode  dengan peningkatan  jumlah  otopsi  pada

kasus tanpa kekerasan: 2002 sampai 2005 dan 2010 sampai 2015 (Gambar 2). 

Gambar 2. Jumlah otopsi kasus tanpa kekerasan anatara tahun 2001 dan 2015.

Kejadian kematian jantung mendadak  yaitu 16 dari 100.000 warga .

berdasar  kelompok usia,  ada   634 otopsi  (58,5%) yang dilakukan pada

kelompok usia antara 50 dan 69 tahun. Sebagian besar laki-laki dengan kematian

jantung mendadak (536 kasus) terjadi pada kelompok usia 40 hingga 69 tahun

(71,5%),  dan  219 warga   terjadi  pada  kelompok  usia  60  hingga  89 tahun

(65,1%).  Distribusi  kematian  jantung  mendadak  yang  berkaitan  dengan  usia

disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Distribusi kematian jantung mendadak terkait usia

10

 pemicu  Kematian

pemicu  kematian yang ditemukan saat otopsi pada kasus kematian jantung

mendadak  yaitu   penyakit  jantung  koroner  (PJK)  sebanyak  635  (58,5%)  dari

1.085 kasus diikuti oleh kardiomiopati hipertrofik (7%, 77/1085), Arrhythmogenic

Right Ventricular Cardiomyopathy (ARMP) (6%, 65/1085), dan miokarditis (3%,

37/1085). Kasus lain termasuk diseksi aorta, penyakit katup, cacat bawaan, dan

tumor.  pemicu  kematian  yang tidak  dapat  dijelaskan  atau  tidak  meyakinkan

sesudah  diotopsi ada  pada 229 (13,5%) dari 1.085 kasus. 

Pada kelompok anak-anak (usia, 1-18 tahun), peneliti menemunkan 37 kasus

dengan kematian jantung mendadak yang diotopsi antara tahun 2001 hingga 2015,

23 laki-laki (62,1%), 30 kasus pada dekade pertama kehidupan dan 7 kasus pada

dekade  kedua  kehidupan.  Dari  37  kasus  ini ,  peneliti  mengidentifikasi

kesimpulan  pemicu   kematian  pada  kasus-kasus  ini   yaitu   tidak  dapat

dijelaskan sejumlah 9% kasus. pemicu  kematian pada kelompok anak disajikan

pada Tabel 1.

Individu dengan kematian jantung mendadak lebih dari 20% memiliki risiko

kardiovaskular:  riwayat  hipertensi  (56,1%),  diabetes  (28%),  merokok  (22%),

obesitas (13%), dan penyalahgunaan alkohol (11%) (Tabel 2).

Tabel  1.  pemicu   kematian  pada  37  kasus  otopsi  pada  anak-anak  dengan  kematian  jantung

mendadak.

Tabel 2. Faktor risiko kematian jantung mendadak

 Lokasi Kematian

Kematian jantung mendadak pada 2.200 kasus, 56,1% terjadi di rumah; 1.339

kasus  (34,1%) kematian  terjadi  di  ruang gawat  darurat  (disebut  kematian  saat

kedatangan  di  gawat  darurat).  Dalam  237  kasus  (6,0%),  individu  ini 

ditemukan tewas. Pada sisa kasus (3,8%), kematian terjadi selama aktivitas fisik

berat  (mengangkat  atau  mengurangi  berat  badan)  atau  olahraga  (sepak  bola,

mendaki, ski, dan bersepeda).

 Resusitasi Kardiopulmonal

Secara  keseluruhan,  2.145  (54,6%)  dari  3.924  pasien  mendapat  manuver

resusitasi jantung paru-paru (RJP). Kurang dari 1% kasus, pemberitahuan khusus

untuk " do not resuscitate " tersedia. Di Brasov County, layanan ambulan publik

diwajibkan mengirim petugas terlatih dan perlengkapan yang lengkap untuk setiap

permintaan  yang  dilakukan  melalui  layanan  panggilan  112.  Perbaikan  sistem

kesehatan, dengan jumlah ambulan yang lebih banyak di pelayanan publik dan

juga perusahaan ambulan swasta  dan ruang gawat  darurat  baru di rumah sakit

umum dan swasta, dapat tercermin dari peningkatan jumlah RJP sejak 2009 yang

mencapai  persentase  tertinggi  (59,6%)  pada  tahun  2015.  Jumlah  pasien  yang

selamat sesudah  serangan jantung di luar rumah masih sangat rendah (kurang dari

2%).

E. DISKUSI

Penelitian ini merupakan studi pertama yang mencirikan berbagai aspek

yang berkaitan dengan kematian jantung mendadak di Rumania. Temuan utama

yaitu  tingginya  tingkat  kematian  jantung mendadak pada kelompok kematian

tanpa kekerasan.  Kematian  jantung mendadak terkait  jenis  kelamin,  ditemukan

rasio laki-laki banding warga  yaitu  69:31. Tidak ada perubahan besar dalam

pola selama ini.  Laporan sebelumnya menunjukkan perbandingan  pria dengan

wanita yaitu 75:25. Pada penelitian baru-baru ini menunjukkan perbandiangn jenis

Ikelamin yang dilaporkan yaitu  60:40. Isiden kematian jantung mendadak yaitu 

16 dari 100.000 warga , dan penelitian sebelumnya melaporkan angka kejadian

yaitu   antara  2 dari  100.000 dan 40 dari  100.000 tergantung  pada  usia,  jenis

kelamin, dan status ekonomi negara ini . Di Amerika Serikat, insiden tahunan

kematian jantung mendadak selama latihan yaitu  1 dari 200.000 sampai 1 dari

250.000 kasus pada orang muda yang sehat. 

Penyakit  jantung koroner  bertanggung jawab atas  sebagian  besar  kasus

kematian jantung mendadak (58,5%), diikuti oleh kardiomiopati hipertrofik (7% ),

ARVC (6%),  dan  miokarditis  (3%).  Penelitian  sebelumnya  telah  menunjukkan

bahwa lebih dari 75% kasus kematian jantung mendadak berkorelasi dengan PJK

yang  ada  sebelumnya.  Dari  kasus  ini ,  10%-15% teridentifikasi  lesi  yang

sesuai untuk penyakit miokardiak seperti kardiomiopati hipertrofik, kardiomiopati

dilatasi  idiopatik,  displasia  aritmogen  ventrikel  kanan,  atau  penyakit  miokard

infiltratif.

Terlepas  dari  kenyataan  bahwa  penemuan  peneliti  diperoleh  sesudah 

penelitian retrospektif, peneliti menemukan faktor risiko penting seperti diabetes,

merokok,  obesitas,  dan  dislipidemia.  Salah  satu  studi  yang  paling  penting

menunjukkan  bahwa  usia,  hipertensi,  hipertrofi  ventrikel  kiri,  blok  konduksi

intraventrikular,  peningkatan  kadar  kolesterol  serum,  intoleransi  glukosa,

penurunan  kapasitas  vital,  merokok,  berat  relatif,  dan  denyut  jantung

mengidentifikasi individu yang berisiko mengalami kematian jantung mendadak.

Menurut studi Framingham, insiden tahunan kematian jantung mendadak

meningkat dari 13/1000 orang yang tidak merokok menjadi hampir 2,5 kali lipat

bagi orang-orang yang merokok lebih dari 20 batang rokok per hari.

Peneliti menemukan peningkatan jumlah RJP, dari tahun ke tahun, selama

masa studi di Brasov County. Pada sebagian besar kasus, pasien dengan kematian

jantung mendadak berada di rumah saat kejadian terjadi,  jadi  saat  kritis  untuk

intervensi  dalam  banyak  kasus  terlampaui.  Meskipun  memperbaiki  praktik

resusitasi, dalam artikel yang baru-baru ini diterbitkan tentang topik ini, peneliti

menemukan tingkat kelangsungan hidup bagi mereka yang mengalami serangan

jantung di luar rumah yaitu  5%-10%. Dalam banyak kasus,  sesudah  resusitasi

yang berhasil, orang-orang yang selamat mengalami gangguan neurologis berat.

Dalam studi  Maastricht,  80% kasus  henti  jantung terjadi  di  rumah dan

40% tidak disaksikan, dengan kemungkinan RJP berhasil yang rendah. Penelitian

ini  memiliki  beberapa keterbatasan.  Pertama,  ini  yaitu   penelitian  retrospektif,

dan beberapa data spesifik kurang mengenai kejadian seperti profil faktor risiko

kematian jantung mendadak yang lengkap, deskripsi manifestasi klinis yang lebih

baik  yang  dipresentasikan  oleh  korban  sebelum  kematian  dalam  kasus  yang

disaksikan,  dan prosedur  RJP yang dilakukan atau protokol  otopsi,  pernyataan

kerabat, dan status sosial ekonomi.

Keterbatasan kedua yaitu  kemungkinan tidak adanya keseluruhan kasus

kematian mendadak dari otopsi (batasan agama dan budaya, usia ekstrim, salah

tafsir kematian di rumah sakit, pasien dari daerah pedesaan, dll).

Kekuatan penelitian ini, terlepas dari keterbatasan, yaitu  evaluasi jumlah

kasus yang tinggi selama periode yang signifikan (15 tahun) di wilayah dengan

populasi  heterogen,  yang  membuat  hasilnya  bermanfaat  untuk  bagian  penting

Eropa Timur.


Kematian  jantung  mendadak  terjadi  sekitar  lebih  dari  25% dari  semua

kematian  tanpa  kekerasan  di  komunitas  urban  Rumania.  berdasar   laporan

otopsi,  kami  menemukan  bahwa  penyakit  jantung  koroner  (coronary  artery

disease, CAD) yaitu  pemicu  kematian paling sering; Pria lebih rentan dalam

dekade  keenam  kehidupan.  Kejadian  sering  terjadi  di  rumah,  dan  manuver

resusitasi jantung paru dilakukan di lebih dari separuh kasus. Strategi pencegahan

diperlukan untuk menurunkan  masalah  kesehatan  utama ini  sebab   berdampak

besar secara emosional, sosial, dan ekonomi.


KEMATIAN YANG MENDADAK


Sudden Infant Death Syndrome yaitu  suatu kematian yang mendadak dan tidak terduga 
pada bayi yang tampaknya sehat. Bayi mengalami SIDS dan hampir selalu saat  mereka 
sedang tidur.SIDS jarang terjadi sebelum umur 1 bulan, insidensi puncak SIDS terjadi 
pada usia 2-4 bulan,  95% dari semua kasus SIDS terjadi pada umur 6 bulan dan terjadi di 
seluruh dunia. 
Kematian bayi mendadak tidak terduga dan dengan alasan yang tetap tidak jelas, bahkan 
sesudah  otopsi,merupakan sara kematian paling utama pada tahun pertama kehidupan 
sesudah  masa neonatus.  
 
2. pemicu  
pemicu  SIDS masih belum diketahui jelas. Namun, bukti statistik menunjukkan ada 
kaitannya dengan beberapa faktor pemicu SIDS, yaitu sebagai berikut:  
 
a. Sumbatan jalan napas 
Terjadi jika jalan napas yang normal menyempit secara otomatis saat tidur, 
penyempitan ini memicu  jeda singkat dalam bernapas disebut obstruktif apnea, 
mekanisme lain yang memicu  obstruksi yaitu  spasme laring, yang mengacu 
pada kontraksi tiba-tiba otot laring, saat  ini terjadi oksigen terlambat memasuki 
paru-paru dan ini dapat mengakibatkan tidak cukupnya oksigen untuk jantung dan otak 
sehingga bisa berakibat fatal. 
b. Asfiksia atau mati lemas 
dipicu  oleh ketidakmampuan untuk bernapas, kondisi ini memicu  
kurangnya oksigen dalam tubuh dan memicu  kematian, Asfiksia dapat 
dipicu  oleh tersedak, penyempitan daerah dada atau perut, tercekik. Dan 
menghirup gas beracun. Biasanya benda-benda yang berkaitan dengan Asfiksia seperti 
kantong plastic, bantal lembut dan bahan yang lembut seperti boneka binatang, benda-
benda ini dapat menyumbat mulut dan lubang hidung sehingga memicu  sesak 
napas. pemicu  yang sering terjadi pada bayi yaitu  sesak napas yang tidak disengaja 
dan tercekik saat  di tempat tidur. 
c. Bayi lahir prematur atau BBLR 
Bayi premature berisiko 50% lebih besar mengalami SIDS sebab  seluruh system 
organ tubuhnya terutama paru-paru belum mencapai pematangan yang cukup, 
sehingga belum siap berfungsi menopang kehidupan diluar rahim atau belum bekerja 
dengan sempurna, sangat disarankan untuk menjalani perawatan bayi di incubator. 
d. Posisi tidur bayi tengkurap  
Posisi tidur tengkurap dapat meningkatkan kemungkinan penutupan jalan napas. 
e. Ibu perokok/terpapar asap rokok 
Banyaknya volume karbondioksida yang di hisap oleh bayi peroko pasif ini menjadi 
faktor pemicu  meningkatnya gangguan pada system pernapasan yang memicu  
bayi meninggal mendadak. 
f. Tidur bersama orang tua   
Risiko kematian bayi bisa berkurang jika bayi tidur sekamar dengan orang tuanya 
sebab  dapat memudahkan orang tua memantau bayi tersebut, namun jika bayi tidur 
pada tempat atau ranjang yang sama, maka risiko terjadi kematian bayi bisa meningkat  
sebab  dipicu  adanya lebih banyak permukaan yang empuk atau lunak sehingga 
dapat mengganggu bayi dalam bernapas atau terhimpit oleh orang tua saat tidur. 
g. Suhu yang meningkat 
Penting untuk selalu memerhatikan suhu ruangan atau kamar bayi saat  tidur agar 
tidak terlalu panas ataupun dingin. Serta selalu sesuaikan pemakaian baju bayi dengan 
suhu kamar. 
 
3. GEJALA 
Tidak ada gejala yang mendahului terjadinya SIDS, akan tetapi kita bisa mencegah. 
 
4. DIAGNOSA 
SIDS didiagnosis jika seorang bayi yang tampaknya sehat tiba-tiba meninggal dan hasil 
otopsi tidak menunjukkan adanya pemicu  kematian yang jelas. Semakin banyak bukti 
bahwa bayi dengan resiko SIDS memiliki  cacat fisiologik sebelum lahir. Pada 
neonatus dapat di temukan nilai apgar yang rendah dan abnormalitas control respirasi, 
denyut jantung dan suhu tubuh, serta dapat pula mengalami retardasi pertumbuhan pasca 
natal. SIDS didiagnosis jika seorang bayi yang tampaknya sehat tiba-tiba meninggal dan 
hasil otopsi tidak menunjukkan adanya pemicu  kematian yang jelas. 
 
5. PENGOBATAN 
Pengobatan diberikan untuk orang tua yang berduka khususnya untuk ibu. 
a. Berikan konseling pada orang tua dan tekankan bahwa mereka tidak bersalah atas 
kematian bayinya. 
b. Dorong orang tua untuk mengekspresikan rasa bersalahnya. 
c. Gunakan keterampilan mendengar yang terapeutik atau baik untuk membantu orang 
tua dalam masa berduka. 
d. Berikan privasi yang cukup bagi orang tua untuk menyendiri dengan anak. 
 
 
6. PENCEGAHAN 
Angka kejadian SIDS telah menurun secara berarti (hampir mendekati 50%) sejak para 
orang tua dianjurkan untuk menidurkan bayinya dalam posisi terlentang atau miring 
(terutama ke kanan). 
a. Posisikan tidur bayi terlentang  
Selalu letakkan bayi Anda dalam posisi terlentang saat  ia sedang tidur, walaupun 
saat tidur siang. Posisi ini yaitu  posisi yang paling aman bagi bayi yang sehat untuk 
mengurangi risiko SIDS. 
b. Jangan pernah menengkurapkan bayi secara sengaja saat  bayi tersebut belum 
waktunya untuk bisa tengkurap sendiri secara alami. 
c. Gunakan kasur atau matras yang rata dan tidak terlalu empuk. Penelitian 
menyimpulkan bahwa risiko SIDS akan meningkat drastis apabila bayi diletakkan di 
atas kasur yang terlalu empuk, sofa, bantalan sofa, kasur air, bulu domba atau 
permukaan lembut lainnya. 
d. Pastikan wajah dan kepala bayi Anda tidak tertutup oleh apapun selama dia tidur. 
Jauhkan selimut dan kain penutup apapun dari hidung dan mulut bayi Anda. 
e. Jauhkan bayi dari asap rokok 
Jangan biarkan siapapun merokok di sekitar bayi Anda khususnya Anda sendiri. 
Hentikan kebiasaan merokok pada masa kehamilan maupun kelahiran bayi Anda 
dan pastikan orang di sekitar si bayi tidak ada yang merokok. 
f. Perhatikan suhu ruangan 
Jangan biarkan bayi Anda kepanasan atau kegerahan selama dia tidur. Buat dia tetap 
hangat tetapi jangan terlalu panas atau gerah. Kamar bayi sebaiknya berada pada 
suhu yang nyaman bagi orang dewasa. Selimut yang terlalu tebal dan berlapis-lapis 
bisa membuat bayi Anda terlalu kepanasan. 
g. Room sharing 
Temani bayi Anda saat ia tidur. Orang tua tidak dianjurkan untuk tidur  bersama 
bayi dalam tempat tidur yang sama sebab  akan meningkatkan risiko terhimpit, 
upayakn bayi memiliki tempat tidur sendiri, namun tetap dengaan orang tua. 


 
Penentuan pemicu  dan cara kematian telah diakui selama 
beberapa dekade terakhir sebagai suatu tujuan klasik dari otopsi 
forensik. Meskipun tidak baru, tujuan lain muncul baru-baru ini dari 
konflik etnis dan genosida yang sama pentingnya dengan tujuan 
pertama, yaitu identifikasi korban. Dengan demikian, pemicu  
kematian dan identifikasi pada dasarnya dua tujuan utama dari otopsi 
medikolegal.1 
Cara kematian (dikenal di negara-negara Latin sebagai "etiologi 
medikolegal," di mana hal itu dianggap sebagai tujuan otopsi lain) 
bertujuan untuk membedakan kematian sebab  kecelakaan, bunuh diri, 
pembunuhan, atau kematian yang belum ditentukan. Mengikuti cara 
berpikir di atas, cara kematian bisa jadi akibat dari banyak sebab dan 
mekanisme kematian. Contoh klasik yaitu  salah satu luka tembak 
(pemicu  kematian), yang bisa diklasifikasikan sebagai empat 
perilaku kematian: pembunuhan (seseorang yang menembak korban), 
bunuh diri (tembakan dilakukan sendiri), kecelakaan (tembakan tidak 
sengaja), dan belum ditentukan (tidak ada saksi kejadian, dan otopsi 
gagal untuk mengklarifikasi cara kematian). Mekanisme kematian bisa 
berupa syok hipovolemik sebab  perdarahan atau,jika orang ini  
bertahan, komplikasi tromboembolik atau infeksi, seperti 
bronkopneumonia atau peritonitis, bisa terjadi. 1 
pemicu  dan cara penentuan kematian seringkali menyiratkan 
analisis laboratorium dan (selalu) informasi tentang keadaan kematian 
yang dapat ditentukan oleh laporan kejadian polisi atau pihak 
berwenang lainnya atau jika ahli patologi yaitu  orang yang 
memulihkan tubuh dari situs ini tidak selalu sederhana dan mudah 
sebab  pernyataan patologinya tidak jarang bertentangan dengan 
laporan kejadian atau cerita polisi tentang kasus ini. Apalagi keluarga 
jarang menerima bunuh diri sebagai pemicu  kematian. Itulah 
mengapa ahli patologi harus mempelajari setiap kasus dengan 
seksama, harus mendapat informasi yang baik tentang kejadian seputar 
korban, dan mendokumentasikan penyelidikan dengan hati-hati untuk 
menghasilkan keputusan akhir. Secara luar biasa, pemicu  alami 
kematian bisa dianggap sebagai pembunuhan. 1,2 
Kadang-kadang, cara kematian dapat dinyatakan tanpa penentuan 
pemicu  kematian. Dalam bunuh diri didokumentasikan dilakukan 
oleh seorang perawat yang disuntik dirinya dengan produk anestesi, 
racun itu tidak terdeteksi oleh analisis laboratorium. Makroskopi dan 
histologi juga tidak spesifik. Namun, keadaan yang begitu jelas-jarum 
suntik yang ditemukan di lengan, botol kosong di keranjang sampah, 
dan perpisahan surat-yang bunuh diri diperintah. 1,2 
 
II. KLASIFIKASI 
Ada beberapa prinsip umum yang dapat memandu penentuan 
klasifikasi cara kematian untuk keperluan sertifikat kematian. Hal ini 
penting untuk mengenali bahwa sertifikat kematian memiliki kegunaan 
yang unik yang mendikte satu set khusus dari pedoman klasifikasi cara 
kematian. 2 
a. Ada pengecualian untuk setiap “aturan,” tapi setiap aturan berlaku 
sebagian besar waktu. Oleh sebab  itu, aturan dapat diubah atau 
rusak dalam keadaan luar biasa tapi bisa, dan harus diikuti 
sebagian besar waktu.   
b. Ada “aturan” dasar, umum untuk mengklasifikasikan cara 
kematian.  
- Natural death / Kematian alami yaitu  cara kematian sebab  
semata-mata atau hampir benar-benar penyakit dan / atau 
proses penuaan 
 
- Unnatural Death / Kematian tidak alami1,2 
1. Accidental death / Kecelakaan terjadi saat cedera atau 
keracunan memicu  kematian dan hanya sedikit atau 
tidak ada bukti bahwa luka atau keracunan terjadi dengan 
maksud untuk menyakiti atau memicu  kematian. 
Intinya, hasil fatal itu tidak disengaja. 
2. Suicide / Bunuh diri diakibatkan oleh luka atau keracunan 
akibat tindakan yang disengaja dan ditimbulkan sendiri 
yang dilakukan untuk menyakiti diri sendiri atau 
memicu  kematian seseorang.  
3. Homicide / Pembunuhan terjadi saat kematian diakibatkan 
oleh tindakan kehendak yang dilakukan oleh orang lain 
untuk menimbulkan ketakutan, bahaya, atau kematian. 
Niat untuk memicu  kematian yaitu  unsur yang 
umum namun tidak diperlukan untuk klasifikasi sebagai 
pembunuhan (lebih di bawah). Perlu ditekankan bahwa 
klasifikasi Pembunuhan untuk tujuan sertifikasi kematian 
yaitu  istilah "netral" dan tidak menunjukkan atau 
menyiratkan maksud kriminal, yang tetap merupakan 
wewenang di dalam ranah proses hukum. 
- Undetermined / Tidak dapat ditentukan yaitu  klasifikasi yang 
digunakan bila informasi yang menunjuk pada satu cara 
kematian tidak lebih menjurus daripada satu atau lebih perilaku 
lainnya dalam pertimbangan menyeluruh dari semua informasi 
yang ada. Secara umum, ketika kematian melibatkan 
kombinasi proses alami dan faktor eksternal seperti cedera atau 
keracunan, preferensi diberikan pada cara kematian non-alami 
(non natural manner of death). 1,2 
 
 
 
 
III. PENENTUAN CARA KEMATIAN 
1. Natural Death / Kematian Alami 
Porsi penting dari kematian diselidiki oleh para ahli 
kedokteran forensik melibatkan penyakit alami, yang paling umum 
yaitu  penyakit kardiovaskular. Proses penyakit alami mengubah 
cara tubuh bereaksi terhadap dan perbaikan dari cedera. Semakin 
tua seseorang, semakin besar kemungkinan bahwa penyakit alami 
memiliki peran dalam kematian. Konsep ini dapat bekerja secara 
terbalik. Satu keliru dapat mengasumsikan bahwa sebab  orang 
ini  masih muda, penyakit alami bukan merupakan faktor 
dalam kematian. 2,3  
Banyak orang memiliki penyakit alami tidak diketahui atau 
tidak terdiagnosis yang memanifestasikan secara tiba-tiba, 
kematian tak terduga. Sebuah sejarah umum dalam kasus ini yaitu  
bahwa “ia tidak melihat dokter di tahun” atau “ia tidak percaya 
pada dokter.” Hasilnya yaitu  bahwa dokter pertama yang ia lihat 
yaitu  ahli kedokteran forensik, yang mendiagnosa apa yang 
merupakan penyakit alami diobati seperti penyakit kardiovaskular. 
“Kematian mendadak” yaitu  istilah yang digunakan sering dalam 
penyelidikan kematian tetapi maknanya bisa ambigu. Dalam 
beberapa situasi, kematian benar-benar dapat menjadi seketika, 
seperti dengan emboli paru masif. Pada orang lain, seperti infark 
miokard, kematian bisa seketika, atau mengambil menit untuk jam 
atau lebih. kematian jantung mendadak yaitu  tiba-tiba, kematian 
tak terduga dari pemicu  jantung dalam waktu satu jam dari 
timbulnya gejala . Investigasi kematian alami 
mungkin tidak akan sangat menarik untuk beberapa tapi bisa 
menarik dan bermanfaat. Sebagai contoh, Wagner (2009) 
melaporkan bahwa ia menemukan sebuah aneurisma aorta seorang 
gadis berusia 14 tahun yang meninggal mendadak saat berjalan. 
Mengetahui kondisi ini menjadi genetik, sebuah studi dari 12 
anggota keluarga menunjukkan kelainan yang sama dalam tiga, 
sehingga menjaga orang-orang nasib yang sama seperti relatif 
mereka. 2 
 
2. Unnatural death / Kematian Tidak Alami  
a. Homicide / Pembunuhan 
Homicide / Pembunuhan terjadi saat kematian 
diakibatkan oleh tindakan kehendak yang dilakukan oleh 
orang lain untuk menimbulkan ketakutan, bahaya, atau 
kematian. Niat untuk memicu  kematian yaitu  unsur 
yang umum namun tidak diperlukan untuk klasifikasi 
sebagai pembunuhan (lebih di bawah). 1 
b. Suicide / Bunuh Diri 
Temuan bunuh diri sebagai cara kematian dapat 
memengaruhi keluarga secara berbeda. Bunuh diri 
membawa stigma pada nama keluarga. Akibatnya, 
pengajuan keberatan sering diajukan saat bunuh diri 
didokumentasikan di sertifikat kematian. Selain itu, temuan 
bunuh diri dapat memengaruhi pembayaran asuransi jiwa, 
sebab  kebanyakan asuransi menyingkirkan bunuh diri 
dalam dua tahun pertama setelah dikeluarkannya kebijakan 
ini  untuk mencegah keuntungan dari kematian 
seseorang 
 
 Penyelidik kematian yang berpengalaman akan 
mengenali beberapa ramuan di tempat kejadian. Sebuah 
kantong plastik, sebuah band karet besar biasa memegang 
tas itu di tempat, dan obat-obatan atau alkohol sering 
ditemukan dalam adegan bunuh diri. Dalam bukunya Final 
Exit, Derek Humphry menggambarkan secara rinci 
bagaimana seseorang dapat mengambil nyawanya sendiri 
dengan menggunakan peralatan dan prosedur yang 
dijelaskan di sini ,mengamati kejadian 
kematian ini sering dalam banyak adegan bunuh diri yang 
dia selidiki. Dia sering menemukan buku Final Exit di 
dekat bodi, menunjukkan bahwa orang yang meninggal 
memakai  sebagai referensi untuk tindakan terakhir 
bunuh diri. 1,3 
Menggantung (hanging) yaitu  salah satu metode 
yang paling sering dipilih untuk bunuh diri, namun juga 
bisa disebabkan oleh rekayasa pembunuh (Vieira et al, 
1988;. Sauvageau, 2009). Untuk menentukan pemicu  
kematian pada kasus gantung, sementara mayat masih di 
tempat kematian dan dalam posisi ditangguhkan, 
penyelidikan rinci harus dilakukan oleh tim termasuk ahli 
kedokteran forensik. Bukti lebih lanjut dari adegan 
kematian penyelidikan, pernyataan dari para saksi, adanya 
catatan bunuh diri, dan otopsi temuan dapat semua bantuan 
untuk menentukan apakah korban bertanggung jawab atas 
kematian nya sendiri. 1-4 
Pengikatan kedua pergelangan tangan dalam kasus 
gantung jarang terjadi, tetapi mungkin tidak menunjukkan 
pembunuhan, asalkan gantung pengikat tidak bisa 
dikenakan sendiri. Pada kesan pertama, tubuh yang 
digantung ditemukan dengan tangan terikat bersama-sama 
akan memberi  kesan pembunuhan tetapi beberapa orang 
bunuh diri mencoba untuk menghindari diselamatkan oleh 
orang lain atau diri mereka sendiri. Penutupan mulut 
dengan kantong plastik atau syal dianggap digunakan untuk 
mencegah korban memanggil bantuan selama gantung diri. 
Mengikat kedua tangan dan penutupan mulut 
dianggap sebagai tindakan pencegahan yang diambil oleh 
korban untuk mencegah perubahan pikiran dan indikasi 
tekad mereka untuk meninggal melalui dengan bunuh diri. 
Selain itu, pemasangan bahan lembut sebagai bantalan 
pengikat dianggap sebagai upaya untuk mengurangi rasa 
nyeri  1-4 
Dalam beberapa budaya, buku-buku agama dan 
temuan menunjukkan berdoa sebelum bunuh diri dapat 
ditemukan di tempat kejadian kematian.) melaporkan bahwa dalam menyelidiki kasus 
kematian medikolegal diyakini asal bunuh diri, bukti yang 
menunjukkan bahwa tindakan ini dilakukan oleh korban, 
adanya catatan bunuh diri di tempat kematian, dan riwayat 
upaya bunuh diri sebelumnya, penemuan rambut ketiak dan 
kemaluan yang telah dicukur pada pemeriksaan luar tubuh 
korban, yang beragama iman Islam, juga dapat dianggap 
sebagai fitur bunuh diri. 1-3 
  Tindakan bunuh diri yang dilakukan di tempat-
tempat terbuka untuk umum dapat sangat traumatis bagi 
saksi ). Selain itu, mereka dianggap lebih layak 
diberitakan daripada yang terjadi di rumah, dan pelaporan 
media yang dapat mendorong bunuh diri lebih lanjut 
 Disarankan bahwa 
hampir sepertiga dari semua kasus bunuh diri terjadi di 
tempat umum 
Asosiasi jembatan dan bangunan tinggi dengan 
bunuh diri dengan melompat terkenal, tapi banyak tempat-
tempat umum lainnya menawarkan sarana atau kesempatan 
untuk bunuh diri. Gantung diri, keracunan knalpot mobil, 
dan pembakaran melibatkan persiapan yang rumit dan 
memerlukan pengasingan. Untuk kematian ini, hutan dan 
taman mobil pedesaan terpencil memberi  kesempatan 
yang sempurna  Wells yaitu  sebuah 
wilayah yang lebih disukai untuk bunuh diri, yang 
merupakan salah satu alasan mengapa individu dapat 
melompat ke dalam sumur, terlepas dari apakah ada air atau 
tidak. Sebuah bunuh diri sebab  tenggelam, meskipun 
terlihat pada semua kelompok umur, tampaknya menjadi 
metode yang disukai untuk orang lanjut usia 
b. Incidental / Kecelakaan 
Penyelidikan mengevaluasi bukti, biasanya 
langsung, bagaimana kecelakaan itu terjadi. Ini yaitu  
beberapa jenis adegan kecelakaan: 1,4 
- Auto Kecelakaan - Sebuah kecelakaan mobil adegan 
investigasi dapat mencakup rekonstruksi kecelakaan 
jika kewajiban dalam sengketa. Sebuah diagram 
penyidik dan foto-foto adegan kecelakaan mobil dan 
mengevaluasi beberapa faktor, termasuk poin dari 
dampak terhadap kendaraan, tanda selip, kondisi 
jalan dan keterangan saksi.  
- Api - Foto-foto penyidik, diagram dan memeriksa 
tempat kejadian. Orang yang pertama kali 
menemukan api dan personil api berpartisipasi 
diwawancarai. Bukti fisik dapat dikumpulkan untuk 
pemeriksaan lebih lanjut. Sebuah laporan dapat 
disusun tentang kesimpulan penyidik. 
- Slip dan Jatuh - Jika pelindung tergelincir dan jatuh, 
slip dan jatuh investigasi lokasi kecelakaan biasanya 
dimulai dengan salah satu karyawan dari 
pembentukan. Apa jenis jatuh terjadi? Apakah ada 
cacat dalam tanah atau lantai? Apakah ada kondisi 
berbahaya? Berapa lama kondisi ini terkena? Foto-
foto adegan dapat diambil, dan saksi yang tersedia, 
termasuk karyawan toko atau manajer, 
diwawancarai. 
 
Kadang-kadang sulit untuk menentukan cara 
dan pemicu  kematian, jika rinci adegan kematian 
penyelidikan tidak dilakukan. Dalam kasus yang 
dilaporkan oleh Demirci et al. (2008b), kematian 
seorang laki-laki usia 30 tahun yaitu  sebab  
penggorokan leher. Mereka melaporkan bahwa 
meskipun pemotongan di leher awalnya menunjukkan 
pembunuhan, ditemukan telah terjadi sebagai akibat 
dari kecelakaan di tempat kerja setelah adegan kematian 
penyelidikan dan otopsi. Kasus ini menekankan 
pentingnya pemeriksaan adegan insiden dan otopsi 
dalam menentukan asal kasus serupa kematian akibat 
sengatan listrik.4 
Ahli kedokteran forensik harus mengunjungi 
adegan kematian sebelum otopsi jika mungkin  
Karbon monoksida (CO) yaitu  gas tidak 
berwarna dan tidak berbau, dan lebih ringan dari udara. 
Ini yaitu  produk pembakaran tidak sempurna 
hidrokarbon. Sekitar 600 kematian disengaja sebab  
keracunan CO dilaporkan setiap tahun di Amerika 
Serikat. CO biasanya memicu  kematian disengaja, 
sebab  itu yaitu  murni dan tidak berbau 
Karbon monoksida dapat memengaruhi mesin 
kendaraan yang bergerak, biasanya sebab  sistem 
pembuangan yang rusak yang memungkinkan gas 
meresap melalui lantai atau sekat mesin ke interior. 
Jarang angin kencang bisa meniup gas buang luar 
melalui pintu terbuka van atau truk. pemicu  lainnya 
yaitu  kebocoran penukar panas pada kendaraan yang 
menggunakan suplai udara langsung dari sekitar 
manifold knalpot untuk memberi  pemanas 
penumpang 
c. Undetermined  
Undetermined / Tidak dapat ditentukan yaitu  klasifikasi 
yang digunakan bila informasi yang menunjuk pada satu cara 
kematian tidak lebih menjurus daripada satu atau lebih perilaku 
lainnya dalam pertimbangan menyeluruh dari semua informasi 
yang ada. Secara umum, ketika kematian melibatkan kombinasi 
proses alami dan faktor eksternal seperti cedera atau keracunan, 
preferensi diberikan pada cara kematian non-alami (non natural 
manner of death). 1-4 
IV. SUDDEN DEATH (MATI MENDADAK) 
Terminologi kematian mendadak dibatasi pada suatu kematian 
alamiah yang terjadi tanpa diduga dan terjadi secara mendadak, 
mensinonimkan kematian mendadak dengan terminologi  ”sudden 
natural unexpected death”. Kematian alamiah di sini berarti kematian 
hanya disebabkan oleh penyakit bukan aibat trauma atau racun. 5 
Definisi WHO untuk kematian mendadak yaitu  kematian yang 
terjadi pada  24 jam sejak gejala-gejala timbul, namun pada kasus-
kasus forensik, sebagian besar kematian terjadi dalam hitungan menit 
atau bahkan detik sejak gejala pertama timbul. Kematian mendadak 
tidak selalu tidak diduga, dan kematian yang tak diduga tidak selalu 
terjadi mendadak, namun amat sering keduanya ada bersamaan pada 
suatu kasus. 5 
Penentuan sebab kematian menjadi penting berlangganan dengan 
kepentingan hukum, perubahan statusnya almarhum dan keluarganya, 
serta hak dan kewajiban yang timbul dari meninggalnya orangutan 
ini . Autopsi sebagai suatu jalan penentuan sebab kematian 
merupakan pilihan solusi saat berhadapan dengan suatu kematian 
mendadak. 5,6 
 
 
a. Penggolongan kematian alamiah 
Kematian alamiah dapat dibagi menjadi doa kategori yaitu: 5,7 
1. Kematian yang terjadi dimana ada saksi mata dan keadaan dimana 
faktor fisik dan emosi mungkin memainkan peran, juga dapat terjadi 
saat aktivitas fisik, dimana cara mati dapat lebih mudah diterangkan 
atau kematian ini  terjadi selama perawatan/pengobatan yang 
dilakukan oleh dokter ( Attendaned Physician). 
2. Keadaan dimana mayat ditemukan dalam keadaan yang lebih 
mencurigakan seringnya diakibatkan TKP nya atau pada saat orang 
ini  meninggal tidak dalam perawatan atau pengobatan dokter 
(unattendaned physician), terdapat kemungkinan hadirnya saksi-
saksi yang mungkin ikut bertanggung jawab terhadap terjadinya 
kematian. 
Pada kematian alamiah kategori pertama, kematian alamiah dapat 
dengan lebih mudah ditegakkan, dan kepentingan dilakukannya autopsi 
menjadi lebih kecil. Pada kematian alamiah kategori kedua, sebab 
kematian harus benar-benar ditentukan agar cara kematian dapat 
ditentukan dan kematian alamiah dan tidak wajar sedapat mungkin 
ditentukan dengan cara apakah mengejar ketertinggalan atau racun ikut 
berperan hearts memicu  kematian.6 
Pada kematian alamiah kategori kedua, sebab  keadaan yang lebih 
mencurigakan, polisi akan mengadakan penyidikan dan membuat surat 
permintaan negara visum et repertum. Pada keadaan penyanyi hasil 
temuan pemeriksaan akan dituangkan hearts visum et repertum, dan 
persetujuan keluarga akan menjadi prioritas yang lebih randah dari 
kepentingan penegakan hukum.6 
b. Aspek medikolegal natural mendadak kematian 
Pada tindak pidana pembunuhan, pelaku biasanya akan melakukan 
suatu tindakan/usaha  agar  tindak kejahatan yang dilakukanya tidak 
diketahui baik oleh keluarga, masyarakat dan yang pasti yaitu  pihak 
penyiidik (polisi) , salah satu modus operandus yang bisa dilakukan 
yaitu  dengan cara membawa jenazah ini  ke rumah sakit dengan 
alasan kecelakaan atau meninggal di perjalanan  ketika menuju 
kerumah sakit (Death On Arrival) dimana sebelumnya almarhum 
mengalami serangan suatu penyakit (natural sudden death). 
Pada kondisi diatas, dokter sebagai seorang profesional yang 
mempunyai kewenangan untuk memberi  surat keterangan kematian 
harus bersikap sangat hati-hati dalam mengeluarkan dan 
menandatangani surat kematian pada kasus kematian mendadak 
(sudden death) sebab  dikhawatirkan kematian ini   setelah 
diselidiki oleh pihak penyidik merupakan kematian yang terjadi akibat 
suatu tindak pidana. Kesalahan prosedur atau kecerobohan yang dokter 
lakukan dapat mengakibatkan dokter yang membuat dan 
menandatangani surat kematian ini  dapat terkena sangsi hukuman 
pidana. Ada beberapa prinsip secara garis besar  harus diketahui oleh 
dokter berhubungan dengan kematian mendadak  akibat penyakit 
yaitu:Apakah pada pemeriksaan luar jenazah terdapat adanya tanda-
tanda mengejar ketertinggalan yang signifikan dan dapat diprediksi 
dapat memicu  kematian? 
1. Apakah pada pemeriksaan luar jenazah  terdapat adanya tanda-tanda 
kekerasan yang signifikan dan dapat diprediksi dapat memicu  
kematian ? 
2. Apakah pada pemeriksaan luar terdapat adanya tanda-tanda yang 
mengarah pada keracunan ? 
3. Apakah almarhum merupakan pasien (Contoh: Penyakit jantung 
koroner)  yang rutin  datang berobat ke tempat praktek atau 
poliklinik di rumah sakit ? 
4. Apakah almarhum mempunyai penyakit kronis tetapi bukan 
merupakan penyakit tersering  pemicu   natural sudden death ? 
Adanya kecurigaan atau kecenderungan pada kematian yang tidak 
wajar berdasarkan kriteria ini , maka dokter yang bersangkutan harus 
melaporkan kematian ini  ditunjukan kepada penyidik (polisi) dan 
tidak mengeluarkan surat kematian. 
c. Lesi pemicu  
Lesi yang dapat memicu  kematian alamiah yang mendadak 
beroperasi garis besar terdiri dari 3 golongan: 7,8 
1. Grup terbesar yaitu  lesi yang diakibatkan oleh proses penyakit yang 
berjalan perlahan atau insidental berulang yang merusak organ vital 
tanpa menimbulkan suatu gejala renjatan akut sampai terjadi suatu 
penghentian fungsi fungsi organ vital yang tiba-tiba. Salah satu contoh 
yang memucat baik untuk review golongan penyanyi yaitu  kematian 
mendadak akibat penyakit jantung koroner. 
2. Terjadinya ruptur pembuluh darah yang mendadak dan tak terduga, 
yang diikuti dengan perdarahan yang berakibat fatal. Contoh golongan 
penyanyi yaitu  pecahnya aneurisma aorta dengan perdarahan ke 
hearts perikardial kantung atau pecahnya aneurisma pada sirkulus 
willisi yang memicu  subdural perdarahan. 
3. Golongan ketiga mencakup infeksi laten atau infeksi hebat yang 
perjalanan penyakitnya berkembang tanpa menunjukkan gejala yang 
nyata atau bermakna sampai terjadi kematian. Contohnya yaitu  
endokarditis bakterial atau obstruksi mendadak usus sebab  volvulus. 
Pengenalan sebab kematian pada kasus kematian mendadak 
beroperasi mendasar yaitu  proses interpretasi yang mencakup deteksi 
perubahan patologis yang ditemukan beroperasi anatomis, patologi 
anatomi, bakteriologis dan kimiawi serta seleksi lesi yang ditemukan yang 
dianggap mematikan bagi korban. 
Berdasarkan sistem tubuh, lesi yang memicu  kematian 
mendadak dapat dibagi 2:7,8 
1. Penyakit jantung dan pembuluh darah 
a. Penyumbatan arteri koroner. 
b. Lesi miokard, katup jantung, endokardium dan perikardium 
c. Penyakit jantung kongenital 
d. Lesi aorta 
2. Penyakit respirasi 
a. Lesi yang memicu  asfiksia 
b. Perdarahan dari jalan nafas 
c. Pneumotoraks 
d. Infeksi paru 
3. Penyakit otak dan lesi intrakranial lain 
4. Penyakit saluran cerna dan urogenital 
a. Perdarahan saluran cerna 
b. Perdarahan intra-abdomen 
c. Syok 
d. Infeksi peritoneum  
e. Lesi urogenital 
5. Lain-lain 
 
Penyakit jantung dan pembuluh darah yaitu  pemicu  terbanyak yang 
terdeteksi dalam kematian mendadak,  memicu  kematian 300.000 sampai 
400.000 setahun di Amerika.1,3,6,9   
1. Penyakit Arteri Koroner 
Arteri koroner yaitu  pembuluh darah yang memberi makan 
jantung, sehingga kerusakan pada arteri koroner akan sangat 
mempengaruhi kinerja dan kelangsungan hidup jantung. Stenosis dari 
koroner oleh ateroma sangat sering terjadi, konsekuensinya terjadi 
pengurangan aliran darah ke otot jantung yang dapat memicu  
kematian dengan berbagai cara.1,4 
2. Insufisiensi koroner akibat penyempitan lumen utama yang 
mengakibatkan iskemia kronik dan hipoksia dari otot-otot jantung di 
bawah stenosis. Otot jantung yang mengalami hipoksia mudah 
memicu  aritmia dan fibrilasi ventrikel, terutama pada adanya 
beban stress seperti olahraga atau emosi. 
3. Komplikasi dari ateroma dapat memperburuk stenosis koroner dan 
kematian otot jantung yang mengikutinya. Plak ateroma ulseratif 
dapat pecah atau hancur, mengisi sebagian atau seluruh pembuluh 
darah dengan kolesterol, lemak dan debris fibrosa. Pecahan ini akan 
terbaca ke arah distal pembuluh darah dan pada percabangan 
pembuluh darah menyumbat pembuluh darah dan memicu  
multipel mini-infark. Bagian endotel dari plak yang hancur dapat 
bertindak seperti katup dan menutup total pembuluh darah. 
Komplikasi lain yaitu  perdarahan sub-intima yang terjadi pada 
plak, membesarkannya secara tiba-tiba dan menutup lumen 
pembuluh darah. 
4. Miokard infark, terjadi ketika stenosis berat terjadi atau terjadi oklusi 
total dari pembuluh darah, bila pembuluh darah kolateral di tempat 
bersangkutan tidak cukup memberi darah pada daerah yang 
bersangkutan. Infark umumnya baru terjadi bila lumen tertutup lebih 
dari atau sama dengan 70%. 
5. Lesi pada sistem konduksi jantung. Efek dari infark yang besar 
yaitu  mengurangi fungsi jantung sebab  kegagalan pompa dan otot 
yang mati tidak dapat berkontraksi atau memicu  aritmia dan 
fibrilasi ventrikel. Infark yang dapat dilihat dengan mata secara 
makroskopik tidak terjadi saat kematian mendadak, sebab  perlu 
beberapa jam agar oklusi jantung menjadi jelas. Tapi efek fatal dari 
infark dapat terjadi pada setiap saat setelah otot menjadi iskemik. 
Infark miokard yang ruptur dapat memicu  kematian 
mendadak sebab  hemoperkardium dan tamponade jantung. Keadaan 
ini umumnya terjadi pada wanita tua, yang mempunyai miokardium 
yang rapuh, namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada semua 
orang. Keadaan ini cenderung terjadi dua atau tiga hari setelah onset 
infark dan bagian otot yang infark menjadi lunak. Ruptur terkadang 
terjadi pada septum interventrikuler, memicu  ”left-right shunt” 
pada jantung. 
Fibrosis miokard, terjadi ketika infark miokard menyembuh 
sebab  miokardium tidak dapat berprofilerasi. Sebuah daerah fibrosis 
yang besar di ventrikel kiri dapat kemudian membengkak sebab  
tekanan yang tinggi selama sistole membentuk aneurisma jantung 
yang mengurangi fungsi jantung. 
Ruptur otot papilaris, dapat terjadi sebab  infark dan 
nekrosis. Keadaan ini memungkinkan katup mitral mengalami prolaps 
dengan gejala insufisiensi mitral dan bahkan kematian.