herbal medicine 1





 herbal medicine 



Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi masalah kesehatan 

yang sangat serius salah satunya yaitu  hipertensi yang dapat 

menyerang siapa saja, baik muda maupun tua, disebut juga sebagai 

the silent killer . Di Amerika, diperkirakan 1 dari 

4 orang dewasa menderita hipertensi. Dari beberapa penelitian 

dilaporkan bahwa penyakit hipertensi yang tidak terkontrol dapat 

memicu  peluang 7 kali lebih besar terkena stroke, 6 kali lebih 

besar terkena congestiveheart failure dan 3 kali lebih besar terkena 

serangan jantung  Hipertensi juga merupakan 

salah satu penyakit degeneratif, umumnya tekanan darah bertambah 

secara perlahan seiring dengan bertambahnya umur Tekanan darah tinggi (hipertensi) merupakan suatu 

keadaan dimana tekanan darah seseorang ≥140 mmHg (sistolik) dan/

atau ≥ 90 mmHg 

Peningkatan tekanan darah pada penderita hipertensi terjadi 

di pembuluh arteri yang merupakan bagian perpanjangan dari 

pembuluh darah jantung. Apabila jantung bekerja secara berlebihan 

dengan kekuatan memompa yang lebih kuat dari biasanya, darah 

yang dialirkan akan lebih banyak. Hal ini memicu  terjadinya 

tekanan darah yang berlebih di arteri. Dengan demikian, arteri akan 

menjadi tidak lentur dan berubah menjadi kaku. Pada kondisi ini, 

pembuluh darah arteri tidak dapat mengembang secara sempurna 

pada saat jantung memompa darah melalui arteri ini  sehingga 

darah yang dipompakan terpaksa melewati saluran pembuluh yang 

sempit sehingga memicu  terjadinya kenaikan tekanan darah 

Hipertensi merupakan penyakit yang tidak ditularkan dari 

individu ke individu lain dan bersifat kronis, penyakit ini pada 

umumnya berkembang secara lambat dan memiliki durasi yang 

panjang. Faktor risiko hipertensi diklasifikasikan menjadi faktor 

risiko yang dapat diubah dan faktor risiko yang tidak dapat diubah. 

Faktor risiko yang dapat diubah antara lain stress, obesitas atau 

kegemukan, kebiasaan merokok, kebiasaan minum alkohol, aktifitas 

fisik, konsumsi lemak dan garam yang berlebih. sedang  riwayat 

keluarga, usia, jenis kelamin, dan ras yaitu  faktor risiko yang tidak 

dapat di ubah 

Proporsi kematian di dunia hampir 70% pemicu nya yaitu  

PTM. berdasar  Global Noncommunicable Desease (NCD) 

dilaporkan bahwa pada tahun 2012 sebesar 68% pemicu  kematian 

di semua kelompok umur yaitu  sebab  penyakit tidak menular. 

Data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan 

sekitar 1,13 miliar orang di dunia menderita hipertensi. Artinya1 dari 

3 orang di dunia terdiagnosis menderita hipertensi. Jumlah penderita 

hipertensi di dunia diperkirakan pada 2025 akan menjadi 1,5 miliar 

orang terkena hipertensi. Diperkirakan juga setiap tahun ada 9,4% 

juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasi (World 

Health Organization, 2015). Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 

2018 menyatakan bahwa prevalensi hipertensi berdasar  hasi 

pengukuran pada penduduk usia 18 tahun sebesar 34,1% tertinggi 

di Kalimantan Selatan 44.1%, dan terendah di Papua sebesar 22,2%, 

sedang  Sulawesi Selatan 32% 

(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 

Berkembangnya hipertensi sangat dipengaruhi oleh banyak 

faktor, antara lain kurangnya aktifitas fisik, kebiasaan merokok, stress, 

riwayat keluarga, dan kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi 

lemak hewani, kurangnya serat, tinggi natrium dan rendah kalium. 

Faktor risiko ini  pada umumnya disebabkan pola hidup (life 

style) yang tidak sehat. Faktor sosial budaya warga  negara kita  

berbeda dengan sosial budaya warga  di negara maju. Tekanan 

darah dapat di kontrol dengan menghindari makanan yang terlalu 

asing atau terlalu banyak mengandung natrium seperti makanan 

diolah dengan monosodium glutame (MSG) (Muliyati dkk., 2010).

Upaya pengobatan hipertensi dapat dilakukan dengan dua cara 

yaitu pengobatan farmakolgi dan non farmakologi. Pengobatan 

farmakologi dilakukan dengan pemberian obat yang bersifat diuretik, 

simpatetik, betablocker, dan vasodilator dengan memperhatikan 

tempat, mekanisme kerja dan tingkat kepatuhan. Pengobatan 

hipertensi dengan menggunakan obat-obatan sintetik dalam jangka 

panjang dapat memicu  efek yang kurang baik bagi kesehatan 

diantaranya seperti kelelahan, pusing, batuk, sering buang air kecil, 

retensi cairan, disfungsi seksual, detak jantung tidak normal, dan 

alergi (Dafriani, 2019). Biaya pengobatan hipertensi juga terbilang 

mahal. Selain itu terapi farmakologis menggunakan obat sintetik 

memerlukan kepatuhan dalam mengkonsumsi obat agar obat 

ini  dapat berkerja maksimal. sedang  pengobatan secara non 

farmakologi meliputi penurunan berat badan, olahraga teratur, diet, 

dan terapi komplementer. Terapi komplementer merupakan terapi 

yang yang mengacu pada pengobatan alamiah, salah satunya terapi 

herbal 

berdasar  data Riskesdas 2018 terkait proporsi riwayat 

minum obat dan alasan tidak minum obat pada penduduk hipertensi 

berdasar  diagnosis dokter atau minum obat dari 8,8% penderita 

hipertensi 32,3% tidak rutin, 13,3% tidak minum obat, dan 54,4% 

3BAB I

rutin. Minum obat tradisional, tidak mampu beli obat rutin, obat 

tidak tersedia di fasilitas kesehatan dan tidak tahan efek samping obat 

yaitu  beberapa alasan penderita tidak rutin dan tidak minum obat 

(Riskesdas, 2018). Ketersediaan dan tingkat kepercayaan warga  

terhadap pengobatan farmakologi yang rendah, diperlukan alternatif 

dalam mengatasi hipertensi sehingga pengobatan komplementer 

seperti pemanfaatan terhadap tanaman lokal memiliki peran yang 

penting. Pengobatan tradisional diterapkan sebab  alasan mudah, 

murah dan manjur serta sesuai dengan kerangka berpikir individu 

dalam rumah tangga. Fakta yang menarik yaitu  sekitar 80% dari 

tanaman obat yang ada di dunia tumbuh di negara kita , sehingga 

bahan yang dibutuhkan untuk pengobatan yang berasal dari alam ini 

dapat dengan mudah ditemukan 

Belimbing wuluh sering disebut belimbing sayur atau belimbing 

asam sebab  memiliki rasa yang cukup asam dan biasanya digunakan 

sebagai bumbu masakan atau ramuan jamu . Nama ilmiah belimbing 

wuluh yaitu  Averrhoa Bilimbi L , Belimbing 

wuluh telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk 

pengobatan berbagai penyakit yaitu digunakan sebagai antibakteri. 

Terdapat senyawa fitokimia yang terkandung dalam ekstrak etanol 

daun belimbing wuluh telah berhasil diidentifikasi yang meliputi 

saponin, tanin, steroid, flavonoid dan alkoloid. Kadar total fenol 

dan flavonoid ekstrak daun belimbing wuluh dapat ditentukan dan 

berpotensi menjadi salah satu sumber antioksidan dan antiinflamasi 

alami, sebab  memiliki aktivitas antioksidan yang tergolong sangat 

kuat serta menunjukkan adanya aktivitas antiinflamasi 

Penggunaan tanaman lokal sebagai bahan pengobatan ditengah-

tengah warga  yaitu  hal yang perlu dipromosikan dan 

digunakan sebagai upaya pencegahan dan pengobatan warga  

penderita hipertensi yang murah. Daun belimbing wuluh merupakan 


(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 

alternatif yang baik mengingat daun belimbing mudah didapatkan 

oleh warga  dan masih banyak warga  yang belum 

mengetahui manfaat dari tanaman belimbing wuluh. berdasar  

telaah jurnal penelitian terdahulu menemukan bahwa pemanfaatan 

daun belimbing wuluh dengan cara di seduh atau di buat menjadi 

rebusan air daun belimbing. 

Bagian tanaman belimbing wuluh yang dapat digunakan 

sebagai anti hipertensi diantaranya yaitu  daun dan buahnya . Daun belimbing wuluh merupakan salah satu 

obat asli negara kita  yang sudah digunakan sejak dulu, jauh sebelum 

pelayanan kesehatan formal dengan obat-obat modern yang sekarang 

telah digunakan oleh warga  secara luas. Ekstrak daun belimbing 

wuluh mengandung senyawa golongan tannin, flavonoid dan triterpen 

yang memiliki aktivitas farmakologi bagi manusia (Aryantini dkk, 

2017). warga  menggunakan daun belimbing wuluh ini antara 

lain untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri, menurunkan kadar gula 

darah, bunganya juga dapat digunakan sebagai obat batuk dan perasan 

air buah sangat baik untuk asupan vitamin C (Afifi dkk, 2018).

Pada penelitian sebelumnya percobaan pada manusia masih 

sangat minim sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian 

dengan membuat daun belimbing wuluh yang akan dijadikan dalam 

bentuk teh sebab  lebih praktis, mudah, dan suatu cara modern baru 

untuk minum teh dibandingkan dengan seduhan langsung dalam 

bentuk daun belimbing. 

Teh yaitu  minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia 

sejak zaman dulu. Data komite teh international menunjukkan tren 

mengkonsumsi teh global selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada 

tahun 2018 konsumsi teh global meningkat 13,9% dari tahun 2014. 

negara kita  berada di urutan ke 10 dalam konsumsi teh terbesar di 

dunia (Prasetia dkk, 2020). Terdapat dua jenis teh secara umum yaitu 

teh yang terbuat dari daun camelia sinensis dan teh herbal yang terbuat 

5BAB I

selain dari daun camelia sinensis yang biasanya digunakan sebagai 

pengobatan. Dalam pembuatan produk baru teh daun belimbing 

wuluh perlu melewati beberapa uji terlebih dahulu sebelum dilakukan 

uji efektivitas untuk melihat bagaimana pengaruhnya di lapangan 

seperti uji daya terima, uji umur simpan, dan uji laboratorium untuk 

kandungan zat gizi.

Teh dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu teh herbal 

dan non herbal. Teh non herbal dikelompokkan lagi menjadi tiga 

golongan yaitu teh hitam, teh hijau dan teh oolong. Minuman 

teh yaitu  minuman yang paling banyak dikonsumsi warga  

negara kita  sebab  rasanya yang segar sehingga dalam penelitian 

ini pemanfaatan daunnya dijadikan produk teh yang dinilai lebih 

modern dan praktis.

Melihat dari tingginya tingkat kesukaan warga  terhadap 

teh dan potensi pemanfaat dari tanaman lokal daun belimbing wuluh 

terhadap kejadian hipertensi, maka dari itu perlu dibuat produk the 

dari tanaman belimbing wuluh untuk lebih memudahkan konsumsi 

tanaman herbal sebagai upaya untuk mengobati ataupun mencegah 

terjadinya hipertensi. 

(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 


KONSEP DASAR HERBAL MEDICINE 

Obat herbal atau herbal medicine didefinisikan sebagai bahan 

baku atau sediaan yang berasal dari tumbuhan yang memiliki 

efek terapi atau efek lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia; 

komposisinya dapat berupa bahan mentah atau bahan yang telah 

mengalami proses lebih lanjut yang berasal dari satu jenis tumbuhan 

atau lebih. Sediaan herbal diproduksi melalui proses ekstraksi, 

fraksinasi, purifikasi, pemekatan atau proses fisika lainnya; atau 

diproduksi melalui proses biologi. Sediaan herbal dapat dikonsumsi 

secara langsung atau digunakan sebagai bahan baku produk herbal. 

Produk herbal dapat berisi eksipien atau bahan inert sebagai tambahan 

bahan aktif. 

Obat herbal telah diterima secara luas di negara berkembang dan 

di negara maju. Menurut WHO, hingga 65 % dari penduduk negara 

maju dan 80 % penduduk negara berkembang telah menggunakan 

obat herbal. Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan 

obat herbal di negara maju yaitu  : i) meningkatnya usia harapan 

hidup pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat, ii) adanya 

kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu seperti 

kanker, serta iii) semakin meluasnya akses informasi obat herbal di 

seluruh dunia. 

7

Obat herbal atau herbal medicine didefinisikan sebagai bahan 

baku atau sediaan yang berasal dari tumbuhan yang memiliki efek 

terapi atau efek lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia; 

komposisinya dapat berupa bahan mentah atau bahan yang telah 

mengalami proses lebih lanjut yang berasal dari satu jenis tumbuhan 

atau lebih. 

Sediaan herbal diproduksi melalui proses ekstraksi, fraksinasi, 

purifikasi, pemekatan atau proses fisika lainnya; atau diproduksi 

melalui proses biologi. Sediaan herbal dapat dikonsumsi secara 

langsung atau digunakan sebagai bahan baku produk herbal. Produk 

herbal dapat berisi eksipien atau bahan inert sebagai tambahan bahan 

aktif. Obat herbal telah diterima secara luas di negara berkembang dan 

di negara maju. Menurut WHO, hingga 65 % dari penduduk negara 

maju dan 80 % penduduk negara berkembang telah menggunakan 

obat herbal. Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan 

obat herbal di negara maju yaitu  : i) meningkatnya usia harapan 

hidup pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat, ii) adanya 

kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu seperti 

kanker, serta iii) semakin meluasnya akses informasi obat herbal di 

seluruh dunia (Sukandar, 2004). 

Tumbuhan herbal yaitu  tumbuhan atau tanaman obat yang dapat 

dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional terhadap penyakit. Sejak 

zaman dahulu, tumbuhan herbal berkhasiat obat sudah dimanfaatkan 

oleh warga  Jawa. Pengobatan tradisional terhadap penyakit 

ini  menggunakan ramuanramuan dengan bahan dasar dari 

tumbuhtumbuhan dan segala sesuatu yang berada di alam. Sampai 

sekarang, hal itu banyak diminati oleh warga  sebab  biasanya 

bahan-bahannya dapat ditemukan dengan mudah di lingkungan 

sekitar. Pengobatan tradisional terhadap penyaktit dengan tumbuhan 

herbal atau sering disebut itoterapi atau pengobatan dengan jamu 

(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 

merupakan pengobatan tradisional khas Jawa yang berasal dari nenek 

moyang.

negara kita  merupakan negara tropis dengan jumlah tanaman 

yang sangat banyak. Keanekaragaman hayati negara kita  merupakan 

nomor dua sesudah  Brasilia. Sekitar 80% tanaman yang ada didunia 

berada di negara kita . Diperkirakan terdapat 25.000-30.000 spesies 

tanaman di negara kita . Penggunaan obat tradisional oleh nenek 

moyang bangsa negara kita  telah berlangsung lama. Beberapa relief 

yang ada di candi Borobudur menjadi bukti hal ini. Dugaan ini juga 

diperkuat dengan ditemukan resep tanaman obat yang ditulis tahun 

991-1016 pada daun lontar di Bali (Sutrisna, 2016). 

Semakin berkembanganya penyakit degeneratif dan semakin 

banyaknya laporan efek samping obat modern membuat trend 

kembali ke alam untuk pengobatan meningkat. Sudah maklum 

bahwa penyakit degeneratif merupakan penyakit yang bersifat 

kronis, reversible dan diperlukan pengobatan yang terus menerus. 

Terdapat kesadaran juga usaha-usaha mencegah munculnya penyakit 

degeneratif ini . Dalam kaedah farmakologi, suatu obat pasti 

memiliki efek samping. Yang membedakan antara obat sintetis 

dengan obat tradisonal yaitu  besarnya frekuensi dan beratnya 

efek sampaing yang timbul akibat pemberian obat ini . Telah 

dimaklumi bahwa obat sintetis beresiko memicu  efek samping 

lebih besar dari pada obat tradisional, walaupun juga memiliki efek 

utama lebih kuat dari obat tradisional. Hal ini dapat dimengerti 

sebab  obat sintetis merupakan senyawa aktif murni, sedang  

obat tradisonal merupakan ekstrak yang terdiri dari banyak senyawa 

dengan kadar kandungan kimia tertentu. Berdasar inilah kemudian 

warga  banyak mulai menggunakan obat tradisional untuk 

mengobati penyakit atau mencegah penyakit terutama penyakit 

degeneratif. 

9BAB II

negara kita  merupakan negara dengan biodeversitas terbesar kedua 

sesudah  Brazilia. Jumlah jenis tanaman di negara kita  diperkirakan 

lebih dari 30.000. Sekitar 7500 merupakan tanaman obat. Baru sekitar 

kurang dari 2000 tanaman obat telah diidentifi kasi. warga  

baru menggunakan 1200 jenis tanaman obat, sedang industri baru 

memanfaatkan sekitar 300 jenis. Data ini menunjukkan betapa masih 

terbuka sangat luas pemanfaatan tanaman obat untuk dikembangkan 

sebagai obat tradisional. Obat herbal ternyata bukan hanya digunakan 

dinegara berkembang tetapi juga mulai digunakan di negara maju. 

Data WHO menyatakan bahwa obat herbal digunakan sekitar 60% 

penduduk di negara maju, dan sekiatar 80% penduduk negara 

berkembang.

Obat bahan alam (herbal) yaitu  obat yang mengandung bahan 

aktif yang berasal dari tanaman dan atau sediaan obat dari tanaman. 

Tanaman obat atau sediaannya secara keseluruhan dipandang sebagai 

bahan aktif. Sediaan tanaman obat yaitu  bahan tanaman yang sudah 

dihaluskan atau berbentuk serbuk, ekstrak, tinktura, minyak lemak 

atau minyak atsiri. Hasil perasan yang dibuat dari tanaman obat, 

dimana pembuatannya melibatkan proses fraksinasi, pemurnian, dan 

pemekatan.

Dalam tanaman ada dua macam metabolisma yaitu primer 

dan sekunder. Proses metabolisma primer menghasilkan senyawa-

senyawa yang dibutuhkan untuk proses biosintesis sehari-hari, 

seperti karbohidrat, protein, lemak, dan asam nukleat. sedang  

proses metabolisma sekunder menghasilkan senyawa-senyawa 

seperti alkaloid, terpenoid, flavonoid, tanin, dan steroid. Senyawa 

hasil metabolisma sekunder (metabolit sekunder) diproduksi sebagai 

benteng pertahanan tumbuhan dari pengaruh lingkungan atau hama 

penyakit. Fungsi metabolit sekunder ialah melindungi tanaman dari 

serangan mikroba dengan membentuk fitoaleksin yaitu senyawa yang 

disintesis di sekitar sel yang terinfeksi, untuk pertahanan terhadap 

(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 

herbivora atau predator lainnya, dan melindungi tanaman dari 

terpaan sinar matahari. 

Berdasar efikasinya, maka kelas obat herbal fitofarmaka 

menempati posisi paling atas dibanding kelas lainnya. Pemerintah 

mendorong pengembangan obat tradisional menjadi kelas fitofarmaka. 

PERMENKES no 760 tahun 1992 menyatakan bahwa fitofarmaka 

merupakan sediaan obat tradisional yang telah dibuktikan khasiat 

dan keamanannya yang bahan bakunya berasal dari simplisia atau 

sediaan galenik yang memenuhi persyaratan tertentu. Fitofarmaka 

mensyaratkan adanya uji klinik pada manusia. Bahan baku 

fitofarmaka bisa berasal dari 1 atau lebih simplisia yang masing-masing 

simplisia telah diuji keamanan dan khasiatnya berdasar uji klinis. 

Meningkatnya trend back to nature disebabkan beberapa hal, antara 

lain: ketersediaan bahan obat tradisional yang melimpah, banyaknya 

laporan efek samping penggunaan obat modern, beberapa penyakit 

kronis atau ganas yang gagal pengobatan dengan obat modern dan 

arena meluasnya akses informasi tentang obat tradisional. Badan 

kesehatan dunia WHO juga telah merekomendasikan penggunaan 

obat-obat herbal untuk pemeliharaan kesehatan warga , 

pencegahan penyakit maupun pengobatan penyakit. Jenis penyakit 

yang direkomendasikan penggunaan obat tradisional antara lain 

penyakit degeneratif, penyakit kronis maupun komplenter untuk 

kanker 

Tidak mudah memobilisasi warga  untuk menggunakan 

obat tradisional jika kepercayaan warga  ini  belum tumbuh. 

Beberapa hal yang harus dilakukan para pengembang obat tradisional 

yaitu  meyakinkan para pengguna atau stake holder (dokter) bahwa 

ada bukti nyata (evidence base) tentang manfaat obat tradisional 

dan bukti keamanaannya. Beberapa langkah ini  antara lain: 

meningkatkan kelas obat tradisional dari hanya sekedar jamu 


menjadi kelas fitofarmaka. Hal ini bisa dilakukan dengan serangkaian 

penelitian yang melibatkan uji praklinis maupun uji klinis. 

Keunggulan obat tradisional/obat bahan alam dibanding obat 

modern atara lain: 

1. Adanya banyak senyawa aktif dalam obat bahan alam sehingga 

memicu  efek komplementer/saling melengkapi

2. sebab  banyak senywa aktif, maka memungkinkan obat bahan 

alam memiliki banyak efek farmakologis

3. sebab  sebagain besar obat tardisonal dalam bentuk crude 

extract/ ekstrak kasar maka kandungan senyawa juga relatif 

sedikit tetapi banyak macamnya. Hal ini memicu  jika 

muncul efek samping relatif ringan

Kelemahan obat tradisional:

1. Masih sedikit obat tradisional yang sudah dibuktikan dengan 

penelitian ilmiah dalam bentuk uji klinis

2. Kurangnya standarisasi bahan obat tradisional

3. Resistensi dari para pelaku kesehatan /dokter sebab  belum 

adanya uji klinis tadi


(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 


KONSEP DASAR HIPERTENSI

PENGERTIAN HIPERTENSI

Hipertensi merupakan penyakit yang dapat menyerang siapa saja, 

tanpa memandang usia atau jenis kelamin. Hipertensi juga sering 

disebut sebagai silent killer sebab  merupakan penyakit yang 

mematikan. Faktanya, tekanan darah tinggi tidak secara langsung 

membunuh pasien, tetapi tekanan darah tinggi dapat memicu  

penyakit fatal lainnya dan meningkatkan risiko serangan jantung, 

gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal 

Menurut American Society of Hypertension (ASH) hipertensi 

yaitu  suatu sindrom atau kumpulan gejala kardiovaskuler yang 

progresif sebagai akibat dari kondisi lain yang kompleks dan 

saling berhubungan, WHO menyatakan hipertensi merupakan 

peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 

mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebih besar 95 mmHg, 

(JNC VII) berpendapat hipertensi yaitu  peningkatan tekanan darah 

diatas 140/90 mmHg, sedang  menurut Brunner dan Suddarth 

hipertensi juga diartikan sebagai tekanan darah persisten dimana 

tekanan darahnya diatas 140/90 mmHg. Dari uraian ini  dapat 

disimpulkan bahwa hipertensi merupakan peningkatan tekanan 

darah sistolik yang persisten diatas 140 mmHg sebagai akibat dari

kondisi lain yang kompleks dan saling berhubungan 

KLASIFIKASI HIPERTENSI

Tabel 1 Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC  (Joint National Committe on 

Prevention, Detection, Evaluatin, and Treatment of High Blood 

Pressure).

Kategori Tekanan Darah 

menurut JNC 7

Tekanan Darah Sistol 

(mmHg)

Tekanan Darah Diastol 

(mmHg)

Normal < 120 < 80

Pra-Hipertensi 120 – 139 80-89

Hipertensi:

Tahap 1 140 – 159 90-99

Tahap 2 ≥ 160 ≥ 100

Sumber: (JNC 2003 ,7)

Tabel diatas menyediakan klasifikasi Tekanan Darah untuk orang 

dewasa berusia 18 tahun ke atas. Klasifikasi didasarkan pada rata-rata 

dua atau lebih pembacaan Tekanan Darah yang diukur dengan benar 

pada masing-masing dari dua kali kunjungan atau lebih. Berbeda 

dengan klasifikasi yang disediakan dalam laporan JNC 6, prehipertensi 

kategori baru yang ditunjuk telah ditambahkan, dan hipertensi tahap 

2 dan 3 telah digabungkan. Pasien dengan prehipertensi berisiko 

meningkat untuk perkembangan hipertensi. Mereka yang berada 

dalam rentang Tekanan Darah 130–139/80–89 mmHg berisiko dua 

kali lipat untuk mengembangkan hipertensi seperti mereka yang 

memiliki nilai lebih rendah 

PATOFISIOLOGI HIPERTENSI

Mekanisme terjadinya hipertensi yaitu  melalui terbentuknya 

angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin converting enzyme 

(ACE). ACE memegang peran fisiologis yang sangat penting terutama 

dalam mengatur tekanan darah dalam tubuh. Darah mengandung 


(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 

angiotensinogen yang diproduksi oleh hati. Selanjutnya oleh adanya 

hormon, renin (yang diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi 

angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I 

diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki 

peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aktivitas 

utama 

Aksi pertama yaitu  meningkatkan sekresi hormon antidiuretik 

(ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar 

pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan 

volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin 

yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi 

pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume 

cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan 

dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat 

yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Untuk 

mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan 

dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler 

Aktivitas kedua yaitu  menstimulasi sekresi aldosteron dari 

korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang 

memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan 

ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) 

dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi 

NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume 

cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume 

dan tekanan darah 


GEJALA KLINIS HIPERTENSI

Sebagian besar tanpa disertai gejala yang mencolok dan manifestasi 

klinis timbul sesudah  mengetahui hipertensi bertahun-tahun berupa:

1. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan 

muntah, akibat tekanan darah intrakranium.

2. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina sebab  hipertensi. 

3. Ayunan langkah tidak mantap sebab  kerusakan susunan syaraf.

4. Nokturia sebab  peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi 

glomerolus.

5. Edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler. 

6. Peninggian tekanan darah kadang merupakan satu-satunya gejala, 

terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung. Gejala 

lain yaitu  sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdengung, 

rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunangkunang dan 

pusing.

DIAGNOSIS HIPERTENSI

Evaluasi terhadap diagnose pasien hipertensi perlu dilakukan untuk 

beberapa tujuan: 

1. Mengidentifikasi pemicu  hipertensi.

2. Menilai adanya kerusakan organ target dan penyakit 

kardiovaskuler, beratnya penyakit, serta respon terhadap 

pengobatan. 

3. Mengidentifikasi adanya faktor risiko kardiovaskuler yang lain 

atau penyakit penyerta, yang ikut menentukan prognosis dan 

ikut menentukan panduan pengobatan.

4. Data pasien hipertensi dapat diperoleh dengan cara anamnesis, 

pemeriksaan fisis, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan 

penunjang. Peningkatan tekanan darah sering merupakan satu-


(Teh Herbal Daun Belimbing Wuluh untuk Pencegahan Hipertensi) 

satunya tanda klinis hipertensi primer, sehingga diperlukan 

pengukuran tekanan darah yang akurat. 

5. Anamnesis yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama 

menderitanya, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang berkaitan 

seperti penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskuler dan 

lainnya. Apakah terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, gejala 

yang berkaitan dengan penyakit hipertensi, perubahan aktifitas 

atau kebiasaan (seperti merokok, konsumsi makanan, riwayat 

dan faktor psikososial lingkungan keluarga, pekerjaan, dan lain-

lain). Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan 

darah dua kali atau lebih dengan jarak dua menit, kemudian 

diperiksa ulang dengan kontrolatera.

PENGUKURAN TEKANAN DARAH

Digital sphygmomanometer saat ini merupakan alat yang sering 

digunakan di berbagai sentra kesehatan sebab  dianggap lebih 

mudah digunakan dan tidak membutuhkan keahlian khusus dalam 

aplikasinya. Digital sphygmomanometer memiliki pompa udara yang 

digerakkan oleh microprocessor. Microprocessor akan memompa 

udara secara otomatis ke dalam manset sekitar 20 mmHg di atas 

tekanan sistolik rata-rata (sekitar 120 mmHg), sesudah  microprocessor 

menangkap tekanan telah cukup, secara otomatis knob pada tensimeter 

akan mengendur dan tekanan udara didalam manset akan turun 

secara perlahan. Saat proses pengempesan ini  berlangsung, 

akan muncul gelombang osilometrik yang akan direkam oleh alat. 

Gelombang osilometrik inilah yang dikonversi secara otomatis oleh 

alat sebagai tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, tekanan 

nadi, serta mean arterial pressure (MAP). Titik dimana gelombang 

osilometrik muncul pertama kali akan terbaca sebagai tekanan 

darah sistolik, sedang  titik di mana gelombang osilometrik mulai 


menghilang akan terbaca sebagai tekanan darah diastolic 

FAKTOR RISIKO HIPERTENSI

Faktor pemicu hipertensi dibedakan atas:

1. Faktor yang tidak dapat diubah/dikontrol

a. Umur

Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua 

seseorang semakin besar risiko terserang hipertensi. Umur 

lebih dari 40 tahun mempunyai risiko terkena hipertensi. 

Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi lebih 

besar sehingga prevalensi hipertensi dikalangan usia lanjut 

cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50 

% diatas umur 60 tahun. Arteri kehilangan elastisitasnya atau 

kelenturannya dan tekanan darah seiring bertambahnya usia, 

kebanyakan orang hipertensinya meningkat ketika berumur 

lima puluhan dan enam puluhan 

Hipertensi dialami oleh kelompok umur 31-55 tahun 

dan umumnya berisiko lebih tinggi pada usia lebih dari 

40 tahun. Bahkan kejadian hipertensi lebih tinggi pada 

usia lebih dari 60 tahun. Secara fisiologis, keterkaitan 

usia dengan peningkatan tekanan darah sebab  adanya 

perubahan elastisitas dinding pembuluh darah dari waktu 

ke waktu, proliferasi kolagen, dan deposit kalsium yang 

berhubungan dengan arterosklerosis. Jika hal ini  

diikuti dengan tingginya tekanan darah yang persisten maka 

akan memicu  kekakuan pada arterial sentral 

Dengan bertambahnya umur, risiko terjadinya hipertensi 

meningkat. Peningkatan umur akan memicu  beberapa 

perubahan fisiologis, pada usia lanjut terjadi peningkatan 

resistensi perifer dan aktivitas simpatik. Pengaturan 

tekanan darah yaitu reflex baroreseptor pada usia lanjut 

sensitivitasnya sudah berkurang, sedang  peran ginjal 

juga sudah berkurang dimana aliran darah ginjal dan laju 

filtrasi glomerulus menurun  Meskipun 

hipertensi bisa terjadi pada segala usia, namun paling sering 

dijumpai pada orang berusia 35 tahun atau lebih. Sebenarnya 

wajar bila tekanan darah sedikit meningkat dengan 

bertambahnya umur. Hal ini disebabkan oleh perubahan 

alami pada jantung, pembuluh darah dan hormon. Tetapi 

bila perubahan ini  disertai faktor-faktor lain maka bisa 

memicu terjadinya hipertensi 

b. Jenis Kelamin

Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh 

hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar 

High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL 

yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah 

terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen 

dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada 

usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai 

kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang 

selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan. 

Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen ini  

berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara 

alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-

55 tahun 

c. Genetik

Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan 

memicu  keluarga ini  mempunyai risiko 

menderita hipertensi. Individu dengan orang tua hipertensi 

19BAB III

mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita 

hipertensi daripada individu yang tidak mempunyai keluarga 

dengan riwayat hipertensi. Ada baiknya mulai sekarang 

kita memeriksa riwayat kesehatan keluarga sehingga kita 

dapat melakukan antisipasi dan pencegahan. Ini tidak 

hanya berlaku untuk penyakit hipertensi tetapi juga untuk 

penyakitpenyakit berat lainnya. Bagaimanapun melakukan 

pencegahan dan antisipasi terhadap penyakit jauh lebih 

baik daripada melakukan pengobatan 

2. Faktor yang dapat diubah/dikontrol

a. Kebiasaan Merokok

Nikotin dalam tembakau merupakan pemicu  

meningkatnya tekanan darah segara sesudah  isapan pertama. 

Seperti zat-zat kimia lain dalam asap rokok, nikotin diserap 

oleh pembuluh-pembuluh darah amat kecil didalam paru-

paru dan diedarkan ke aliran darah. Hanya dalam beberapa 

detik nikotin sudah mencapai otak. Otak bereaksi terhadap 

nikotin dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk 

melepas epinefrin (adrenalin). Hormon yang kuat ini akan 

menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung 

untuk bekerja lebih berat sebab  tekanan yang lebih tinggi. 

sesudah  merokok dua batang saja maka baik tekanan sistolik 

maupun diastolik akan meningkat 10 mmHg. Tekanan 

darah akan tetap pada ketinggian ini sampai 30 menit sesudah  

berhenti mengisap rokok. Sementara efek nikotin perlahan-

lahan menghilang, tekanan darah juga akan menurun 

dengan perlahan. Namun pada perokok berat tekanan darah 

akan berada pada level tinggi sepanjang hari 


b. Konsumsi Asin/Garam

Garam memicu  penumpukan cairan dalam tubuh, 

sebab  menarik cairan diluar sel agar tidak keluar, sehingga 

akan meningkatkan volume dan tekanan darah. Pada 

manusia yang mengkonsumsi garam 3 gram atau kurang 

ditemukan tekanan darah rata-rata rendah, sedang  

asupan garam sekitar 7-8 gram tekanan darahnya rata-rata 

lebih tinggi. Konsumsi garam yang dianjurkan tidak lebih 

dari 6 gram/hari setara dengan 110 mmol natrium atau 2400 

mg/hari.

Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization 

(WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam yang 

dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar 

sodium yang direkomendasikan yaitu  tidak lebih dari 100 

mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari. 

Konsumsi natrium yang berlebih memicu  konsentrasi 

natrium didalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk 

menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga 

volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya 

volume cairan ekstraseluler ini  memicu  

meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada 

timbulnya hipertensi 

c. Konsumsi Lemak Jenuh

Kebiasaan konsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan 

peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya 

hipertensi. Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan 

risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan 

tekanan darah. Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama 

lemak dalam makanan yang bersumber dari hewan dan 

peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh secukupnya yang 

berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan makanan lain 


yang bersumber dari tanaman dapat menurunkan tekanan 

darah.

d. Kebiasaan Konsumsi Minum Minuman Beralkohol

Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi. Peminum 

alkohol berat cenderung hipertensi meskipun mekanisme 

timbulnya hipertensi belum diketahui secara pasti. 

Orangorang yang minum alkohol terlalu sering atau yang 

terlalu banyak memiliki tekanan yang lebih tinggi dari pada 

individu yang tidak minum atau minum sedikit. Diperkirakan 

konsumsi alkohol berlebihan menjadi pemicu  sekitar 

5-20% dari semua kasus hipertensi. Mengkonsumsi tiga 

gelas atau lebih minuman berakohol per hari meningkatkan 

risiko mendapat hipertensi sebesar dua kali. Bagaimana 

dan mengapa alkohol meningkatkan tekanan darah belum 

diketahui dengan jelas. Namun sudah menjadi kenyataan 

bahwa dalam jangka panjang, minumminuman beralkohol 

berlebihan akan merusak jantung dan organ-organ lain 


e. Obesitas

Obesitas erat kaitannya dengan kegemaran mengkonsumsi 

makanan yang mengandung tinggi lemak. Obesitas 

meningkatkan risiko terjadinya hipertensi sebab  beberapa 

sebab. Makin besar massa tubuh, makin banyak darah 

yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan 

ke jaringan tubuh. Ini berarti volume darah yang beredar 

melalui pembuluh darah menjadi meningkat sehingga 

memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri. Kelebihan 

berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut jantung 

dan kadar insulin dalam darah. Peningkatan insulin 

memicu  tubuh menahan natrium dan air 

f. Olahraga

Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan 

penyakit tidak menular, sebab  olahraga isotonik dan teratur 

dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan 

tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung 

sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan 

pekerjaan yang lebih berat sebab  adanya kondisi tertentu. 

Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah 

tinggi sebab  bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. 

Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak 

jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja 

lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering 

jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan yang 

mendesak arteri 

Aktivitas fisik yang tinggi dapat mencegah atau 

memperlambat onset tekanan darah tinggi dan menurunkan 

tekanan darah pada pasien Hipertensi. Orang yang rajin 

melakukan olahraga seperti bersepeda, jogging dan aerobik 

secara teratur dapat memperlancar peredaran darah sehingga 

dapat menurunkan tekanan darah. Orang yang kurang aktif 

olahraga pada umumnya cenderung mengalami kegemukan. 

Olahraga juga dapat mengurangi atau mencegah obesitas 

serta mengurangi asupan garamke dalam tubuh. Garam 

akan keluar dri dalam tubuh bersama keringat. Melalui 

olahraga raga yang teratur (aktivitas fisik aerobik selama 

30-45 menit/hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang 

akan mencegah terjadinya hipertensi 

g. Stres

Stres yaitu  tanggapan atau reaksi terhadap berbagai 

tuntutan atau beban atasnya yang bersifat non spesifik 

namun, disamping itu stres dapat juga merupakan faktor 

pencetus, pemicu  sekaligus akibat dari suatu gangguan 

atau penyakit. Faktorfaktor psikososisal cukup mempunyai 

arti bagi terjadinya stres pada diri seseorang. Stres dalam 

kehidupan yaitu  suatu hal yang tidak dapat dihindari 

 Stres dapat meningkatkan 

tekanah darah sewaktu. Hormon adrenalin akan meningkat 

sewaktu kita stres, dan itu bisa mengakibatkan jantung 

memompa darah lebih cepat sehingga tekanan darah pun 

meningkat 

PENCEGAHAN HIPERTENSI 

Terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah 

hipertensi, yaitu:

1. Mengonsumsi makanan sehat.

2. Batasi asupan garam. 

3. Mengurangi konsumsi kafein yang berlebihan.

4. Berhenti merokok

5. Berolahraga secara teratur.

6. Menjaga berat badan.

7. Tidak mengkonsumsi minuman beralkohol

PENGOBATAN DAN HIPERTENSI 

Sebagian pengidap hipertensi harus mengonsumsi obat seumur 

hidup guna mengatur tekanan darah. Namun, jika tekanan darah 

sudah terkendali melalui perubahan gaya hidup, penurunan dosis 

obat atau konsumsinya dapat dihentikan. Perhatikan selalu dosis obat 

yang diberikan dan efek samping yang mungkin terjadi.

Obat-obatan yang umumnya diberikan kepada para pengidap 

hipertensi, antara lain:


1. Obat untuk membuang kelebihan garam dan cairan di tubuh 

melalui urine. Pasalnya, hipertensi membuat pengidapnya rentan 

terhadap kadar garam tinggi dalam tubuh.

2. Obat untuk melebarkan pembuluh darah sehingga tekanan 

darah bisa menurun. Perlu diketahui bahwa hipertensi membuat 

pengidapnya rentan mengalami sumbatan pada pembuluh darah. 

3. Obat yang bekerja untuk memperlambat detak jantung dan 

melebarkan pembuluh darah.

4. Obat penurun tekanan darah yang berfungsi untuk membuat 

dinding pembuluh darah lebih rileks. 

5. Obat penghambat renin untuk menghambat kerja enzim 

yang berfungsi menaikkan tekanan darah. Jika renin bekerja 

berlebihan, tekanan darah akan naik tidak terkendali. 

Selain konsumsi obat-obatan, pengobatan hipertensi juga bisa 

dilakukan melalui terapi relaksasi, misalnya terapi meditasi atau terapi 

yoga. Namun, pengobatan hipertensi tidak akan berjalan lancar jika 

tidak disertai dengan perubahan gaya hidup, seperti menjalani pola 

makan dan hidup sehat, serta olahraga teratur.

Hasil Riset Kesehatan dasar 2018 (Gambar 3.1) menunjukkan 

bahwa hampir 50% penderita hipertensi tidak mengonsumsi obat 

secara rutin dan bahkan tidak mengonsumsi obatnya sama sekali. 

Alasan utama tidak rutin/tidak mengonsumsi obat yaitu  sebab  

merasa sudah sehat 59.8% 


Gambar 3.1. Proporsi Riwayat minum obat dan alasan tidak minum obat 

pada penduduk hipertensi berdasar  diagnosis dokter atau 

minum obat, 2018 

EFEK PEMBERIAN HERBAL TERHADAP 

HIPERTENSI

Pada saat ini warga  mencoba menggunakan bahan alami sebagai 

pengobatan alternatif yang dianggap lebih aman jika dibandingkan 

dengan obat-obatan kimia. Pengobatan tradisional menjadi alternatif 

sebab  tidak memicu  efek samping yang berbahaya sebab  

menggunakan bahan alami dari tumbuh. 

Hasil penelitian yang telah dilakukan pada penderita hipertensi 

di wilayah kerja Puskesmas Kenten Laut dengan judul pengaruh 

pemberian air rebusan seledri terhadap penurunan tekanan darah 

diambil kesimpulan sebagai berikut : Rata-rata penurunan tekanan 

darah sistolik sesudah  diberikan air rebusan seledri yaitu  20,32 mmHg 

dan rata-rata penurunan tekanan darah diastolik sesudah  diberikan air 

rebusan seledri yaitu  7,09 mmHg. Disamping seledri, daun salam 

(Syzygium polyanthum) juga dimungkinkan dapat digunakan untuk 

pengobatan alternatif yang berkhasiat sebagai obat untuk menurunkan 

tekanan darah. Tanaman ini terbukti efektif dalam menyembuhkan 

penyakit, efek samping minimal, serta mudah diperoleh. Daun salam 

memiliki kandungan minyak atsiri, sitrat, eugenol, tannin, flavonoid. 

Kandungan senyawa aktif daun salam yang bermanfaat untuk 


kesehatan yaitu senyawa antioksidan dalam hubungannya dengan 

tekanan darah yang terdiri dari tannin dan flavonoid 



KONSEP DASAR DAUN BELIMBING 

WULUH 

KLASIFIKASI TANAMAN BELIMBING WULUH

Averrhoa bilimbi L. yaitu  tumbuhan obat yang termasuk dalam 

famili Oxalidaceae. Genus Averrhoa dinamai seorang Filsuf Arab, 

dokter dan Ahli Hukum Islam Ibn Rusyd sering dikenal sebagai 

Averroes (1126-98). Averrhoa bilimbi L. berkerabat dekat dengan 

Averrhoa carambola (carambola, starfruit). Averrhoa bilimbi L pada 

dasarnya dibudidayakan untuk tujuan pengobatan di banyak negara 

tropis dan subtropis di dunia. 

29

Gambar 1 Daun Belimbing Wuluh

sumber: (Google.com)

Berikut klasifikasi dari belimbing wuluh (Averrhoa Bilimbi L) 

sebagai berikut :

1. Kingdom  : Plantae (Tumbuhan)

2. Sub Kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

3. Super Divisi : Spermatophyta ( Menghasilkan Biji)

4. Divisi  : Magnoliphyta (Tumbuhan Berbunga)

5. Kelas  : Magnoliopsida (Berkeping Dua/dikotil)

6. Sub Kelas  : Roidae

7. Ordo  : Geraiales

8. Famili  : Oxalidaceae (Suku Belimbing-belimbingan)

9. Genus  : Averhoa

10. Spesies  : Averrhoa Bilimbi L.

Blimbing wuluh yaitu  sejenis pohon kecil yang diperkirakan 

berasal dari kepulauan Maluku (negara kita ), tetapi dari sumber 

lain juga mengatakan buah ini dari Amerika tropis. Buahnya khas 


dan kandungan kimia berupa glukosida, vitamin B, dan vitamin C, 

bunganya berkhasiat untuk antipiretik dan ekspektoran. 

Pohon Belimbing Wuluh bisa tumbuh dengan ketinggian 

mencapai 5-10 m dengan batang yang tidak begitu besar dan 

diameternya hanya sekitar 30 cm. Ditanam sebagai pohon buah, 

kadang tumbuh liar dan di temukan dari dataran rendah sampai 500 

m diatas permukaan laut. Batangnya bergelombang kasar, pendek 

dan cabangnya sedikit. Daunya membentuk kelompok menyirip 

bergantian, panjangnya 30-60 cm dan berkelompok pada akhir 

cabang. Pada setiap daun terdapat 11- 45 pasang daun oval. Bunganya 

kecil, muncul langsung dari batang dengan tangkai bunga berbulu. 

Mahkota bunganya berjumlah lima, warna putih, kuning atau ungu. 

Buah berbentuk elips seperti torpedo dengan panjang 4-10 cm. 

Warnanya hijau ketika muda dengan kelopak yang tersisa menempel 

di ujung. Buah masak berwarna kuning atau pucat. Daging buah 

berair dengan rasa sangat masam hingga manis. Kulit buahnya 

mengkilap dan tipis. Bijinya kecil, datar, coklat, dan di tutupi dengan 

lender.

KANDUNGAN DAUN BELIMBING WULUH

Kandungan yang terdapat pada daun belimbing wuluh yaitu  

alkaloid, glikosida, senyawa fenolik, flavonoid, steroid, terpenoid, 

tanin, saponin, asam-amino, protein, gula reduksi, pati dan 

karbohidrat ditemukan di awal tes fitokimia (Hlaing, 2020). Daun 

belimbing wuluh mengandung zat kalium sitrat yang berfungsi untuk 

melancarkan keluarnya air seni, sehingga dapat menurunkan tekanan 

darah tinggi 

Zat aktif yang bisa di dapat pada daun belimbing wuluh antara 

lain yaitu  saponin dan flavonoid. Saponin berfungsi sebagai 

anti hiperglikemik dengan cara mencegah pengambilan glukosa 

pada brush borderdi usus halus. sedang  flavonoid merupakan 


alfaglukosidase yang berfungsi untuk menunda absorbsi karbohidrat 

sehingga kadar glukosa darah akan menurun 

Pada analisis khasiat gizi, kadar protein (12,28%), kelembaban 

(9,53%), abu (5,93%), lemak (3,34%), serat (21,95%) dan karbohidrat 

(46,97%) diperoleh dari serbuk daun. Data ini menunjukkan bahwa 

daun kaya akan sumber karbohidrat, serat, protein dan rendah lemak. 

Menurut literatur, karbohidrat bisa berfungsi sebagai suplemen 

untuk energi, sebab  berpotensi meningkatkan status kesehatan 

penggunanya. Kandungan seratnya bisa membantu meningkatkan 

fungsi gastrointestinal, mencegah sembelit dan dapat menurunkan 

kandungan kolesterol. Oleh sebab  itu averrhoa bilimbi L. memiliki 

komponen nutrisi yang berharga dan dapat menjadi nutrisi pelengkap 


Skrining fitokimia awal ekstrak daun Averrhoa bilimbi l. 

mengungkapkan adanya alkaloid, tanin, saponin, flavonoid, glikosida 

jantung, glikosida, triterpen, fenol, dan karbohidrat Ekstrak etanol yang telah dimurnikan dari daun belimbing 

wuluh mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi obat 

antihipertensi, sebab  memberikan efek penurunan tekanan darah 

secara signifikan terhadap hewan uji kucing 

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kumar dkk pada tahun 

2011 diketahui kandungan gizi dalam 60 gr bubuk daun belimbing 

wuluh yaitu  sebagai berikut : 

Tabel 4.1 Kandungan Gizi Dalam Daun Belimbing Wuluh 

Zat Gizi Jumlah Satuan

Kadar Kelembaban 94.2-94.7 gram

Kadar Abu 0.31 gram

Protein 0.61 gram

Serat 0.6 gram

Besi (Fe) 11.1 mg

Fosfor 3.4 gram


Kalsium (Ca) 0.40 gram

Kalium (K) 148 mg

Vitamin C 0.30 mg/100g

KANDUNGAN DAUN BELIMBING WULUH 

TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH

1. Kalium 

Kalium berfungsi sebagai diuretik sehingga pengeluaran natrium 

cairan meningkat, jumlah natrium rendah tekanan darah 

menurun 

Kalium merupakan elektrolit intraseluler yang utama, 

sebanyak 98% kalium tubuh berada dalam sel dan 2% sisanya 

untuk fungsi neuromuskuler. Kalium mempengaruhi aktivitas 

baik otot skeletal maupun otot jantung. Kalium berfungsi 

sebagai pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta 

keseimbangan asam basa. Bersama kalsium, kalium berperan 

dalam transmisi saraf dan relaksasi otot. Di dalam sel, kalium 

berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologik, 

terutama dalam metabolisme energi dan sintesis glikogen dan 

protein 

Kandungan kalium sendiri diketahui dapat menurunkan 

tekanan darah dengan mengurangi kandungan natrium dalam 

urine dan air dengan cara yang sama seperti diuretik. Penelitian 

epidemiologi menunjukkan bahwa asupan rendah Kalium akan 

mengakibatkan peningkatan tekanan darah 

Beberapa mekanisme bagaimana kalium dapat menurunkan 

tekanan darah sebagai berikut : Kalium dapat menurunkan 

tekanan darah dengan vasodilatasi sehingga memicu  

penurunan retensi perifer total dan meningkatkan output 

jantung. Penurunan tekanan darah terjadi sebab  kandungan 


kalium yang memicu  penghambatan pada Sistem Renin 

Angiotensin juga memicu  terjadinya penurunan sekresi 

aldosteron, sehingga terjadi penurunan reabsorpsi natrium dan 

air di tubulus ginjal. Akibat dari mekanisme ini , maka 

terjadi peningkatan diuresis yang memicu  berkurangnya 

volume darah, sehingga tekanan darah pun menjadi turun 


2. Kalsium 

Kalsium yaitu  unsur terbanyak penyusun di dalam tubuh 

manusia pada urutan kelima, yakni sebesar 1,5 - 2 % per berat 

tubuh (Sitanggang et al., 2021). Keperluan kalsium dalam 

tubuh biasanya dihitung dengan keseimbangan nitrogen. Orang 

dewasa memerlukan 700 mg (0,7 g) kalsium/hari (Elfariyanti and 

Syahpitri, 2021). Peranan kalsium dalam tubuh manusia pada 

umumnya dapat dibagi 2, yaitu membantu membentuk tulang 

dan gigi dan mengukur proses biologis dalam tubuh. Selain itu 

kalsium juga memegang peranan penting pada berbagai proses 

fisiologik dan biokemik dalam tubuh, seperti pada pembekuan 

darah, eksitabilitas syaraf otot, kerekatan seluler, transmisi 

impuls syaraf, memelihara dan meningkatkan fungsi membran 

sel, mengaktifkan reaksi enzim dan sekresi hormon 

Kalsium juga mempunyai peran terhadap regulasi tekanan 

darah, diantaranya yaitu  menurunkan aktivitas sistem renin-

angiotensin, meningkatkan keseimbangan natrium dan kalium, 

serta menghambat konstriksi pembuluh darah. Jika asupan 

kalsium kurang dari kebutuhan tubuh maka untuk menjaga 

keseimbangan kalsium dalam darah, hormon paratiroid 

menstimulasi pengeluaran kalsium dari tulang dan masuk ke 

darah 


Kalsium menurunkan tekanan darah dengan mekanisme 

seperti kalsium antagonis. Antagonis kalsium yang bekerja 

menurunkan tekanan darah dengan memblokade masukknya 

kalsium ke dalam darah. Sehingga dengan menghambat 

kontraksi otot yang melingkari pembuluh darah, pembuluh 

darah akan melebar sehingga darah mengalir dengan lancar dan 

tekanan darah akan menurun (Misnawati et al., 2021). Kalsium 

yang rendah pemicu  tekanan darah tinggi yang dipicu oleh 

pelepasan hormon paratiroid atau renin yang memicu  

peningkatan kalsium intraseluler pada vascular smooth muscle 

dan memicu vasokontriksi 

3. Vitamin C 

Vitamin C merupakan zat yang sangat dibutuhkan tubuh dalam 

proses metabolisme dan pertumbuhan. Kebutuhan vitamin C 

bagi orang dewasa yaitu  sekitar 60 mg, untuk wanita hamil 

95 mg, anak-anak 45 mg, dan bayi 35 mg, namun sebab  

banyaknya populasi di lingkungan antara lain oleh adanya asap 

kendaraan bermotor dan asap rokok maka penggunaan vitamin 

C perlu ditingkatkan hingga dua kali lipatnya yaitu 120 mg 

Vitamin C merupakan salah satu vitamin yang dapat 

memicu  proses remodelling pada pembuluh darah sehingga 

dapat memicu  vasodilatasi pada pembuluh darah yang 

mengalami vasokontriksi. Vitamin C merupakan water-soluble 

scavenger dari radikal bebas yang kuat, dapat menurunkan 

adhesi monosit terhadap sel endotel, mengurangi inaktivasi 

NO dan merangsang aktivasi eNOS. Penelitian yang dilakukan 

oleh Ardalan di tahun 2014 menunjukkan peningkatan asupan 

buah dan sayur pada subjek yang mengalami hipertensi selama 

6 bulan mengakibatkan peningkatan blood antioxidant capacity 


dan penurunan tekanan darah sistolik maupun diastolik 

Vitamin C merupakan antioksidan memiliki peran pada 

neurotransmiter yang dapat berkontribusi pada aktivitas anti-

hipertensi. Vitamin C yaitu  scavenger radikal bebas yang 

dapat membantu menetralkan beban oksidan. Fungsi vitamin 

C sebagai antioksidan yaitu  dengan mencegah substansi 

mengalami oksidasi dengan cara melakukan donor elektron. 

Mekanisme reduksi kadar vitamin C pada perokok yaitu  akibat 

adanya oksidasi yang berlangsung secara cepat sebab  adanya 

radikal bebas. Vitamin C merupakan salah satu antioksidan 

yang dapat memicu  proses remodelling pada pembuluh 

darah sehingga dapat memicu  vasodilatasi pada pembuluh 

darah yang mengalami vasokontriksi. Vitamin C merupakan 

water-soluble scavenger dari radikal bebas yang kuat, dapat 

menurunkan adhesi monosit terhadap sel endotel, mengurangi 

inaktivasi NO dan merangsang aktivasi eNOS 

4. Saponin

Saponin memiliki khasiat diuretik yang menurunkan volume 

plasma dengan cara mengeluarkan air dan elektrolit terutama 

natrium, sehingga dapat memicu  penurunan cardiac 

output (Asprilia dan Candra,2016).

5. Flavonoid

Flavanoid akan mempengaruhi kerja angiostensin converting 

enzym (ACE). Penghambatan ACE akan menghambat 

perubahan angiostensin I dan angiostensin II, yang memicu  

vasodilatasi sehingga tahanan resistensi periver turun dan dapat 

menurunkan tekanan darah 

Daun belimbing wuluh mengandung kalium yang dapat 

mempengaruhi pengeluaran urin. Kalium berfungsi sebagai diuretik 


sehingga pengeluara natrium cairan meningkat, jumlah natrium 

rendah sehingga tekanan darah menurun 

Kalium menghambat kerja sistem renin angiotensin, yaitu dengan 

menghambat pengeluaran renin sebab  sekresi renin berbanding 

terbalik dengan peningkatan kadar ion kalium di dalam plasma. Renin 

yang seharusnya mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin 

I kemudian angiotensin II yang merupakan vasokonstriktor yang 

sangat kuat. Namun, sebab  adanya blok pada sistem ini, maka 

pembuluh darah akan mengalami vasodilatasi sehingga tekanan 

darah akan menurun. Kalium juga menurukan sekresi aldosteron 

yang dapat memicu  penurunan retensi natrium dan air oleh 

ginjal .

Saponin memiliki khasiat diuretik dengan menurunkan volume 

plasma dengan cara mengeluarkan air dan elektrolit terutama natrium 

sehingga dapat memicu  penurunan cardiac output. Saponin 

menurunkan tekanan darah dengan menghambat poduksi renin di 

dalam ginjal sehingga dapat mencegah terbentuknya angiotensin I 

dari angiotensinogen 

Flavonoid akan mempengaruhi kerja dari Angiotensin Converting 

Enzyme (ACE). Penghambatan ACE akan menginhibisi perubahan 

angiotensin I menjadi angiotensin II yang memicu  vasodilatasi 

sehingga tahanan resistensi perifer turun dan dapat menurunkan 

tekanan darah. Efek lainnya dapat memicu  penurunan sekresi 

aldosterone dan sekresi Anti Diruetic Hormon (ADH) yang dapat 

menurunkan tekanan darah dengan mengurangi retesi air dan garam 

serta absopsi air 

Penelitian yang dilakukan oleh Pontoh (2014) menemukan ada 

pengaruh yang bermakna pemberian rebusan air daun belimbing 

wuluh terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi di Wilayah 

Kerja Puskesmas Bolongsari Surabaya  Penelitian oleh 

Anggrreni, Mail dan Adiesty (2018) menemukan jika ada penurunan 


tekanan darah yang signifikan terhadap pemberian rebusan air 

daun belimbing wuluh pada ibu hamil di kelompok eksperimen 

dibandingkan kelompok kontrol  Penelitian 

Simalandahi dan Yentisukma (2019) menemukan air rebusan daun 

belimbing wuluh memiliki pengaruh terhadap tekanan darah lansia 

yang menderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskemas Andalas 

Padang 

MANFAAT DAUN BELIMBING WULUH 

Daun belimbing wuluh dapat digunakan sebagai obat tradisional 

dalam hal ini menandakan bahwa tanaman ini  berpotensi sifat 

antimikroba (Hlaing, 2020). Daun belimbing wuluh digunakan untuk 

pengobatan demam, gondongan, jerawat, radang rektum dan kencing 

manis, gatal-gatal, bisul, reumatik, sifilis, kolik bilious, batuk rejan, 

hipertensi, dan sakit perut dan maag 

Daun belimbing wuluh (Averrhoa Bilimbi L.) berkhasiat dalam 

menurunkan tekanan darah, hasil penelitian menyebutkan bahwa 

kandungan dari daun belimbing wuluh yang dapat menurunkan 

tekanan darah yaitu  kalium sitrat, saponin dan flavonoid. Air 

rebusan daun belimbing wuluh memiliki pengaruh terhadap tekanan 

darah lansia yang menderita hipertensi. Ekstrak methanol daun 

belimbing wuluh mengandung flavanoid yang memiliki potensi 

sebagai antioksidan yang dapat mengeluarkan zat nitric oxide 

sehingga dapat menurunkan tekanan darah serta menyeimbangkan 

beberapa hormon di dalam tubuh.

Pada penelitian Wijayanti & Safitri, (2018) menemukan bahwa 

daun belimbing wuluh mengandung senyawa aktif di dalam daunnya 

yaitu flavonoid, saponin, tanin, sulfur, asam format, sulfur, kalsium 

oksalat, kalium sitrat dan mampun menurunkan tekanan darah. 

Juga didukung oleh penelitian Simandalahi & Yentisukma, (2019) 

menemukan bahwa air rebusan daun belimbing wuluh memiliki 


pengaruh terhadap tekanan darah lansia yang menderita hipertensi, 

dalam intervensinya memberikan air rebusan daun belimbing wuluh 

dengan intensitas dua kali sehari (150 ml untuk satu kali minum) 

sesudah  makan selama 7 hari berturut-turut. Kemudian pada penalitian 

Insan (2019) memberikan rebusan daun belimbing wuluh selama 7 

hari berturut-turut sebanyak 5g daun segar dengan air 200cc. 

Tanaman belimbing wuluh kerap diteliti sebab  memiliki potensi 

dalam menurunkan tekanan darah penderita hipertensi. Beberapa 

penelitian telah dilakukan oleh Arimina Hartati Pontoh pada tahun 

2014 diketahui air rebusan daun belimbing wuluh dapat menurunkan 

tekanan darah lansia berusia 60-69 tahun sebesar 20 mmHg selama 

7 hari dengan dosis yang diberikan yaitu 250 cc air rebusan daun 

belimbing wuluh (dari 7 lembar daun belimbing wuluh) diberikan 2x 

sehari selama 7 hari berturut-turut. Selain itu ada juga penelitian yang 

dilakukan oleh Simandalahi dan Yenti Sukma pada tahun 2019 yang 

diketahui menurunkan tekanan darah lansia usia 60-74 tahun sebesar 

11 mmHg selama 7 hari yang diberikan rebusan daun belimbing 

wuluh dengan dosis 50 gr daun direbus dalam 300 ml air kemudian 

direduksi hingga 150 ml dan diminum setiap 2x per hari setiap pagi 

dan sore sesudah  makan selama 7 hari berturut-turut.

Antioksidan sangat diperlukan dalam mengatasi dan mencegah 

stress oksidatif. Antioksidan merupakan senyawa yang memiliki 

kemampuan untuk mendonorkan elektron dan bermanfaat dalam 

menghambat proses oksidasi. Antioksidan dapat mencegah dan 

menurunkan tingkat stress oksidatif terutama pada endotel sebab  

antioksidan dapat merangsang produksi nitrit okside yang berperan 

dalam vasolidatasi. 

Terdapat berbagai macam herbal yang biasa digunakan 

warga  dalam mengatasi hipertensi seperti daun salam, daun 

seledri, daun alpukat, dan daun belimbing wuluh.


Tabel 3.1 Aktivitas Antioksidan Daun

Jenis daun IC50 Kategori

Daun belimbing wuluh 16,99 ppm Sangat kuat

Daun salam 19,97 ppm Sangat kuat

Daun alpukat 118,80 ppm Sedang

Daun seledri 189,36 ppm Lemah 

Sumber: (Hasim dkk, 2019)

Pada penelitian Edi et al (2013), daun belimbing wuluh (Averrhoa 

blimbi L.) memiliki kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid, 

diterpen alkohol asiklik, dietilftalat, tanin, sulfur, asam sitrat asam 

format serta kalium sitrat. sedang  pada buah belimbing wuluh 

(Averrhoa blimbi L.) memiliki kandungan kalium sitrat yang 

memiliki efek diuretik sehingga menstimulasi keluarnya natrium 

dan cairan pada tubuh yang dapat membantu mennurunkan tekanan 

darah. Flavonoid pada tanaman belimbing wuluh (Averrhoa blimbi 

L.) memiliki potensi sebagai antioksidan yang dapat membantu 

menurunkan tekanan darah 

Penelitian yang dilakukan di Puskesma Balongsari-Surabaya 

menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap 

pemberian air rebusan daun belimbing wuluh (Averrhoa blimbi L.) 

terhadap tekanan darah (p < 0,005) (Pontoh, 2014). Hal ini didukung 

oleh penelitian Fauzi (2014) yang dilakukan di wilayah kerja 

Puskesmas Sungai Tarab, hasil penelitian menunjukkan sebanyak 12 

subjek penderita hipertensi yang diberikan air rebusan daun belimbing 

wuluh (Averrhoa blimbi L.) memiliki perbedaan tekanan darah yang 

signifikan (p < 0,005). Pada penelitian Simandalahi dan Yentisukma 

(2019) tekanan darah kelompok intervensi sesudah  pemberian air 

rebusan daun belimbing wuluh yaitu sebesar 146.00/88,75 mmHg 

dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu 156.75/93,50 mmHg.


PROSES PEMBUATAN, DAYA TERIMA, 

MASA SIMPAN, DAN ANALISIS GIZI TEH 

HERBAL DAUN BELIMBING WULUH 

TINJAUAN UMUM TENTANG TEH HERBAL 

Minum teh sudah menjadi budaya dikalangan warga  negara kita , 

tidak melihat status sosial maupun ekonominya. Terlihat dari rata-

rata disetiap rumah tangga selalu menyediakan teh di rumahnya 

dan teh menjadi salah satu minuman favorit selain kopi. Hal ini 

disebabkan oleh senyawa-senyawa yang terkandung dalam teh dapat 

memberikan kepuasan kepada penikmatnya sebab  mempunyai 

warna, rasa dan aroma yang khas. Seperti senyawa kafein bersama 

sama dengan polifenol dapat memberikan rasa menyegarkan. 

Selain nikmat untuk diminum, teh juga mempunyai kandungan 

yang sangat bermanfaat untuk kesehatan seperti: kafein, polyphenol, 

catechin, dan minyak essensial. Komponen utama dalam teh yaitu  

catechin yang merupakan senyawa turunan tanin terkondensasi, 

dikenal juga sebagai senyawa polifenol sebab  memiliki banyak 

gugus fungsi hidroksil. Vitamin yang terkadung dalam teh yaitu  

vitamin C, vitamin B, dan vitamin A, diduga sebagian rusak pada 

saat proses pengolahan namun sebagian masih dapat dimanfaatkan 

oleh penikmatnya. Beberapa jenis mineral juga terkandung dalam 

teh, terutama fluorida juga dipercaya dapat memperkuat struktur gigi 

dan tulang. 

Dengan melihat banyaknya peminat teh saat ini di negara kita , 

maka banyak produsen teh baru dengan memproduksi banyak 

pilihan varian baik rasa, aroma maupun kemasan. Penambahan 

aroma dan rasa pada minuman teh dapat diberikan dengan 

penambahan simplisia (bahan Kering) seperti kulit jeruk, buah apel, 

cassiavera, sereh, jahe dan lain-lain. Selain penambahan bahan alami 

ini , aroma juga bisa didapatkan dari penambahaan essence 

food grade yang banyak beredar di pasaran. Untuk varian kemasan, 

para produsen teh mengeluarkan banyak pilihan seperti gelas, kotak, 

kaleng dan botol. Munculnya varian minuman RTD ini merupakan 

strategi pemasaran, sebab  warga  saat ini sangat menggemari 

segala hal yang bersifat instan. Selain sebagai bahan minuman, teh 

juga banyak dimanfaatkan untuk campuran makanan (seperti cake), 

obat-obatan dan kosmetik.

Teh merupakan minuman yang dibuat dengan cara menyeduh 

daun, pucuk daun atau tangkai daun yang dikeringkan dari 

tanaman Camelia sinensis. negara kita  merupakan salah satu negara 

selain sebagai produsen juga merupakan negara eksportir teh pada 

urutan kelima di dunia  berdasar  proses 

pengolahannya, jenis teh dapat dibedakan menjadi empat, yaitu teh 

tanpa fermentasi (teh putih dan teh hijau), teh semi fermentasi (teh 

oolong), serta teh fermentasi (teh hitam) 

1. Teh putih

Teh putih atau white tea merupakan teh dengan proses pengolahan 

paling sederhana, yaitu pelayuan dengan pengeringan. Bahan 

baku bersal dari pucuk dan dua daun di bawahnya 

2. Teh hijau

Secara umum, teh hijau dibedakan menjadi teh hijau panning 

type dan steaming type. Prinsip dasar proses pengolahannya 

yaitu  inaktivasi enzim polifenol oksidase untuk mencegah 

terjadinya oksimatis yang merubah polifenol menjadi senyawa 

oksidasinya berupa teaflavin dan tearubigin. Daun teh yang 

sudah dilayukan, kemudian digulung dan dikeringkan sampai 

kadar air tertentu 

3. Teh oolong

sesudah  sampai di pabrik, daun teh sesegera mungkin dilayukan 

dengan memanfaatkan panas dari sinar matahari sambil 

digulung halus secara manual menggunakan tangan ataupun 

menggunakan mesin. Tujuan penggulungan halus ini yaitu  

untuk mengoksidasi sebagian polifenol yang terdapat dalam daun 

teh. Proses ini dikenal sebagai proses semi oksimatis, kemudian 

dikeringkan 

4. Teh hitam

Dibandingkan teh lainnya teh hitam yaitu  yang paling banyak 

diproduksi. Teh hitam juga memiliki proses yang cukup rumit 

yaitu teh hitam otrodoks dan crushing-tearing-curling (CTC). 

Pada proses pengolahan teh hitam ortodoks, daun teh dilayukan 

selama 14-18 jam. sesudah  layu, daun teh digulung, digiling dan 

dioksimatis selama kurang lebih 1 jam. sedang  pada proses 

CTC, pelayuan selama 8-11 jam dan diikuti dengan proses 

penggilingan yang sangat kuat untuk mengeluarkan cairan sel 

semaksimal mungkin. Selanjutnya proses pengeringan kemudian 

disortasi dan degrading untuk menghasilkan jenis mutu teh 

tertentu 

Teh herbal (tisane/herbal tea) yaitu  sebutan untuk ramuan 

bunga, daun biji, akar atau buah kering untuk membuat minuman 

yang juga disebut teh herbal. Walaupun disebut “teh”, teh herbal 

tidak mengandung daun dari tanaman teh (Camelia sinensis). Teh 

herbal tersedia dalam kemasan kaleng, kantong teh, atau teh herbal 

siap minum dalam kemasan kotak, disesuaikan dengan kebutuhan 

rumah tangga atau industri. Teh herbal juga sering diiklankan sebagai 

minuman kesehatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. 

Kandungan senyawa kimia yang terpenting dalam pucuk segar 

teh yaitu  senyawa polifenol. Kandungan polifenol dalam pucuk 

segar sangat ditentukan oleh jenis/klon tanaman, sehingga klon 

tanaman dapat dipilih dan disesuaikan dengan jenis teh jadi yang 

akan dihasilkan. Seperti jenis/klon tanaman yang mempunyai 

kandungan EGC (epigalocatechin), EGCG (epigalocatechin galat), 

ECG (epicatechin galat) tinggi akan menghasilkan kualitas yang 

bagus bila diolah menjadi teh hitam sebab  mempunyai theaflavin 

dan thearubigin tinggi. Selain polifenol, unsur kimia penting lainnya 

mempengaruhi potensi kualitas daun teh, yaitu polipenol oksidase, 

kafein dan nitrogen/ protein (Scharbert & Hofmann, 2005).

Herbal tea atau teh herbal merupakan salah satu produk 

minuman campuran teh dan tanaman herbal yang memiliki khasiat 

dalam membantu membantu pengobatan suatu penyakit atau sebagai 

penyegar. sedang  Ravikumar, (2018) menyatakan teh herbal 

umumnya campuran dari beberapa bahan yang biasa disebut infusi/

tisane. Infusi/tisane terbuat dari kombinasi daun kering, biji, kayu, 

buah, bunga dan tanaman lain yang memiliki manfaat.

Teh herbal tidak berasal dari tanamanan daun teh yaitu 

Camellia sinenis. Teh herbal dapat dikonsumsi sebagai minuman 

sehat yang praktis tanpa mengganggu rutinitas sehari hari dan 

tetap menjaga kesehatan tubuh. Teh herbal yang dibuat diharapkan 


dapat meningkatkan cita rasa dari tiap bahan yang digunakan tanpa 

mengurangi khasiatnya. 

PEMBUATAN TEH HERBAL DAUN BELIMBING 

WULUH.

Bahan yang digunakan dalam pembuatan teh herbal daun belimbing 

wuluh segar. Bahan daun yang diambil yaitu  daun muda yang 

berwarna hijau. Daun dipetik dengan tangkainya kemudian dicuci 

dengan air yang mengalir. sesudah  itu daun dipisahkan dari tangkainya, 

dipilih daun yang dalam keadaan baik, berwarna hijau dan bersih 

bebas dari hama. sesudah  itu daun ditiriskan dan ditimbang. Daun 

belimbing wuluh disusun pada talang stainless yang telah dibersihkan 

sesudah  itu daun dikeringkan di dalam oven pada suhu 55°C selama 

2 jam (Rizky Pariawan, 2017). sesudah  2 jam daun dikeluarkan dan 

dihancurkan hingga menjadi serbuk. Daun yang telah digiling 

disaring agar ukuran seragam dan memisahkan tulang daun. sesudah  

itu daun ditimbang sebanyak 7gram menggunakan timbangan digital 

dan dikemas.

Adapun cara mengkonsumsi teh herbal daun belimbing wuluh 

diseduh dengan menggunakan 150 ml air panas. Air yang telah 

dipanaskan sebanyak 150 ml dituang ke dalam gelas berisi teh 

herbal daun belimbing wuluh 7 gram. sesudah  itu teh dicelupkan 

dan diamkan selama 2 menit seduhan teh yang t