Makanan tinggi gula

  


: Pengabdian kepada masyarakat (PKM) merupakan kolaborasi antara Farmasi 

UNIGA dengan Politeknik Kesehatan Bandung yang diselenggarakan di SDN 3. Anak-anak 

usia sekolah sering mengonsumsi jajanan yang tidak sehat di sekolah maupun di lingkungan 

tempat tinggalnya. Makanan dengan kandungan gula yang tinggi, termasuk ke dalam 

makanan yang tidak sehat, karena anak-anak dapat berisiko menderita penyakit mulut 

seperti karies gigi, obesitas, diabetes mellitus bahkan mengalami kerusakan ginjal. Metode 

PKM yang dilakukan yaitu melalui penyuluhan secara langsung dengan menggunakan power 

point dan pembagian flyer dengan tujuan mengedukasi siswa SDN 3 yang berjumlah 61 orang  

mengenai bahaya makanan dan minuman tinggi gula dalam kemasan terhadap kesehatan 

gigi dan mulut. Pelaksanaan kegiatan PKM dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap persiapan, 

tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Hasil evaluasi menunjukkan terjadi peningkatan 

pengetahuan siswa sebelum penyuluhan 63,3% menjadi 81,2% setelah penyuluhan mengenai 

definisi karies gigi, penyebab karies dan cara pencegahannya. berdasar  hasil kegiatan 

PKM dapat disimpulkan bahwa secara keselurahan penyuluhan telah berhasil menigkatkan 

pemahaman siswa secara signifikan sebesar 90%. Melalui penyuluhan juga memberikan 

informasi mengenai batas konsumsi gula harian serta mendorong perubahan pola pikir siswa 

terhadap konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, sehingga dapat menanamkan 

kebiasaan hidup sehat dengan menjaga kesehatan mulut dan gigi. 

 

Masa pertumbuhan anak akan dipengaruhi oleh pola makan. Makanan 

ringan sangat disukai oleh anak-anak untuk dikonsumsi setiap hari 

berdasar  data nutrisi rata-rata  mengandung  36% energi, 29% protein 

dan 45% nutrisi lainnya. Terlalu banyak mengonsumsi makanan ringan 

dapat meningkatkan kemungkinan menjadi gemuk. Anak-anak di sekolah 

dasar yang mengonsumsi lebih dari 300 kkal makanan ringan setiap hari 

memiliki kemungkinan 3,2 kali lebih besar untuk mengalami obesitas. Anak-

anak usia sekolah 1,6 kali lebih mungkin mengalami kelebihan berat badan 

atau obesitas 

Kebiasaan jajan pada anak-anak usia sekolah adalah sering 

mengonsumsi jajanan yang tidak sehat di sekolah maupun di lingkungan 

tempat tinggalnya. Bahan tambahan makanan biasanya ditambahkan ke 

dalam pangan dengan tujuan untuk memperbaiki kualitasnya , Makanan dengan kandungan gula, garam, lemak yang tinggi, daging 

olahan yang mengandung pengawet, bumbu penyedap, minuman 

berkarbonasi dan mie instan termasuk ke dalam makanan yang tidak sehat. 

Jajanan yang termasuk ke dalam makanan paling berbahaya yaitu makanan 

dengan kandungan gula yang tinggi, karena anak-anak yang mengonsumsi 

makanan tinggi gula dapat berisiko menderita batuk, sesak napas, obesitas, 

diabetes mellitus bahkan mengalami kerusakan ginjal 

Permasalahan ini memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan 

tubuh secara umum, maka kesehatan gigi dan mulut juga harus 

diperhatikan. Kebiasaan anak yang tidak rajin merawat kesehatan pribadi 

khususnya gigi dan mulut menambah permasalah selanjutnya dimana 

kedepannya akan mempengaruhi performa belajar dari para siswa. Menurut 

Word Health Organization, salah satu upaya meningkatkan kesehatan 

adalah dengan melakukan pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut sehingga 

dapat mencegah timbulnya berbagai penyakit di dalam rongga mulut 

berdasar  penelitian sebelumnya, beberapa faktor penyebab karies 

gigi diantaranya adalah gula, permen, produk cokelat dan minuman manis. 

Menurut rekomendasi WHO dari tahun 2015, asupan energi harian yang 

ideal tidak boleh mengandung lebih dari 5% gula tambahan.  Anak-anak 

sangat rentan terhadap konsumsi makanan manis karena biasanya produk-

produk makanan manis sering dipasarkan dengan tampilan kemasan yang 

menarik secara visual, seperti dengan kemasan yang menampilkan karakter 

kartun yang sangat disukai anak-anak. Selain itu, anak-anak biasanya 

cenderung tidak membersihkan gigi dan mulut secara rutin karena kelalaian 

orang tua yang mungkin meremehkan pentingnya perawatan gigi untuk gigi 

susu 

Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji berisi 

peraturan yang mengatur tentang pembatasan gula dalam makanan dan 

minuman di Indonesia, Dimana menurut Pasal 2, tujuan pencantuman pesan 

dan informasi kesehatan tentang kandungan gula, garam, dan lemak pada 

pangan olahan dan pangan siap saji adalah untuk meningkatkan kesadaran 

konsumen terhadap konsumsi gula, garam, dan/atau lemak pada pangan 

tersebut, sehingga dapat menurunkan risiko penyakit tidak menular (PTM), 

khususnya hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung (Nugroho, 

2024).  

Penyuluhan kesehatan merupakan kegiatan edukasi yang bertujuan 

untuk menyebarkan pengetahuan dan membangun kepercayaan diri 

masyarakat, berpengetahuan luas, dan memahami masalah kesehatan juga 

termotivasi dan memiliki kemampuan untuk mendukung anjuran terkait 

dengan kesehatan. Cara penyuluhan dapat dilakukan dengan berbagai cara, 

dapat melalui penyuluhan secara langsung, melalui brosur maupun melalui 

media video edukasi.  

berdasar  uraian di atas, maka edukasi mengenai bahaya makanan 

dan minuman tinggi gula bagi kesehatan tubuh pada anak usia sekolah dasar 

sangatlah perlu dilakukan sehingga mereka dapat memahami pentingnya 

menjaga kesehatan tubuh terutama kesehatan gigi dan mulut serta 

pentingnya ketelitian dalam membeli jajanan. Kurangnya pengetahuan pada 

anak-anak tentang pencegahan dan pengendalian penyebab risiko jangka 

panjang penyakit serta bahaya asupan gula berlebihan, menjadikan siswa 

sekolah dasar sebagai target edukasi.  

 

 

Kegiatan PKM ini kolaborasi antara Farmasi Universitas Garut dengan 

Politeknik Kesehatan Bandung jurusan terapi Gigi dan Mulut.  Subjek PKM 

ini adalah siswa-siswi yang bersekolah di SDN 3, dengan berbasis kuisioner 

(Prasetiawati et al., 2022). Kegiatan PKM ini diadakan di SDN 3 dengan 

target siswa dan siswi kelas 4, 5, dan 6. Adapun jarak yang ditempuh dari 

kampus farmasi Uniga menuju lokasi yaitu sekitar 4,3 km, 

Pelaksanaan kegiatan PKM dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap 

persiapan dan tahap pelaksanaan dan evaluasi kegiatan:  

1. Tahap Persiapan Tim Pengabdian 

a. Melakukan diskusi dan koordinasi dengan pihak sekolah dan tim PKM dari 

Fakultas MIPA Universitas Garut untuk merencanakan tanggal 

pelaksanaan PKM serta jumlah peserta yang akan diundang. 

b. Tim pengabdian melakukan rapat koordinasi kembali dengan pihak lainnya 

untuk persiapan lebih lanjut mengenai tema yang akan disampaikan. 

c. Menentukan jumlah narasumber yang akan menyampaikan edukasi kepada 

para siswa yang berasal dari mahaiswa dan dosen Farmasi Universitas 

Garut (Junaedi et al., 2024b). 

 

2. Tahap Pelaksanaan 

a. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan melakukan registrasi disertai tanda 

tangan untuk memastikan kembali jumlah siswa yang hadir. 

b. Kegiatan selanjutnya dilakukan pretest dengan menggunakan google form 

dimana pertanyaan meliputi biodata dari siswa, riwayat kesehatan, dan 

pertanyaan 

c. Pemberian materi oleh narasumber dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dari 

siswa. 

d. Kegiatan diakhiri dengan pembagian hadiah bagi siswa yang aktif, kegiatan 

ini dilakukan oleh mahasiswa Farmasi Universitas Garut 

3. Tahap Evaluasi 

Melaukan mengolan data hasil dari pre dan post test untuk mengetahui 

peningkatan pengetahuan siswa sebelum dan sesudah penyuluhan.  

  

Hasil evaluasi menunjukkan kehadiran siswa-siswi yang tepat waktu, 

hal tersebut membuktikan bahwa kegiatan penyuluhan berlangsung dengan 

cukup baik Dimana perhatian dan ketertarikan peserta terhadap materi 

penyuluhan yang disajikan sangat tinggi. Sambutan dari kepala sekolah 

SDN 3  serta sambutan dari perwakilan tim penyuluhan mengawali kegiatan 

penyuluhan. Dalam penyuluhan, metode pembelajaran dilakukan melalui 

presentasi menggunakan slide PowerPoint yang berlangsung selama sekitar 

30 menit kemudian disambung dengan sesi tanya-jawab oleh tim penyuluhan 

kesehatan. Ketika menggunakan pendekatan ceramah seperti yang 

ditunjukkan pada Gambar 2, PowerPoint digunakan untuk meningkatkan 

konten dan membantu pemahaman siswa. Selain itu, slide PowerPoint 

memungkinkan presenter untuk menjaga kontak mata dengan audiens 

sambil menampilkan konten yang menarik dengan menggunakan berbagai 

warna, grafik, dan pola. Dibandingkan dengan flip chart dan media leaflet, 

media slide power point lebih efektif dalam meningkatkan nilai pengetahuan . Salah satu kekurangan menggunakan 

presentasi PowerPoint dalam kegiatan mengajar adalah bahwa animasi, 

grafik, fitur pendengaran, dan fitur lainnya yang berlebihan dapat 

mengalihkan perhatian siswa dari topik utama yang disajikan.  


Poster juga digunakan sebagai alat bantu pengajaran selain presentasi 

PowerPoint. Media poster seperti yang terlihat pada  adalah pesan tertulis 

yang berusaha menarik perhatian banyak orang dengan tulisan dan visual 

sehingga seseorang dapat dengan mudah memahami pesan tersebut dan 

dapat membacanya secara berulang-ulang . Pengisian 

kuisioner bertujuan untuk mengevaluasi siswa-siswi mengenai pengetahuan 

terhadap bahaya mengonsumsi gula berlebih bagi tubuh dan pencegahannya. 

Responden secara keseluruhan pada PKM  ini ditujukan untuk siswa-siswi 

kelas 4,5 dan 6 dengan usia sekitar 9-12 tahun. Adapun aspek yang diselidiki 

dalam penyuluhan ini adalah kebiasaan mengonsumsi makanan dan 

minuman tinggi gula. Metode PKM yang dilakukan yaitu melalui 

penyuluhan dan pembagian flyer dengan tujuan mengedukasi anak sekolah 

dasar mengenai bahaya makanan dan minuman tinggi gula dalam kemasan 

dan cara merawat kesehatan gigi dan mulut,                                                                                         

berdasar  hasil survei pada siswa-siswi SDN 3 sebelum dilakukan 

penyuluhan, hanya 37% dari total keseluruhan panelis yang memiliki 

pemahaman tentang fungsi gula bagi tubuh. Hal ini menggambarkan 

kurangnya pengetahuan mengenai peran gula dalam tubuh. Setelah 

dilakukan penyuluhan terjadi peningkatan pemahaman yang signifikan, 

dimana  95% dari  total keseluruhan panelis menjadi paham terkait fungsi 

gula (Gambar 3). Adanya peningkatan pemahaman terhadap fungsi gula 

menunjukkan bahwa penyuluhan yang dilakukan sangat efektif dalam 

meningkatkan pemahaman siswa.  

Gula adalah jenis karbohidrat tertentu yang ditemukan dalam berbagai 

jenis makanan dan minuman. Ini terdiri dari glukosa monosakarida dan 

fruktosa, yang ada secara alami dalam buah-buahan dan sayuran serta 

dalam produk buatan seperti permen, minuman berkarbonasi, dan makanan 

penutup manis. Konsumsi gula berlebihan dapat menyebabkan diabetes 

mellitus, gagal ginjal, dan penyakit kardiovaskular (Sinaga et al., 2024). 

Karena peran utamanya sebagai substrat metabolisme tubuh, glukosa 

dianggap sebagai karbohidrat terpenting dalam tubuh manusia (Wulandari 

& Kurnianingsih, 2018). Zat pemanis dapat dikategorikan ke dalam dua 

kelompok, yaitu pemanis alami dan pemanis sintetis. Zat pemanis ini 

digunakan untuk meningkatkan rasa dan aroma, menambah karakteristik 

fisik, bertindak sebagai agen, meningkatkan sifat kimia dan sumber kalori 

tubuh ini

Hasil evaluasi Gambar 4, menunjukkan adanya perubahan yang 

signifikan pada tingkat pemahaman siswa mengenai batas konsumsi gula. 

Sebelum dilakukan penyuluhan, hanya 10% siswa yang memahami batas 

konsumsi gula. Hal ini mencerminkan rendahnya kesadaran dan 

pengetahuan siswa mengenai pentingnya menjaga asupan pola makan 

sehari-hari. Beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab rendahnya 

pemahaman ini adalah kurangnya edukasi terkait kesehatan gizi di 

lingkungan sekolah maupun keluarga, serta minimnya akses informasi yang 

mudah dipahami. Namun setelah dilakukan penyuluhan, persenase siswa 

yang memahami batas konsumsi gula meningkat drastis menjadi 87%. 

Peningkatan ini menunjukkan bahwa penyuluhan yang dilakukan berjalan 

secara efektif dan mudah dipahami. 

Menurut PERMENKES RI No.30 Tahun 2013, asupan gula yang 

direkomendasikan per hari adalah 50 gram atau empat sendok makan per 

orang (Nugroho Agung et al., 2021). Adapun ciri-ciri pangan yang 

mengandung tinggi gula diantaranya: (1) terdapat kandungan gula yang 

tinggi pada label komposisi dan informasi gizi; (2) rasa manis yang sangat 

kuat; (3) indeks glikemik yang tinggi (Widiastuti et al., 2024); dan (4) 

teksturnya kental dan lengket (Mandei, 2014). Meskipun pemerintah 

menetapkan batas maksimum untuk pemanis buatan, namun penggunaan 

zat aditif ini sering melebihi batas konsumsi manusia sehingga 

menimbulkan banyak permasalahan. Dua gangguan mulut yang paling 

umum terjadi adalah radang gusi dan karies gigi, yang keduanya disebabkan 

oleh pola makan dan kebersihan mulut yang tidak memadai (

berdasar  Tabel 1 secara umum, terjadi peningkatan pengetahua 

siswa sebelum dan sesedah penyuluhan yaitu sebesar 17.9%. Karies gigi 

menyumbang sekitar 45,3% dari semua masalah kesehatan mulut pada 

tahun 2018, menurut Data Kesehatan Dasar Indonesia, sedangkan radang 

gusi atau abses menyumbang sekitar 14% dari semua masalah kesehatan 

mulut (Handayani et al., 2023). Jika karies gigi tidak dirawat dengan baik, 

pada akhirnya menyebabkan penghancuran gigi secara keseluruhan. 

Akibatnya, jika seorang anak mengonsumsi makanan manis secara 

berlebihan dan mengabaikan kebersihan mulut, kemungkinan terjadi karies 

gigi meningkat secara signifikan (Efrianty, 2020). 

Selama penyuluhan didapat data 53% siswa menyukai makanan dan 

minuman tinggi gula, sementara 48% siswa tidak menyukainya. 

Mengonsumsi makanan manis tidak dilarang, hanya saja harus dibatasi dan 

memperhatikan dosis hariannya (Lubis, Rosalia, et al., 2022). Secara umum, 

anak-anak cenderung menyukai makanan yang manis, seperti cokelat, 

permen, es krim, permen kapas, dan biskuit. Hal ini disebabkan oleh warna 

makanan yang menarik, kemasan yang memikat, serta tekstur yang lembut, 

lengket, dan mudah larut di mulut, sehingga membuat anak-anak ingin 

   

untuk menikmatinya . Siswa yang tidak menyukai 

makanan dan minuman tinggi gula dapat disebabkan karena beberapa 

faktor, seperti adanya kesadaran terhadap bahayanya bagi kesehatan, 

keterlibatan orang tua dalam memilih makanan yang lebih sehat, rasa yang 

terlalu manis sehingga tidak sesuai dengan selera mereka, pernah 

mengalami efek yang tidak menyenangkan setelah mengonsumsi makanan 

dan minuman tinggi gula dan faktor-faktor lainnya. Dalam hal memilih 

jajanan, terdapat beberapa langkah yang dapat diambil untuk memastikan 

pilihan jajanan yang sehat: 

1. Hindari jajanan yang dijual di tempat kotor, terpapar polusi, atau 

tidak memiliki perlindungan maupun kemasan yang layak. 

2. Pilihlah jajanan yang dijual di lokasi bersih dan tertata, serta 

terlindung dari paparan sinar matahari, debu, hujan, angin, dan polusi 

kendaraan. 

3. Pastikan memilih tempat yang terbebas dari keberadaan serangga dan 

sampah. 

4. Jauhi jajanan yang dibungkus menggunakan koran atau kertas bekas. 

5. Pilihlah jajanan yang dibungkus dengan kertas, plastik, atau kemasan 

lain yang memiliki lapisan pelindung yang aman. 

6. Jauhi membeli jajanan yang mengandung banyak bahan sintetis atau 

zat tambahan yang berbahaya dan dilarang. 

  

berdasar  hasil penelitian dalam kegiatan penyuluhan mengenai 

bahaya makanan dan minuman tinggi gula di SDN 3 dapat disimpulkan 

bahwa penyuluhan menggunakan poster dan power point sebagai media 

penyuluhan ini telah berhasil menigkatkan pemahaman siswa secara 

signifikan sebesar 90%. Penyuluhan juga memberikan informasi mengenai 

batas konsumsi gula harian serta mendorong perubahan pola pikir siswa 

terhadap konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, sehingga dapat 

menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak usia dini.  

Untuk menjaga kesehatan anak, disarankan agar orang tua membatasi 

konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, serta menggantinya dengan 

opsi yang lebih sehat seperti buah-buahan segar, air putih, atau camilan 

rendah gula. Sekolah dan orang tua perlu bekerja sama dalam mengedukasi 

anak tentang pentingnya pola makan seimbang dan bahaya konsumsi gula 

berlebih serta cara memilih makanan yang sehat dengan melihat pada label 

informasi gizi, agar mereka dapat membuat pilihan yang lebih bijak dalam 

setiap konsumsi makanan dan minuman. Selain itu, orang tua dan sekolah 

diharapkan untuk dapat mendorong anak untuk terbiasa dengan kebiasaan 

makan yang sehat sejak dini akan sangat membantu dalam mencegah 

dampak buruk dari konsumsi gula berlebih, termasuk risiko obesitas, 

diabetes, dan kerusakan gigi 



         

Studi pendahuluan menunjukan bahwa warga  banyak yang mengkonsumsi makanan dan 

minuman manis ≥1 kali per hari. Perilaku ini juga sudah menjadi kebiasaan bagi warga  di RT 

02 baik bagi orang dewasa juga bagi anak-anak. Hal ini dapat memicu timbulnya penyakit tidak 

menular. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan warga  berkaitan kebiasaan 

mengkonsumsi makanan dan minuman manis. Pre-test dan post-test diberikan untuk mengukur 

perubahan tingkat pengetahuan dari warga  sehingga dapat diketahui penyuluhan efektif atau 

tidak. Kegiatan ini diikuti oleh 15 orang warga yang berusia >20 tahun. Hasil  menunjukan bahwa 

adanya peningkatan pengetahuan. Hasil post-test menunjukkan sebanyak 93,3% menjawab benar 

tentang informasi kandungan gula dalam kemasan, 96,7% menjawab benar tentang batas konsumsi 

gula, 86,7% menjawab makanan secara alami sudah mengandung gula, 86,7% menjawab benat 

tentang dampak mengkonsumsi makanan manis berlebih dan 80,0% me njawab benar tentang cara 

mengurangi konsumsi makanan manis. Kegiatan ini juga menemukan sebanyak 60% dan 66,% 

peserta kegiatan ini mengkonsumi makanan dan minuman manis berupa kue dan teh, sebanyak 

33,3% mengkonsumsi 2 hingga 4 kali sehari. Selain itu sebanyak 33,3% memakai  3 sendok 

takar gula dalam sehari.  

Penyakit tidak menular (PTM) memicu  kematian sebesar 41 juta orang setiap 

tahunnya atau setara dengan dengan 71% dari semua kematian secara global. Penyakit 

kardiovaskular menyumbang 17,9 juta kematian terbanyak untuk PTM setiap tahun, diikuti 

dengan kanker sebesar 9,3 juta, penyakit pernapasan sebesar 4,1 juta dan diabetes sebesar 

1,5 juta.1 Penyakit seperti kardiovaskular, kanker dan diabetes ini dapat disebabkan oleh diet 

yang tidak sehat (unhealthy diet).2 Salah satu bentuk diet yang tidak sehat yaitu konsumsi 

gula berlebih.3 Studi literature review yang dilakukan ditemukan bahwa resistensi insulin 

ditingkatkan oleh gula dan berdampak meningkatnya level bioaktif IGF-I yang 

mempertinggi risiko kanker.4 

Data tahun 2018 oleh Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan kebiasaan 

konsumsi makanan dan minuman manis di Indonesia pada penduduk  umur ≥3 tahun yaitu 

konsumsi ≥1 kali per hari sebanyak 40,1% vs 61.27%, konsumsi 1-6 kali per minggu 

sebanyak 47,8% vs 30.22%, konsumsi ≤3 kali perbulan sebanyak 12.0% vs 8.51%. Data 

tersebut menunjukkan pada penduduk umur ≥3 tahun kebiasaan konsumsi minuman manis 

memiliki proporsi yang lebih tinggi dibandingkan konsumsi makanan manis.5 Data yang ada 

menunjukkan sebanyak 66,1% dan 51,7% warga  di Rukun Tetangga (RT) 02 

mengkonsumsi makanan dan minumas manis 1 kali sehari.  

Makanan dan minuman manis merupakan makanan atau minuman yang mengandung 

gula. Gula banyak ada  dalam bentuk olahan sehingga bentuk aslinya sudah tidak terlihat 

lagi. Khususnya pada makanan manis olahan berbahan dasar tepung.6 Gula juga biasanya 

ditambahkan dalam proses pengolahan makanan yang berguna sebagai pemanis, bahan 

pengawet, agen bulking dan membuat rasa makanan lebih enak.7 Kementerian Kesehatan 

menganjurkan konsumsi gula per 10% dari total energi (200kkal)  atau sebanyak 4 sendok 

makan gula per orang per hari atau 50 gram per orang per hari).8 

Hasil survei dan wawancara yang dilakukan pada warga  di RT 02 Keluarahan 

Bantargebang diperoleh kebiasaan mengkonsumsi makanan manis. Mereka mengkonsumsi 

makanan manis pada saat sarapan, saat berkumpul keluarga ataupun saat adanya perayaan-

perayaan kecil. Hasil kuesioner yang dibagikan kepada 56 warga  menunjukkan bahwa 

66,1% warga  mengkonsumsi makanan manis 1 kali per hari serta 12,5% mengkonsumsi 

>1 kali/ hari. Selain itu, hasil ini juga menunjukkan sebanyak 51,7% warga  

mengkonsumsi minuman manis 1 kali per hari dan 16,1% >1 kali/ hari. 

Hasil observasi yang dilakukan berkaitan konsumsi makan manis ditemukan bahwa 

yaitu orang dewasa suka memakan kue seperti kue jajanan pasar yang biasanya dimakan saat 

sarapan yang mana hampir setiap hari dikonsumsi.  warga  di RT ini juga sering 

mengkonsumsi kue disertai minum kopi/ the. Pada anak-anak juga ditemukan bahwa mereka 

mengonsumsi makanan manis dari saat mereka jajan sendiri atau dibelikan oleh orang tua 

mereka seperti donat, cookies/biskuit, jelly kemasan, dan lain sebagainya. Alasan 

warga  RT 02 Kelurahan Bantargebang Kota Bekasi mengkonsumsi makanan manis 

karena mereka merasa dengan mengkonsumsi makanan manis akan lebih cepat 

mengembalikan energi mereka akibat bekerja. Selain itu, hal ini sudah menjadi kebiasaan 

sehari-hari. Anak-anak di warga  juga menyukai makanan manis sehingga orang tua 

pasti akan menyediakan makanan manis setiap hari. 

Faktor risiko dari makanan manis ini akan berbahaya jika dikonsumsi berlebihan dari 

standar yang seharusnya. Hal ini dapat memicu timbulnya penyakit tidak menular. Selain 

itu, faktor risiko ini juga dapat dicegah. Oleh karena itu perlu dilakukan berkaitan konsumsi 

makanan atau minuman manis agar penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, kanker 

dan diabetes dimana makanan atau minuman manis sebagai salah satu faktor risiko dapat 



dicegah dan warga  juga tidak mengkonsumsi makanan dan minuman manis melebihi 

standar yang ditentukan. 

   

Edukasi ini dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2022, tepatnya pukul 10.00 WIB sampai 

dengan pukul 12.00 WIB. Kegiatan diselenggarakan di RT. 02, Kecamatan Bantar Gebang. 

Kegiatan ini dihadiri oleh 15 orang peserta, panitia dan ketua RT. Adapun partisipasi mitra 

dalam pelaksanaan yaitu sebagai peserta dan menyediakan waktu dan tempat dalam 

pelaksanaan kegiatan. Sebelum melakukan kegiatan maka tim abdimas berkoordinasi 

dengan ketua RT 02 untuk menentukan waktu penyelengaraan kegiatan. Kemudian panitia 

mempersiapkan logistik yang dibutuhkan seperti materi, kuesioner untuk pre dan post-test, 

pulpen, LCD, konsumsi kegiatan, hadiah serta souvenir untuk ucapan terima kasih. 

Pelaksanaan edukasi dilakukan dengan penyampaian materi berkaitan pengertian 

tentang makanan manis, sumber makanan dan minuman manis, contoh makanan manis, 

dampak kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis, dan materi yang terakhir 

adalah pencegahan atau cara mengurangi kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman 

manis. Adapun media yang digunakan memakai  media power point dengan waktu 

penyampaian materi ± 30 menit. Selain itu dalam kegiatan ini juga ada sesi games dan tanya 

jawab. sesudah  kegiatan edukasi juga dilakukan pembagian 10 buah poster kepada 

warga  yang tidak mengikuti kegiatan ini. Untuk mengevaluasi kegiatan edukasi maka 

dilakukan pengukuran pengetahuan dengan memberikan pertanyaan dalam bentuk kuesioner 

sebelum (pre) dan sesudah (post) edukasi. Bentuk pertanyaan dalam kuesioner yaitu pilihan 

berganda yang dapat dikerjakan dalam waktu ±15 menit. Pre-test dan post-test diberikan 

untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan dari warga  sehingga dapat diketahui 

edukasi yang dilakukan efektif atau tidak. Sebelum penyampaian materi maka diberikan pre-

test kemudian sesudah  penyampaian materi juga diberikan post-test.  

 

 HASIL DAN PEMBAHASAN 

Berikut gambaran pengetahuan warga  berdasarkan kuesioner di Kelurahan 

Bantargebang yang menjadi responden dalam kegiatan ini. 

 

1. Jenis makanan yang termasuk kedalam 

makanan manis 

100 0 100 0 

2. Contoh makanan manis 100 0 100 0 

3. Kandungan gula pada makanan dan minuman 

kemasan dapat dilihat dibagian 

33,3 66,7 93,3 6,7 

4. Batas mengkonsumsi gula menurut 

Kementerian Kesehatan RI yaitu 

26,7 73,3 96,7 13,3 

5. Contoh minuman manis 100 0 100 0 

6. Makanan yang secara alami sudah memiliki 

kandungan gula adalah 

13,3 86,7 86,7 13,3 


7. Kebiasaan mengonsumsi makanan manis 

secara berlebihan dapat menimbulkan 

penyakit tidak menular 

66,7 33,3 86,7 13,3 

8. Cara mengurangi kebiasaan mengkonsumsi 

makanan manis  

53,3 46,7 80,0 20 

9. Makanan yang sehat 100 0 100 0 

10. Fungsi makanan 100 0 100 0 

Pada tabel 1 terlihat kategori pengetahuan seluruh responden dari setiap pertanyaan 

pre-test dan post-test kuesioner. Dari kesepuluh pertanyaan pre-test, responden yang paling 

banyak menjawab salah pada pertanyaan 6 terkait “makanan yang secara alami sudah 

memiliki kandungan gula”, sebesar 86,7%. Responden yang paling banyak menjawab benar 

pada pertanyaan 1, 2, 5, 9, dan 10 terkait “jenis makanan yang termasuk kedalam makanan 

manis, contoh makanan manis, contoh minuman manis, makanan yang sehat, dan fungsi 

makanan”, sebesar 100%. 

Hasil post-test menunjukan ada  perubahan persentasi jawaban pertanyaan yaitu 

pertanyaan 3 (dari 33,3% menjadi 93,3%), pertanyaan 4 (dari 26,7% menjadi 96,7%), 

pertanyaan 6 (dari 13,3% menjadi 86,7%), pertanyan 7 (dari 66,7% menjadi 86,7%), dan 

pertanyaan 8 ( dari 53,3% menjadi 80,0%).  Hasil edukasi ini menunjukkan adanya 

peningkatan pengetahuan ditunjukkan dari hasil pre-test dan post-test seperti pada 

pertanyaan no 3, 4, 6, 7 dan 8.  

Pertanyaan no 3 yaitu kandungan gula pada makanan dan minuman kemasan dapat 

dilihat di bagian informasi nilai gizi pada kemasan minuman manis. Pada saat pre-test 

kebanyakan warga  menjawab benar hanya (33,3%). sesudah  penyampaian materi dan 

dilakukannya post-test, terjadi perubahan proporsi jawaban warga  meningkat menjadi 

(93,3%). Informasi mengenai kandungan gula pada pangan olahan dan pangan siap saji 

seperti makanan dan minuman dalam kemasan wajib. Hal ini bertujuan untuk menurunkan 

risiko terhadap penyakit tidak menular.9 Kondisinya informasi yang ada  pada label 

pangan ini terkadang tidak dibaca oleh konsumen. Penelitian menemukan bahwa konsumen 

sebagian besar (52,00%) kadang-kadang membaca informasi berkaitan kadar gula yang ada 

di label pangan pada pada minuman teh kemasan.10  

Pertanyaan no 4 yaitu tentang batas mengkonsumsi gula. Pada saat pre-test hanya 

26,7% peserta menjawab benar. sesudah  penyampaian materi dan dilakukannya post-test 

terjadi perubahan proporsi jawaban benar menjadi 96,7%. Kemenkes menganjurkan tentang 

batasan asupan konsumsi gula per hari yang dapat dikonsumsi oleh tiap individu. Konsumsi 

gula yang terlalu banyak atau bahkan kurang dapat mengganggu kesehatan. Anjuran 

konsumsi gula per orang per hari menurut Kemenkes RI adalah 10% dari total energi (200 

kkal) atau setara dengan 4 sendok makan gula per orang per hari (50 gram/orang/hari).11  

Pertanyaan no 6 yaitu mengenai kandungan gula yang ditemukan pada makanan 

manis alami. Pada saat pre-test hanya 13,3% peserta menjawab benar. sesudah  penyampaian 

materi dan dilakukannya post-test terjadi perubahan proporsi jawaban benar menjadi 86,7%. 

Gula merupakan karbohidrat terkecil yang dapat ditemukan secara alami dalam makanan 

seperti produk susu, buah-buahan dan sayuran. Makanan atau minuman yang mengandung 

gula akan memberikan rasa manis.12  Jika makanan yang alami saja mengandung gula dan 

ditambah mengkonsumsi pangan olahan atau pangan siap saji seperti makanan/ minuman 

dalam kemasan maka konsumsi gula tentunya akan melebihi batas standar per hari nya. 


Pertanyaan no 7 yaitu mengenai dampak kebiasaan mengkonsumsi makanan manis 

secara berlebihan. Pada saat pre-test  hanya 66,7% peserta menjawab benar. sesudah  

penyampaian materi dan dilakukannya post-test terjadi perubahan proporsi jawaban benar 

menjadi 86,7%. sesudah  penyampaian materi dan dilakukannya post-test, terjadi perubahan 

proporsi jawaban warga  meningkat menjadi 86,7%. Konsumsi gula yang berlebih 

seperti pada makanan manis dapat berisiko tinggi memicu  masalah kesehatan seperrti 

gula darah tinggi, obesitas, dan diabetes mellitus.13,14 Hasil penelitian juga menunjukkan 

bahwa ada hubungan konsumsi makanan manis dengan penyakit tidak menular.15 

Pertanyaan lain yang juga menunjukkan peningkatan pengetahuan bagi peserta yaitu 

pada pertanyaan no 8 mengenai cara mengurangi kebiasaan mengkonsumsi makanan manis. 

Pada saat pre-test kebanyakan warga  sudah menjawab dengan benar 53,3%. sesudah  

penyampaian materi dan post-test, terjadi perubahan proporsi jawaban benar meningkat 

menjadi 80,0%.  Makanan manis yang dikonsumsi melebihi standar harus dikurangi. Adapun 

beberapa cara untuk membatasi konsumsi gula yaitu membatasi konsumsi makanan dan 

minuman manis, mengurangi penggunaan gula pada makanan maupun minuman, jajanan 

atau saat memasak, mengganti makanan penutup dengan buah yang kurang manis dan/ atau 

sayur-sayuran segar, serta memanfaatkan informasi pada label kemasan dalam memilih 

makanan yang kurang manis atau rendah kalori.16 Komponen psikologis seperti emosi akan 

mempengaruhi dalam keputusan pemilihan makanan.17 Faktor emosi seperti stress berkaitan 

dengan konsumsi makanan manis. Stres merupakan salah satu pemicu meningkatnya 

konsumsi gula. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian bahwa ada hubungan antara tingkat stres 

dengan konsumsi gula tambahan dimana semakin tinggi tingkat stres maka semakin tinggi 

konsumsi gula tambahan.18 Penelitian lain juga menunjukkan remaja laki-laki dan 

perempuan berusia 16 tahun lebih sering mengkonsumsi coklat, permen dikarenakan dipicu 

oleh stress.19 Oleh karena itu, untuk mengurangi konsumsi makanan atau minuman manis 

maka perlu mengendalikan stress. 

Pertanyaan no 1 yaitu tentang jenis makanan yang termasuk kedalam makanan 

manis, pertanyaan 2 tentang contoh makanan manis, pertanyaan 5 tentang contoh minuman 

manis, pertanyaan 9 tentang makanan yang sehat dan pertanyaan 10 tentang fungsi makanan 

terlihat bahwa hasil pre-test dan post-test tidak ada perubahan yaitu semuanya menjawab 

benar. Hal ini berarti peserta yang ikut kegiatan edukasi sudah memahami topik-topik 

tersebut.  

Kegiatan abdimas ini juga menanyakan perilaku konsumsi makanan dan minuman 

manis pada peserta abdimas. Berikut gambaran perilaku warga  berdasarkan kuesioner 

di Kelurahan Bantargebang yang menjadi responden dalam kegiatan ini. 

Tabel 2 Hasil Kuesioner Gambaran Perilaku Mengkonsumsi Makanan dan Minuman manis 

di Kelurahan Bantargebang Tahun 2022 

Variabel Frekuensi (n) Persentase (%) 

Makanan manis apa yang sering dikonsumsi 

Kue 9 60 

Donat 1 6,66 

Roti 2 13,3 

Nasi 1 6,66 

Martabak 2 13,3 

Dalam sehari berapa kali mengkonsumsi makanan manis 

4 kali 5 33,3 

3 kali 4 26,6 

2 kali 5 33,3 


Variabel Frekuensi (n) Persentase (%) 

1 kali 1 6,66 

Minuman manis apa yang sering dikonsumsi 

Teh 10 66,6 

Kopi 2 13,3 

Marimas 1 6,66 

Boba 2 13,3 

Berapa takaran gula yang biasa dipakai sehari 

a. banyak 1 6,66 

b. 4 sendok 3 20 

c. 3 sendok 5 33,3 

d. 2 sendok 2 13,3 

e. 1 sendok 3 20 

f. ½  sendok  1 6,66 

Hasil kuesioner yang dibagikan menunjukkan bahwa peserta banyak mengkonsumsi 

kue yang merupakan makanan manis, frekuensi mengkonsumsi makanan manis 4 kali sehari, 

banyak mengkonsumsi teh yang merupakan minuman manis dan banyak peserta 

mengkonsumsi gula dengan takarannya 3 sendok dan 4 sendok. Hasil ini menunjukkan 

bahwa warga  yang mengikuti kegiatan ini terbiasa untuk mengkonsumsi makanan dan 

minuman manis. Hasil penelitian yang sejalan ditemukan bahwa sebesar 54,5%  responden 

≥18 tahun di Kabupaten Semarang mempunyai kebiasaan makan minum yang manis.

 

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa ada  peningkatan pengetahuan dan 

perilaku pada warga  RT. 02 Bantargebang Kota Bekasi yang berkaitan dengan 

konsumsi makanan manis berlebih. Kegiatan edukasi perlu dilakukan karena makanan manis 

sangat berbahaya bagi kesehatan dan merugikan individu yang tidak mengetahui dampak 

dari makanan manis tersebut. Kami merancang kegiatan ini untuk meningkatkan 

pengetahuan dan harapannya dengan dilakukannya edukasi maka warga  yang ikut 

dapat merubah perilaku sebagai langkah pencegahan penyakit. 

Ada beberapa kendala yang dialami saat melakukan kegiatan ini, seperti akses ke 

tempat diadakannya kegiatan yang terhitung jauh, fasilitas kurang memadai (proyektor tidak 

terlihat dengan jelas akibat memakai  ruangan yang terlalu terbuka, dan mikrofon yang 

tidak stabil). Kemudian, kendala yang ditemukan yaitu pada media yang digunakan. Media 

yang digunakan pada kegiatan ini yaitu media berbasis visual dengan memakai  power 

point. Saat dilakukan edukasi ditemukan ada kendala pada fasilitas seperti dilaksanakan pada 

ruangan terbuka sehingga tampilan materi yang memakai  power point tidak begitu 

terlihat. Selain karena ruangan yang terbuka, proyektor yang digunakan sudah usang 

sehingga berpengaruh pada tampilan layar yang kurang terlihat. Sekalipun ada  kendala, 

tetapi media yang digunakan masih mendukung untuk meningkatkan pengetahuan para 

peserta. Hasil pengabdian warga  yang juga memakai  media power point 

menunjukkan peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi dilakukan.

Kegiatan abdimas ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan warga  

berkaitan konsumsi makanan dan minuman manis. Hasil edukasi ini menunjukkan adanya 

peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah  dilakukannya edukasi kesehatan. Peningkatan 

pengetahuan ditunjukkan dari hasil pre-test dan post-test seperti pada pertanyaan no 3 (cara 

membaca kandungan gula dalam kemasan), 4 (batas aman mengonsumsi gula), 6 (jenis 

makanan yang memiliki kandungan gula alami), 7 (dampak mengonsumsi makanan manis) 

dan 8 (Cara mengurangi kebiasaan mengkonsumsi makanan manis). Selain itu diketahui 

perilaku responden cenderung suka mengkonsumsi makanan manis berupa kue, dalam sehari 

responden cenderung mengkonsumsi makanan manis sebanyak 2 hingga 4 kali. 

 



MINUMAN BERPEMANIS 



Karies gigi masih menjadi masalah kesehatan gigi yang utama pada remaja, 

dengan konsumsi minuman berpemanis (sugar-sweetened beverages/SSB) 

sebagai salah satu faktor penyebab penting. Penelitian ini bertujuan untuk 

meninjau bukti ilmiah mengenai hubungan konsumsi minuman berpemanis 

dengan kejadian karies gigi pada remaja. Tinjauan pustaka dilakukan dengan 

menggunakan kerangka PRISMA. Penelusuran artikel dilakukan melalui PubMed, 

ScienceDirect, dan Scopus dengan kata kunci “Sugar-Sweetened Beverage,” “Soft 

Drink,” “Sugary Drink,” “Dental Caries,” dan “Adolescent.” Kriteria inklusi 

meliputi artikel penelitian primer yang terbit sejak tahun 2020 dengan subjek 

remaja usia 10–19 tahun. Sebanyak lima artikel dari Latvia, Rumania, Jerman, 

Cina, dan Amerika Serikat memenuhi kriteria. Hasil penelitian menunjukkan 

bahwa konsumsi minuman berpemanis berhubungan signifikan dengan 

peningkatan prevalensi dan keparahan karies gigi pada remaja. Faktor yang turut 


memengaruhi antara lain perilaku kebersihan mulut, asupan gula harian, serta 

paparan dini terhadap SSB. Konsumsi minuman berpemanis merupakan faktor 

risiko penting bagi terjadinya karies gigi pada remaja. Upaya pencegahan perlu 

difokuskan pada pembatasan konsumsi SSB, edukasi kebersihan mulut, serta 

kebijakan kesehatan warga  untuk mengurangi paparan gula pada remaja. 

Persoalan karies gigi yang 

tinggi pada remaja masih menjadi 

masalah global. Pada tahun 2022 

Beban global untuk karies gigi untuk 

semua cakupan usia menurut laporan 

WHO sebanyak 2.5 milyar orang 

menderita karies gigi  Sebanyak 48% remaja di 

Inggris Raya diketahui mengalami 

karies gigi 

Temuan lain pada remaja di China 

yang memiliki karies gigi didapatkan 

sebanyak 53.65% 

Penderita karies di negara kita  sendiri 

menurut Survei Kesehatan negara kita  

tahun 2023 bisa dibilang cukup 

tinggi, yakni mencapai 37.4% untuk 

kelompok usia remaja 10-14 tahun 

dan 34.2% untuk kelompok usia 15 

tahun.  

Masalah karies gigi ini tidak 

hanya memicu  kerusakan pada 

jaringan gigi saja, tetapi juga 

memicu  dampak yang luas 

terhadap kualitas hidup 

penderitanya. Penderita karies gigi 

sering mengalami nyeri, kesulitan 

makan, gangguan tidur, rasa malu 

karena giginya yang rusak, hingga 

mengalami hambatan dalam 

pertumbuhan dan perkembangan 

kognitif. Hasil penelitiannya 

menunjukkan bahwa semakin parah 

tingkat karies gigi yang diderita 

semakin buruk kualitas hidup terkait 

kesehatan mulut 

Banyak faktor yang 

menyebabkan terjadinya karies gigi. 

Faktor risiko penyebabnya dapat 

dimulai dari banyak mengonsumsi 

makanan manis yang diikuti dengan 

kurangnya kesadaran merawat gigi. 

Merawat gigi dalam hal ini bukan 

hanya sekadar frekuensi menyikat 

gigi saja, tetapi juga termasuk dalam 

menggunakan dental floss dan 

mouthwash serta rutin berkunjung 

ke dokter gigi. Risiko ini  secara 

signifikan lebih tinggi pada individu 

yang jarang melakukan flossing 

maupun hanya mengunjungi dokter 

gigi bila ada  keluhan , dibandingkan 

dengan mereka yang menjalani 

pemeriksaan gigi secara rutin. Pola 

konsumsi seseorang juga turut 

berpengaruh terhadap kemungkinan 

terjadinya karies, mengonsumsi 

makanan dan minuman manis secara 

berlebihan seperti minuman 

berenergi, permen, soft drink¸dan 

minuman dengan gula tambahan 

Konsumsi 

minuman yang mengandung gula 

berlebih diketahui dapat 

meningkatkan faktor risiko karies. 

berdasar  Permenkes No. 30 

Tahun 2013, asupan gula harian 

sebaiknya tidak melebihi 10% dari 

total kebutuhan energi atau setara 

dengan ±50 gram per orang. 

Kandungan gula dalam minuman 

berpemanis kemasan di negara kita  

relatif tinggi, yaitu rata-rata 22,8 

gram per 250 ml, yang telah 

menyumbang sekitar 45% dari batas 

konsumsi harian. Tingginya 

kontribusi ini menegaskan peran 

MBDK sebagai sumber utama asupan 

gula berlebih yang berhubungan 

dengan meningkatnya risiko 


obesitas, diabetes, dan masalah 

kesehatan lain. Hasil laporan dari 

Riskesdas 2018 dan Survei Kesehatan 

negara kita  (SKI) 2023 remaja 

merupakan kelompok yang 

mengonsumsi MBDK paling tinggi. 

Hal ini  menjadikan 

adanya urgensi untuk memahami 

lebih jauh pengaruh minuman 

berpemanis terhadap karies gigi. 

Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk 

merangkum bukti ilmiah mengenai 

hubungan konsumsi MBDK dengan 

karies gigi pada remaja. 

 

Minuman berpemanis dalam 

kemasan atau yang dalam Bahasa 

Inggris disebut sugar-sweetened 

beverage merupakan semua jenis 

cairan minuman yang ada  

tambahan gula didalamnya saat 

proses produksi. Jenis-jenis 

produknya, seperti minuman 

berenergi, minuman buah 

berpemanis, kopi dan teh kemasan 

dengan tambahan gula, dan 

minuman soda. Mengonsumsi 

minuman berpemanis dalam jangka 

panjang terbukti dapat 

mengakibatkan berbagai masalah 

kesehatan, seperti obesitas, 

dislipidemia, dan hati berlemak, 

serta dapat pula mengakibatkan 

karies gigi. Paparan minuman 

berpemanis yang terlalu dini dapat 

membentuk preferensi rasa manis 

yang sulit diubah, sehingga dapat 

meningkatkan risiko konsumsi gula 

berlebih ketika remaja 

Banyak faktor yang mendukung 

mengapa remaja gemar meminum 

minuman berpemanis. Lingkungan 

sosial memiliki peran penting dalam 

mendorong konsumsi minuman 

berpemanis pada remaja. Penelitian 

di Texas, Amerika Serikat 

menemukan bahwa sekolah-sekolah 

yang berada di wilayah dengan 

status sosial ekonomi yang rendah 

memiliki tingkat keterpaparan iklan 

minuman berpemanis yang tinggi 

jika dibandingkan dengan sekolah-

sekolah di wilayah yang status sosial 

ekonomi tinggi. Tingginya paparan 

iklan ini dapat berpotensi untuk 

meningkatkan kebiasaan 

mengonsumsi minuman berpemanis 

yang akhirnya dapat menyebabkan 

berbagai macam risiko kesehatan 

Studi penelitian di negara kita  

juga ditemukan bahwa faktor remaja 

mengonsumsi minuma berpemanis 

dipengaruhi oleh faktor social dan 

ligkungan. Orang tua yang memiliki 

kebiasaan mengonsumsi minuman 

berpemanis dapat memberi  

pengaruh kepada remaja untuk 

meniru kebiasaan ini . Selain 

orang tua, teman sebaya turut 

memiliki pengaruh yang besar, 

karena remaja menjadi mudah untuk 

mengonsumsi minuman berpemanis 

jika berada dikelompok pertemanan 

yang juga mengonsumsi minuman 

berpemanis 

Selain faktor eksternal 

ada  juga faktor intrapersonal 

yang mempengaruhi kebiasaan 

konsumsi minuman berpemanis. 

Sebuah studi kualitatif menyoroti 

bahwa remaja seringkali mengaku 

mengalami craving dan dorongan 

kuat untuk terus mengonsumsi 

minuman berpemanis meskipun 

sudah merasakan dampak 

negatifnya. Kondisi ini  

mencerminkan adanya 

ketidakmampuan dalam 

mengendalikan diri pada remaja dan 

munculnya pola konsumsi yang 

menyerupai adiksi, di mana 

kepuasan sesaat lebih dominan 

dibandingkan dengan kesehatan 

jangka panjang

Faktor-faktor di atas 

menekankan tingginya konsumsi 

minuman berpemanis dipengaruhi 

oleh beberapa hal. Namun, dari sisi 

intrapersonal remaja yang belum 

bisa menahan atau mengendalikan 


keinginan berlebih untuk 

mengonsumsi minuman berpemanis 

ini dapat memicu  bahaya untuk 

kesehatan, misal risiko obesitas dan 

penyakit metabolik seperti diabetes 

tipe 2. Selain itu dampak yang timbul 

dari konsumsi minuman berpemanis 

yang berlebihan yakni meningkatnya 

kemungkinan terjadinya karies gigi 


Karies gigi merupakan 

merupakan suatu penyakit kronis 

yang disebabkan oleh banyak faktor 

yang ditandai oleh proses infeksi dan 

kerusakan progresif pada jaringan 

keras gigi. Karies gigi sudah sejak 

lama menjadi salah satu masalah 

kesehatan gigi yang paling sering 

dijumpai dan berkaitan erat dengan 

adanya pola konsumsi. Seiiring 

berjalannya masa, angka kejadian 

karies gigi meningkat signifikan 

akibat adanya peningkatan asupan 

gula di warga  

Meningkatnya angka kejadian 

karies gigi memiliki dampak 

terhadap kualitas hidup para 

penderitanya, baik secara fisik, 

psikologi, maupun sosial. Spesifiknya 

terhadap kualitas hidup akan 

mengalami nyeri dan 

ketidaknyamanan, serta gangguan 

sosial seperti menurunnya rasa 

percaya diri dan rasa malu akibat 

kondisi gigi yang rusak. Gangguan 

lain akibat karies dapat meyebabkan 

kesulitan makan dan berbicara. 

Semakin parah kondisi karies yang 

dialami maka akan semakin parah 

pula dampak terhadap kualitas hidup 

yang akan dialami 

Adanya keterkaitan antara 

konsumsi minuman berpemanis, 

karies gigi, penurunan kualitas hidup 

memperlihatkan bahwa isu ini 

penting dalam kesehatan 

warga . Remaja menjadi 

kelompok yang rentan karena belum 

memiliki kesadaran akan kebersihan 

mulut dan belum dapat 

mengendalikan diri jumlah konsumsi 

minuman berpemanis. Dampaknya 

dapat menurunkan rasa percaya diri, 

nyeri di gigi, dan penurunan kualitas 

hidup lainnya. Banyak penelitian 

yang telah dilakukan untuk melihat 

hubungan antara konsumsi minuman 

berpemanis dan karies gigi dengan 

hasil yang beragam karena adanya 

variasi perilaku kebersihan mulut, 

pola konsumsi antar populasi, dan 

konteks kosial. Melihat hal ini , 

maka penting untuk ditinjau secara 

sistematis bukti ilmiah keterkaitan 

antara konsumsi minuman berpeanis 

dan karies gigi pada remaja untuk 

mengintegrasikan bukti-bukti ilmiah 

terkini. 

Tinjauan sistematis ini 

diharapkan dapat memberi  

kontribusi dalam memperkuat dasar 

ilmiah sebagai upaya pencegahan 

karies gigi pada kelompok remaja 

yang dapat dilakukan melalui 

intervensi edukasi gizi, promosi 

kesehatan gigi dan mulut, serta 

kebijakan konsumsi gula. Hasil dari 

tinjauan sistematis ini juga dapat 

menjadi acuan dalam merancang 

strategi komunikasi kesehatan yang 

lebih efektif untuk menekan 

konsumsi minuamn berpemanis  di 

kalangan remaja melalui adanya 

kebijakan kesehatan warga . 

Dari uraian di atas maka 

disimpulkan bahwa konsumsi 

minuman berpemanis memiliki 

potensi besar dalam memengaruhi 

kesehatan gigi dan mulut pada 

remaja, khususnya pada peningkatan 

risiko karies gigi. Namun, jika dilihat 

dari penelitian sebelumnya yang 

menunjukkan adanya variasi temuan 

terkait hubungan ini  yang 

dipengaruhi oleh adanya faktor 

perilaku, lingkungan, serta 

kebiasaan kebersihan mulut. Oleh 

itu, rumusan masalah dalam tinjauan 

pustaka ini adalah bagaimana 

hubungan antara konsumsi minuman 

berpemanis dengan kejadian karies 

gigi pada remaja berdasar  hasil 

penelitian yang telah dipublikasikan? 


Tinjauan pustaka ini dilakukan 

dengan cara melakukan penelusuran 

artikel-artikel ilmiah yang ada di 

PubMed, ScienceDirect, dan Scopus 

menggunakan kerangka panduan 

Preferred Reporting Items for 

Systematic Reviews and Meta-

analyses (PRISMA). Kata kunci yang 

digunakan adalah “Sugar 

Sweetened-Beverage” or “Soft 

Drink” or “Sugary Drink”, “Dental 

Caries” or “Tooth Decay”, 

“Adoloscent” or “Teenager”. 

Penulusuran artikel dimulai dari 

artikel terbitan tahun 2020. 

ada  kriteria inklusi yang 

ditetapkan dalam melakukan 

penelusuran, yaitu artikel penelitian 

primer yang meneliti tentang 

hubungan mengonsumsi MBDK 

(sugar-sweetened beverage) dengan 

karies gigi dan tersedia dalam 

bentuk teks penuh (full text) dan 

dapat diakses oleh peneliti, baik 

melalui akses terbuka (open access) 

maupun melalui repositori 

institusi/perpustakaan dengan 

subjek penelitian golongan usia 

remaja 10-19 tahun berdasar  

kategori WHO. 

 

 

  

Kesehatan manusia seputar 

mulut dan gigi menjadi hal yang 

patut diperhatikan. Ketika kondisi 

mulut dan gigi mengalami perubahan 

kondisi seperti karies gigi, hal 

ini  akan memengaruhi kualitas 

hidup penderitanya. Penderita 

karies gigi akan mengalami kesulitan 

untuk menggigit ataupun mengunyah 

makanan, gangguan dalam 

berinteraksi karena rendahnya rasa 

percaya diri serta mengalami 

ketidaknyamanan karena gigi yang 

sakit akibat karies gigi (Singh & 

Talmale, 2023). Rendahnya kualitas 

hidup yang dialami penderita karies 

gigi ini perlu dipahami aspek atau 

faktor risiko yang menjadi alasan 

dari timbulnya karies gigi.  

Menurut Maldupa et al., (2021) 

dijelaskan bahwa aspek yang 

mendukung terjadinya karies gigi 

pada remaja adalah kebiasaan 

jarang menyikat gigi yang disertai 


dengan keterbatasan mengakses 

layanan kesehatan gigi. Perilaku 

ini  diiringi dengan tingginya 

konsumsi minuman manis. Pada 

penelitian yang dilakukan di Latvia 

ini menunjukkan bahwa karies tidak 

hanya memiliki prevalensi tinggi 

pada anak usia 12 tahun, yakni 

sebesar 71,9%, tetapi juga disertai 

tingkat keparahan yang cukup besar, 

dengan rata-rata lebih dari tiga gigi 

permanen per anak sudah 

mengalami kerusakan, hilang, atau 

ditambal akibat karies 

(D5MFT=3,28). 

Penelitian lain di Rumania juga 

membuktikan prevalensi karies gigi 

yang terjadi pada remaja usia 10-19 

tahun berada pada kategori relatif 

tinggi 95.5% dengan disertai indeks 

DMFT 3.13. Tingginya prevalensi 

ini  dipengaruhi oleh mayoritas 

remaja yang memiliki kebiasaan 

kurang baik terkait kesehatan mulut 

dan gigi. Dari penelitian ini  

turut menjelaskan bahwa ada  

kaitan antara terjadinya karies gigi 

dengan mengonsumsi minuman 

berpemanis. Faktor-faktor ini  

berkontribusi terhadap tingginya 

beban karies pada remaja di 

Rumania (Tudoroniu et al., 2020).  

Minuman berpemanis yang 

didalamnya mengandung asasm, 

seperti soda dan sari buah dapat 

menurunkan pH hingga di bawah 

batas kritis demineralisasi enamel. 

Paparan dari minuman yang 

dikonsumsi secara langsung 

melarutkan mineral hidroksiapatit 

yang merupakan komponen utama 

pembentuk enamel gigi. Akibat 

melarutnya mineral hidroksiapatit, 

enamel gigi menjadi rapuh, 

elastisitasnya berkurang, dan 

permukaan gigi menjadi lebih kasar. 

Adanya perubahan secara fisik 

ini  semakin mempermudah 

terjadinya kolonisasi bakteri plak 

dan mempercepat proses awal 

terbentuknya karies. Selain itu, gula 

yang terkandung dalam minuman 

berpemanis difermentasi oleh 

bakteri kariogenik yang 

menghasilkan asam organik seperti 

asam laktat yang juga menurunkan 

pH lebih lanjut. Kombinasi antara 

erosi asam asam dari minuman dan 

produksi bakteri asam akibat dari 

metabolisme gula mempercepat 

terjadinya demineralisasi enamel 

hingga dentin. Hal ini  dapat 

terjadi akibat adanya perubahan 

gaya hidup yang mengganti 

kebiasaan minum air dengan 

minuman soda, diikuti frekuansi 

konsumsinya yang tinggi, serta 

memiliki kebiasaan buruk terkait 

kebersihan mulut yang juga 

menambah daftar panjang risiko 

karies gigi ,

Temuan pada remaja Amerika 

Serikat usia 12-17 tahun diketahui 

bahwa perilaku kebersihan mulut 

khususnya pada frekuensi menyikat 

gigi berperan penting terhadap 

memperkuat dampak mengonsumsi 

minuman berpemanis terhadap 

kejadian karies gigi pada remaja. 

Remaja di Amerika Serikat yang 

mempunyai kebiasaan tinggi 

konsumsi minuman berpemanis 

memiliki beban untuk mengalami 

karies sebesar 59% lebih tinggi 

dengan peluang yang jauh lebih 

rendah untuk bebas karies yang 

rendah konsumsi minuman 

berpemanis. Perilaku tinggi 

konsumsi minuman berpemanis ini 

diiringi dengan kebiasaan menyikat 

gigi hanya satu kali sehari. Ketika 

remaja memiliki perilaku menyikat 

gigi dua kali atau lebih dalam sehari 

terbukti dapat mengurangi efek 

merugikan dari mengonsumsi 

minuman berpemanis terhadap 

kesehatan gigi. Adanya temuan 

ini  menekankan bahwa 

perilaku kebersihan mulut pada 

remaja dapat memperkuat ataupun 

melemahkan dampak dari 

mengonsumsi minuman berpemanis 

terhadap kejadian karies 

Selain perilaku kebersihan 

mulut pada temuan di Amerika 

Serikat yang menekankan bahwa 

perilaku kebersihan mulut, 

khususnya frekuensi menyikat gigi, 

dapat memperkuat atau 

melemahkan dampak konsumsi 

minuman berpemanis terhadap 

kejadian karies hal lain yang perlu 

diperhatikan ialah jumlah gula yang 

dikonsumsi dalam sehari. Jumlah 

total asupan gula harian yang 

melebihi 50 gram per hari 

dihubungkan sebagai faktor risiko 

utama terhadap kejadian karies gigi 

pada remaja usia 12-14 tahun. 

Diketahui pemerintah Cina sudah 

menetapkan batasan maksimal 

jumlah konsumsi gula harian, yakni 

50 gram sehari sesuai dengan 

anjuran WHO. Hal ini menegaskan 

adanya kesenjangan antara 

rekomendasi kesehatan warga  

dan perilaku konsumsi aktual pada 

remaja. Semakin tinggi jumlah 

konsumsi gula hariannya semakin 

tinggi pula risiko kemungkinan 

terjadinya karies gigi. Minuman 

berpemanis menyumbang sebanyak 

54.2% dari jumlah gula harian yang 

dikonsumsi oleh remaja, hal ini 

menjadikan minuman berpemanis 

menjadi faktor risiko utama 

terjadinya karies gigi pada remaja di 

Cina. Temuan ini menunjukkan 

bahwa jumlah konsumsi gula harian 

pada remaja perlu dibatasi 

mengingat lewat minuman 

berpemanis risiko karies dapat 

terjadi. Kejadian di Cina ini 

menunjukkan bahwa membatasi 

jumlah konsumsi gula harian sama 

pentingnya dengan perilaku 

merawat kesehatan mulut 

Jika temuan di Cina 

menekankan besarnya pengaruh 

jumlah gula harian yang dikonsumsi 

pada remaja terhadap kejadian 

karies, lain halnya yang terjadi di 

Jerman. Penelitian di Jerman 

mengungkapkan bahwa semakin dini 

seorang remaja terpapar minuman 

berpemanis maka kemungkinan 

untuk terjadinya karies semakin 

tinggi. Pada remaja usia 10 tahun 

yang tinggi konsumsi minuman 

berpemanis memiliki tinggi 

kemungkinan kejadian karies gigi. 

Namun, pada remaja usia 15 tahun 

efek ini melemah. Hal ini dapat 

dipicu oleh semakin baiknya 

kesadaran akan kebersihan mulut 

seiring bertambahnya usia 

Secara keseluruhan setiap 

negara menunjukkan bahwa 

minuman berpemanis memiliki 

hubungan yang signifikan terhadap 

kejadian karies pada remaja usia 10-

19 tahun. Namun, ada  

perbedaan pada beberapa kondisi 

seperti perilaku kesehatan mulut 

individu, pola konsumsi, lingkungan 

sosial, dan kebijakan kesehatan.  

Kesamaan hasil dari 5 negara 

yang menunjukkan hasil 

berhubungan signifikan ini 

mengartikan bahwa intervensi 

kebijakan kesehatan untuk publik 

sangat diperlukan sebagai upaya 

menekan angka konsumsi minuman 

berpemanis. Beberapa negara  telah 

menerapkan pajak untuk minuman 

berpemanis. 

sebanyak 16 negara telah 

menerapkan pajak gula terhadap 

harga jual minuman berpemanis 

sebagi bagian dari rekomendasi WHO 

untuk mengurangi konsumsi gula. 

Kebijakan ini  terbukti efektif 

dalam menurunkan angka konsumsi. 

Penerapan kebijakan ini dimulai atas 

dasar melihat keberhasilan di 

beberapa negara yang kemudian 

menginspirasi negara lain untuk 

menerapkan kebijakan serupa. 

Meskipun demikian, efektivitas 

kebijakan ini sangat bergantung 

pada beberapa faktor, seperti faktor 

sosial ekonomi, struktur industri 

minuman, tingkat kepatuha, hingga 

perilaku konsumen yang memiliki 

peran besar dalam menentukan 

efektivitas kebijakan ini . 

ada  pula risiko lain, yakni 

adanya substitusi ke produk lain yang 

tidak terdampak oleh pajak, seperti 

jus kemasan atau minuman 

berpemanis buatan yang pada 

akhirnya dapat mengurangi efek 

positif kebijakan ini  

Kebijakan fiskal berupa pajak 

minuman berpemanis di negara kita  

dapat menjadi langkah efektif untuk 

menekan angka konsumsi  gula 

tambahan.

menunjukkan bahwa dengan 

peningkatan harga sebesar 20% 

melalui pajak dapat menurunkan 

permintaan minuman berpemanis 

hingga 17.5% serta menambah 

penerimaan negara sekitar Rp 3,6 

triliun per tahun. Temuan ini sejalan 

dengan tinjauan 

yang menegaskan adanya dukungan 

dari berbagai lembaga pemerintah 

dan warga  sipil terhadap 

penerapan cukai minuman 

berpemanis sebagai upaya 

pencegahan obesitas dan penyakit 

tidak menular. Namun, tantangan 

utamanya terletak pada resistensi 

industri dan kesiapan sistem 

administrasi pajak yang masih perlu 

diperkuat sebelum 

diimplementasikan secara nasional. 

Penerapan kebijakan pajak 

gula di berbagai negara 

menunjukkan langkah nyata dalam 

menurunkan angka konsumsi 

minuman berpemanis pada tingkat 

populasi. Namun, upaya 

pengendalian konsumsi ini tidak 

hanya bergantung kepada kebijakan 

fiskal saja, tetapi juga pada 

perubahan perilaku warga , 

terutama di kelompok usia remaja. 

Di negara kita , remaja yang 

mengonsumsi minuman berpemanis 

menjadi sebuah tantangan. 

berdasar  hasil Survei Kesehatan 

negara kita  (SKI) tahun 2023, sebanyak 

50.7% remaja usia 10-14 tahun dan 

45.8% remaja usia 15-19 tahun 

setidaknya mengonsumsi 1 minuman 

manis setiap harinya. Hanya 4.3% 

remaja usia 10-14 tahun dan 5.6% 

remaja usia 15-19 tahun yang jarang 

mengonsumsi minuman manis (≤3 

kali per bulan). Kemudian, penderita 

karies gigi di negara kita  sendiri 

sebanyak 37,4% remaja usia 10–14 

tahun dan 34,2% remaja usia 15 

tahun dilaporkan memiliki gigi rusak, 

berlubang, atau sakit dalam satu 

tahun terakhir. Angka ini 

menunjukkan bahwa lebih dari 

sepertiga remaja mengalami 

gangguan kesehatan gigi yang 

berpotensi berkaitan dengan 

kebiasaan konsumsi makanan dan 

minuman tinggi gula Adanya temuan 

ini  mengindikasikan bahwa 

separuh remaja negara kita  

mempunyai kebiasaan mengonsumsi 

gula dalam jumlah yang tinggi. Perlu 

ada intervensi secara komprehensif 

melalui edukasi gizi, promosi 

kesehatan gigi dan mulut, dan 

penguatan regulasi konsumsi gula. 

Hal lain yang dapat dilakukan 

untuk mengendalikan konsumsi gula 

adalah melalui kebijakan pelabelan 

peringatan pada kemasan. 

Pendekatan ini menekankan 

pentingnya memberi  informasi 

yang jelas kepada konsumen 

mengenai risiko kesehatan akibat 

konsumsi gula berlebih.

bahwa penerapan front-of-package 

warning labels (FOP) secara 

signifikan meningkatkan kesadaran 

konsumen terhadap kandungan gula 

pada produk makanan dan minuman. 

Label peringatan dengan pesan 

secara eksplisit, yakni ”Tinggi Gula” 

atau “Rendah Gula” atau 

menggunakan traffic light label yang 

menampilkan warna merah, kuning, 

dan hijau untuk menandai kadar 

gula. Digunakannya sistem ini  


terbukti paling efektif dalam 

menurunkan niat beli dan 

meningkatkan kesadaran akan risiko 

kesehatan akibat konsumsi gula 

berlebih. 

Konsumsi minuman 

berpemanis tidak hanya berdampak 

pada peningkatan risiko karies gigi, 

tetapi juga memberi  beban 

jangka panjang terhadap sistem 

kesehatan masyarkat. Peningkatan 

prevalensi karies gigi, obesitas, dan 

penyakit metabolik terakit dengan 

konsumsi gula berlebih menuntut 

biaya kesehatan yang tinggi, baik 

dari sisi pengobatan maupun 

pencegahan. Pada kelompok usia 

remaja, kebiasaan mengonsumsi 

minuman berpemanis dapat 

membentuk preferensi rasa manis 

yang cenderung bertahan hingga 

dewasa, terlebih jika terpapar pada 

usia yang cukup dini. Kondisi ini 

berpotensi untuk meningkatkan 

risiko penyakit tidak menular di 

kemudian hari dan menambah beban 

ekonomi nasional. Oleh itu, 

pengendalian konsumsi minuman 

berpemanis perlu dilakukan secara 

komprehensif melalui kebijakan 

kesehatan publik, reformulasi 

produk, serta membatasi iklan yang 

menargetkan kelompok usia remaja 

Sektor pendidikan juga 

mempunyai peranan penting dalam 

membangun literasi gizi dan perilaku 

konsumsi sehat sejak dini. Sekolah 

dapat menjadi tempat yang tepat 

untuk memberi  edukasi gizi, 

menyediakan alternatif minuman 

sehat, dan memmbatasi akses 

terhadap produk minuman 

berpemanis di lingkungan sekolah. Di 

Australia membuktikan bahwa 

program dengan pendeketan 

berbasis sekolah melalui program 

“Thirsty? Choose Water!” dapat 

menurunkan konsumsi minuman 

berpemanis secara signifikan. 

Intervensi ini menggabungkan 

strategi perilaku dan lingkungan, 

seperti kampanye promosi air 

minum, penyediaan fasilitas isi ulang 

air minum di sekolah, serta kegiatan 

edukasi melalui kurikulum 

pembelajaran di sekolah , Melalui temuan ini  

menegaskan bahwa edukasi gizi di 

sekolah akan lebih efektif bila 

diiringi dengan perubahan 

lingkungan yang mendukung pilihan 

sehat, bukan sekadar penyampaian 

informasi. 

Dalam konteks penerapan di 

negara kita , pendekatan serupa dapat 

diterapkan melalui penguatan 

pendidikan gizi di sekolah 

menengah, pembatasan akses 

terhadap produk minuman 

berpemanis di kantin, serta 

penyediaan fasilitas isi ulang air 

minum gratis bagi siswa. Integrasi 

intervensi edukatif dan struktural di 

lingkungan sekolah diharapkan 

mampu mengubah kebiasaan 

konsumsi remaja menuju pola 

konsumsi yang lebih sehat serta 

menurunkan angka risiko penyakit 

tidak menular, terutama karies gigi 

di kemudian hari. 

Selain pendekatan intervensi 

berbasis sekolah yang memiliki peran 

dalam membentuk perilaku konsumsi 

sehat pada remaja, hasil kajian ini 

juga memiliki sejumlah keterbatasan 

yang perlu diperhatikan untuk 

interpretasi dan pengenbangan 

penelitian selanjutnya. 

Meskipun hasil kajian ini 

menunjukkan hubungan yang 

konsisten antara minuman 

berpemanis dan peningkatan risiko 

karies gigi pada remaja, ada  

beberapa keterbatasan yang perlu 

diperhatikan. Sebagian besar 

penelitian yang di-review 

menggunakan desan penelitian 

potong lintang (cross-sectional), 

sehingga tidak dapat dipastk=ikan 

hubungan sebab-akibat secara 

langsung antara konsumsi minuman 

berpemanis dan kejadian karies. 

Selain itu, perbedaan dalam metode 


pengukuran asupan gula, frekuensi 

konsumsi, serta variasi dalam teknik 

pemeriksaan karies antarnegara 

dapat memengaruhi interpretasi 

hasil dan membatasi generalisasi 

temuan penelitian. Faktor lain 

seperti status social ekonomi, 

kebiasaan menjaga kebersihan mulut 

dan pola diet secara keseluruhan 

juga berpotensi menjadi variabel 

pengganggu yang belum sepenuhnya 

dikendalikan dalam Sebagian besar 

studi yang di-review. 

Arah penelitian selanjutnya 

yang dapat dilakukan adalah 

menggunakan desain longitudinal 

atau kohort untuk mengevaluasi 

dampak jangka panjang konsumsi 

minuman berpemanis terhadap 

perkembangan karies gigi pada 

remaja. Selain itu, pendekatan 

multidisipilin yang menggabungkan 

aspek perilaku, sosial ekonomi, dan 

kebijakan publik dapat 

memeberikan pemahaman yang 

lebih komprehensif mengenai faktor-

faktor yang memengaruhi konsumsi 

minuman berpemanis. Penelitian di 

masa mendatang juga diaharapkan 

dapat menilai efektivitas 

pendekataan yang melibatkan 

kolaborasi lintas sektor antara 

kesehatan, pendidikan, dan industri 

pangan dalam upaya menurunkan 

konsumsi minuman berpemanis pada 

remaja secara berkelanjutan. 

Penelitian berbasis populasi di 

negara kita  menjadi sangat diperlukan 

untuk menilai efektivitas intervensi 

edukasi gizi, pembatasan akses 

terhadap produk minuman 

berpemanis di kantin sekolah, serta 

penerapan kebijakan fiskal seperti 

pajak gula dalam menekan konsumsi 

gula tambahan di kalangan remaja. 

Hasil dari penelitian ini  

diharapkan dapat menjadi dasar 

ilmiah dalam perumusan kebijakan 

gizi nasional serta strategi 

pencegahan karies gigi yang lebih 

efektif dan berkelanjutan.   

Review artikel ini 

menunjukkan bahwa konsumsi 

minuman berpemanis secara 

konsisten berhubungan dengan 

peningkatan risiko karies gigi pada 

remaja. Faktor perilaku seperti 

frekuensi menyikat gigi dan 

kunjungan ke dokter gigi, serta total 

asupan gula harian memengaruhi 

kekuatan hubungan ini . 

Paparan konsumsi gula sejak usia 

muda diketahui berdampak lebih 

kuat terhadap pembentukan karies 

gigi permanen dan dapat 

memperburuk kesehatan mulut di 

masa dewasa. Selain itu, konsumsi 

minuman berpemanis juga dikaitkan 

dengan gangguan metabolic seperti 

obesitas dan diabetes melitus yang 

menunjukkan bahwa dampak 

minuman berpemanis tidak hanya 

bersifat lokal pada rongga mulut, 

tetapi juga sistemik terhadap 

kesehatan tubuh secara 

keseluruhan. 

Temuan ini menegaskan 

pentingnya upaya pencegahan karies 

gigi yang menekankan pembatasan 

konsumsi minuman berpemansi, 

peningkatan edukasi perilaku 

kebersihan mulut, serta promosi 

konsumsi air putih melalui intervensi 

berbasis sekolah. Lingkungan 

sekolah dapat menjadi ruang yang 

strategi dalam membentuk perilaku 

konsumsi sehat melalui penyediaan 

fasilitas isi ulang air minum gratis, 

pembatasan penjualan produk 

minuman berpemanis di kantin 

sekolah, dan integrasi edukasi gizi 

dalam kurikulum pembelajaaran di 

sekolah. Upaya ini perlu diperkuat 

oleh kebijakan lintas sektor, 

termasuk penerapan kebijakan pajak 

minuman berpemanis, pembatasan 

promosi produk tinggi gula kepada 

remaja, serta kampanye sosial yang 

berkelanjutan untuk meningkatkan 

kesadaran remaja terhadap bahaya 

konsumsi gula berlebih. 

Dengan mengintegrasikan 

pendeketan edukatif, lingkungan 

sosial, dan kebijakan publik, 

pencegahan karies gigi dapat 

dilakukan secara lebih efektif dan 

berkelanjutan. Tinjauan ini juga 

memberi  dasar ilmiah bagi 

pemerintah negara kita  untuk 

memperkuat kebijakan 

pengendalian konsumsi gula, 

khususnya dalam konteks remaja 

sebagai kelompok usia kritis yang 

menentukan pola konsumsi di masa 

depan. 

Hasil kajian ini diharapkan 

menjadi dasar ilmiah bagi 

pengembangan strategi kesehatan 

warga  dan kebijakan gizi 

nasional yang berorientasi pada 

pencegahan penyakit tidak menular 

melalui pengendalian konsumsi gula 

pada remaja. Selain, itu penelitian 

lanjutan dengan desai longitudinal 

diperlukan untuk memperkuat bukti 

kausal antara konsumsi minuman 

berpemanis dan dampaknya 

terhadap kesehatan gigi serta 

metabolik pada populasi kelompok 

usia remaja di negara kita . Dengan 

demikian, temuan dari tinjauan 

sistematik ini diharapkan dapat 

berkontribusi terhadap Upaya 

nasional dalam menciptakan 

generasi muda yang lebih sehat, 

produktif, dan memiliki kesadaran 

gizi yang lebih baik terhadap risiko 

konsumsi gula berlebih.